Pencarian
Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan
: Suatu Pendekatan Objektif
Drama “Wanita yang Diselamatkan”
merupakan drama yang menceritakan tentang perjuangan seseorang untuk terlepas
dari suatu komunitas yang telah mengikatnya. Drama ini merupakan cerminan dari
kondisi masyarakat yang sering terjadi di Indonesia. Drama ini juga menggambarkan
kebimbangan seseorang dalam mencari kebenaran dan menemukan kebahagian hidup.
Arthur S.Nalan mencoba mengungkapkan bagaimana sulitnya seseorang yang ingin
terlepas dari dunia hitam.
Seseorang yang
terlanjur masuk ke dalam dunia pelacuran akan sulit untuk keluar. Dia akan selalu
diawasi oleh germo. Dia akan dihempaskan begitu saja jika terjangkit suatu
penyakit menular ataupun sudah tua dan tidak dapat lagi memuaskan pelanggan.
Bagi pelacur yang masih muda dan cantik akan kesulitan untuk bebas dari kehidupan
tersebut. Sama halnya dengan orang yang
terlanjur masuk ke dalam suatu komunitas gelap dan telah disumpah untuk menjadi
anggota dari komunitas tersebut. Mereka juga tidak akan bisa lepas dari
komunitas itu sekuat apapun caranya. Mereka akan dikejar, disiksa, dan bahkan
dibunuh karena dianggap berkhianat. Drama ini merupakan penggambaran keadaan
nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat untuk lebih berhati-hati
dalam menentukan jalan hidup.
“Wanita yang Diselamatkan”
merupakan
drama yang pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya.
Penggambaran hubungan sebab-akibat dalam masalah telah tergambar dengan jelas.
Masalah terjadi dikarenakan beberapa sebab-sebab yang melatarbelakangi
peristiwa. Contohnya adalah pada adegan ke-6 Juned bersedia disumpah menjadi
anggota Lowo Ireng karena dia ingin membebaskan Jamilah dari tangan germo
dengan dibantu anggota tersebut. Selain itu pada adegan ke-3 Juned melukai
Barjah karena Barjah mengajaknya melakukan hal-hal buruk yang tidak ingin
dilakukannya dan dia ingin bebas dari anggota paguyuban yang telah mengikatnya.
Barjah
: Kau akan menyesal, Jun …. percayalah padaku, tindakan yang kau ambil adalah
suatu kesalahan besar.
Juned
: Aku tidak perduli, Jah … Kesalahan besarku bukan tindakan ini, tapi menjadi anggota
Pangguyuban ini. Itu kesalahan besarku.
Barjah
: Sebentar lagi pasukan Lowo Ireng akan datang mengepung tempat ini, akan mati
sia-sia.
Juned
: Akanku lawan selama aku bisa melawan.
Barjah
: Aku terluka, Jun! Kau tega membiarkan aku kehabisan darah?! Bagaimana kalau
kita cari pertolongan.?!
Juned
: Aku tak akan terbujuk dengan jebakan halusmu, Jah!
Dalam kutipan tersebut
tampak bahwa Juned ingin sekali lepas dari komunitas yang menjeratnya. Dia
merasa menyesal masuk ke dalam kelompok tersebut. Hal itu menjadi penyebab
Juned melakukan pertentangan dan perlawanan. Gejolak jiwa yang berkecamuk pada
diri Juned membuat dia memberanikan diri untuk melawan kelompok lowo ireng. Dia
merasa kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut adalah kegiatan yang salah.
Dia merasa berdosa melakukan hal-hal yang disebut-sebut jihad fisabilillah atau
perang melawan kemaksiatan.
Juned : Kau
benar Ilah. Aku harus keluar dari lingkaran mereka. Sekarang aku sadar, rasanya
janggal harus mengumpulkan dana perjuangan dengan jalan mencuri dan menggarong,
pada awalnya aku kagum dengan mereka, tapi lama kelamaan aku muak, perjuangan
macam apa ini?!
Dari kutipan tersebut
tampak gejolak dalam diri Juned yang menyadari bahwa perbuatannya merupakan
kesalahan. Pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dalam diri Juned merupakan awal
terjadinya pemberontakan yang akhirnya menjadi puncak masalah.
