Jumat, 18 Mei 2018

KRITIK DRAMA


Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif

Drama “Wanita yang Diselamatkan” merupakan drama yang menceritakan tentang perjuangan seseorang untuk terlepas dari suatu komunitas yang telah mengikatnya. Drama ini merupakan cerminan dari kondisi masyarakat yang sering terjadi di Indonesia. Drama ini juga menggambarkan kebimbangan seseorang dalam mencari kebenaran dan menemukan kebahagian hidup. Arthur S.Nalan mencoba mengungkapkan bagaimana sulitnya seseorang yang ingin terlepas dari dunia hitam.
Seseorang yang terlanjur masuk ke dalam dunia pelacuran akan sulit untuk keluar. Dia akan selalu diawasi oleh germo. Dia akan dihempaskan begitu saja jika terjangkit suatu penyakit menular ataupun sudah tua dan tidak dapat lagi memuaskan pelanggan. Bagi pelacur yang masih muda dan cantik akan kesulitan untuk bebas dari kehidupan tersebut. Sama halnya  dengan orang yang terlanjur masuk ke dalam suatu komunitas gelap dan telah disumpah untuk menjadi anggota dari komunitas tersebut. Mereka juga tidak akan bisa lepas dari komunitas itu sekuat apapun caranya. Mereka akan dikejar, disiksa, dan bahkan dibunuh karena dianggap berkhianat. Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menentukan jalan hidup.
“Wanita yang Diselamatkan” merupakan drama yang pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya. Penggambaran hubungan sebab-akibat dalam masalah telah tergambar dengan jelas. Masalah terjadi dikarenakan beberapa sebab-sebab yang melatarbelakangi peristiwa. Contohnya adalah pada adegan ke-6 Juned bersedia disumpah menjadi anggota Lowo Ireng karena dia ingin membebaskan Jamilah dari tangan germo dengan dibantu anggota tersebut. Selain itu pada adegan ke-3 Juned melukai Barjah karena Barjah mengajaknya melakukan hal-hal buruk yang tidak ingin dilakukannya dan dia ingin bebas dari anggota paguyuban yang telah mengikatnya.
Barjah : Kau akan menyesal, Jun …. percayalah padaku, tindakan yang kau ambil adalah suatu kesalahan besar.
Juned : Aku tidak perduli, Jah … Kesalahan besarku bukan tindakan ini, tapi menjadi anggota Pangguyuban ini. Itu kesalahan besarku.
Barjah : Sebentar lagi pasukan Lowo Ireng akan datang mengepung tempat ini, akan mati sia-sia.
Juned : Akanku lawan selama aku bisa melawan.
Barjah : Aku terluka, Jun! Kau tega membiarkan aku kehabisan darah?! Bagaimana kalau kita cari pertolongan.?!
Juned : Aku tak akan terbujuk dengan jebakan halusmu, Jah!

Dalam kutipan tersebut tampak bahwa Juned ingin sekali lepas dari komunitas yang menjeratnya. Dia merasa menyesal masuk ke dalam kelompok tersebut. Hal itu menjadi penyebab Juned melakukan pertentangan dan perlawanan. Gejolak jiwa yang berkecamuk pada diri Juned membuat dia memberanikan diri untuk melawan kelompok lowo ireng. Dia merasa kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut adalah kegiatan yang salah. Dia merasa berdosa melakukan hal-hal yang disebut-sebut jihad fisabilillah atau perang melawan kemaksiatan.
Juned : Kau benar Ilah. Aku harus keluar dari lingkaran mereka. Sekarang aku sadar, rasanya janggal harus mengumpulkan dana perjuangan dengan jalan mencuri dan menggarong, pada awalnya aku kagum dengan mereka, tapi lama kelamaan aku muak, perjuangan macam apa ini?!