Dalam drama “Wanita
yang Diselamatkan” ini, alur yang digunakan adalah alur campuran. Alur mundur
tampak ketika di rumah jaga polisi hutan Barjah menceritakan kepada Juned
jasa-jasanya dalam mempersatukan Juned dan Jamilah. Dia menceritakan pertemuan
Juned dan Jamilah di tempat pelacuran hingga usaha pembebasan Jamilah yang
dibantu oleh kelompok Lowo Ireng. Alur majunya tampak ketika sambil
bercerita pun kehidupan Juned terus berjalan hingga akhirnya Juned bisa lepas
dari kelompok Lowo Ireng dengan nasib yang tragis.
Dalam alur drama ini terdapat unsur
ketegangan, yaitu pada saat Malim tiba untuk membebaskan Barjah dan dia
menodongkan pistol bersiap untuk menembak Juned. Berbagai pertanyaan yang
muncul dibenak pembaca atau penonton adalah apa Juned akan mati tertembak? Apa
Malim juga akan menembak istri dan anak Juned? Apa Juned berhasil meloloskan
diri? Peristiwa tersebut merupakan peristiwa menegangkan yang membuat pembaca
atau penonton penasaran terhadap nasib Juned.
Dalam drama “Wanita
yang Diselamatkan”, pengarang mampu menggambarkan latar sosial dan latar fisik
dengan cukup baik. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat,
kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa.
Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan,
lokasi, dan waktu. Latar sosial digambarkan pengarang
melalui suasana yang terjadi di dalam cerita. Suasana tersebut dibangun oleh
sikap dan pemikiran tokoh-tokoh dalam menghadapi masalah yang ada. Latar sosial
dalam drama tersebut adalah lingkungan kehidupan pelacuran dan lingkungan di
kelompok Lowo Ireng. Dalam cerita, Malim berusaha membunuh Juned karena
dianggap berkhianat terhadap kelompoknya. Kejadian tersebut merupakan
penggambaran sikap kelompok sosial yang berkeyakinan bahwa penghianat wajib
untuk dilenyapkan. Sikap tersebut merupakan salah satu cerminan latar sosial di
lingkungan kelompok Lowo Ireng.
Latar fisik dari drama “Wanita yang
Diselamatkan” adalah rumah Juned, paguyuban Lowo Ireng, dan rumah jaga polisi
hutan Argagowong.
Tokoh
protagonis utama dalam “Wanita
yang Diselamatkan” adalah Juned,
sedangkan tokoh protagonis bawahannya adalah Jamilah, Umi, Abuy, dan polisi
hutan. Tokoh antagonis utama dalam drama ini adalah Malim. Tokoh-tokoh
antagonis bawahannya adalah Barjah, anggota paguyuban, germo, dan Pak Dulak. Tokoh
bulat dalam drama ini adalah Juned, Jamilah, Umi, dan polisi hutan. Sedangkan
tokoh datarnya adalah Malim, Barjah, Germo, Pak Dulak, anggota paguyuban, dan
Abuy.
Tokoh utama dalam drama
ini adalah Juned. Juned memiliki sifat yang keras, tegas, penyayang keluarga,
dan bertanggung jawab. Jamilah memiliki sifat yang sabar, setia, dan penurut.
Umi memiliki watak yang tegas, bertanggung jawab. Barjah memiliki sifat keras
hati, pembohong, dan pemarah. Malim memiliki sifat yang keras kepala, egois,
tegas, kejam, penghasud. Germo dan pak Dulak memiliki sifat yang licik, tidak
berperasaan, serakah, dan egois.
Amanat dari drama ini
adalah dunia hitam membuat seseorang terkurung dalam kesalahan dan rasa
bersalah. Seseorang yang terlanjur masuk dalam dunia hitam akan sulit untuk
lepas dari jeratannya. Dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan besar untuk bisa
kembali ke jalan yang benar. Pengarang drama ini ingin menyampaikan pesan
kepada pembaca agar seseorang harus menggunakan logika dan perasaannya dalam
menentukan jalan hidupnya. Jangan terlalu gegabah mengambil suatu keputusan
karena hanya akan menyisakan penyesalan.
Setelah menganalisis “Wanita yang Diselamatkan” dengan
pendekatan objektif, ditemukan bahwa tema drama ini adalah pengorbanan dalam
mencari jalan kebenaran. Alur drama ini
adalah alur campuran. Amanat dari
drama ini adalah kita harus menggunakan logika dan
perasaannya dalam mengambil suatu keputusan yang penting agar tidak terjadi
penyesalan di kemudian hari.