Dari kutipan tersebut tampak gejolak dalam diri Juned yang menyadari bahwa perbuatannya merupakan kesalahan. Pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dalam diri Juned merupakan awal terjadinya pemberontakan yang akhirnya menjadi puncak masalah.
Dalam drama “Wanita yang Diselamatkan” ini, alur yang digunakan adalah alur campuran. Alur mundur tampak ketika di rumah jaga polisi hutan Barjah menceritakan kepada Juned jasa-jasanya dalam mempersatukan Juned dan Jamilah. Dia menceritakan pertemuan Juned dan Jamilah di tempat pelacuran hingga usaha pembebasan Jamilah yang dibantu oleh kelompok Lowo Ireng. Alur majunya tampak ketika sambil bercerita pun kehidupan Juned terus berjalan hingga akhirnya Juned bisa lepas dari kelompok Lowo Ireng dengan nasib yang tragis.
Dalam alur drama ini terdapat unsur ketegangan, yaitu pada saat Malim tiba untuk membebaskan Barjah dan dia menodongkan pistol bersiap untuk menembak Juned. Berbagai pertanyaan yang muncul dibenak pembaca atau penonton adalah apa Juned akan mati tertembak? Apa Malim juga akan menembak istri dan anak Juned? Apa Juned berhasil meloloskan diri? Peristiwa tersebut merupakan peristiwa menegangkan yang membuat pembaca atau penonton penasaran terhadap nasib Juned.
Dalam drama “Wanita yang Diselamatkan”, pengarang mampu menggambarkan latar sosial dan latar fisik dengan cukup baik. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi, dan waktu. Latar sosial digambarkan pengarang melalui suasana yang terjadi di dalam cerita. Suasana tersebut dibangun oleh sikap dan pemikiran tokoh-tokoh dalam menghadapi masalah yang ada. Latar sosial dalam drama tersebut adalah lingkungan kehidupan pelacuran dan lingkungan di kelompok Lowo Ireng. Dalam cerita, Malim berusaha membunuh Juned karena dianggap berkhianat terhadap kelompoknya. Kejadian tersebut merupakan penggambaran sikap kelompok sosial yang berkeyakinan bahwa penghianat wajib untuk dilenyapkan. Sikap tersebut merupakan salah satu cerminan latar sosial di lingkungan kelompok Lowo Ireng.
Latar fisik dari drama “Wanita yang Diselamatkan” adalah rumah Juned, paguyuban Lowo Ireng, dan rumah jaga polisi hutan Argagowong.
            Tokoh protagonis utama dalam Wanita yang Diselamatkan”  adalah Juned, sedangkan tokoh protagonis bawahannya adalah Jamilah, Umi, Abuy, dan polisi hutan. Tokoh antagonis utama dalam drama ini adalah Malim. Tokoh-tokoh antagonis bawahannya adalah Barjah, anggota paguyuban, germo, dan Pak Dulak. Tokoh bulat dalam drama ini adalah Juned, Jamilah, Umi, dan polisi hutan. Sedangkan tokoh datarnya adalah Malim, Barjah, Germo, Pak Dulak, anggota paguyuban, dan Abuy.
Tokoh utama dalam drama ini adalah Juned. Juned memiliki sifat yang keras, tegas, penyayang keluarga, dan bertanggung jawab. Jamilah memiliki sifat yang sabar, setia, dan penurut. Umi memiliki watak yang tegas, bertanggung jawab. Barjah memiliki sifat keras hati, pembohong, dan pemarah. Malim memiliki sifat yang keras kepala, egois, tegas, kejam, penghasud. Germo dan pak Dulak memiliki sifat yang licik, tidak berperasaan, serakah, dan egois.
Amanat dari drama ini adalah dunia hitam membuat seseorang terkurung dalam kesalahan dan rasa bersalah. Seseorang yang terlanjur masuk dalam dunia hitam akan sulit untuk lepas dari jeratannya. Dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan besar untuk bisa kembali ke jalan yang benar. Pengarang drama ini ingin menyampaikan pesan kepada pembaca agar seseorang harus menggunakan logika dan perasaannya dalam menentukan jalan hidupnya. Jangan terlalu gegabah mengambil suatu keputusan karena hanya akan menyisakan penyesalan.
Setelah menganalisis Wanita yang Diselamatkan”  dengan pendekatan objektif, ditemukan bahwa tema drama ini adalah pengorbanan dalam mencari  jalan kebenaran. Alur drama ini adalah alur campuran. Amanat dari drama ini adalah kita harus menggunakan logika dan perasaannya dalam mengambil suatu keputusan yang penting agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.


KRITIK CERPEN RACUN UNTUK TUAN


Perempuan Pribumi sebagai Simbol Ketidakadilan Penjajah Belanda dalam Cerpen Racun untuk Tuan

Didalam Kamus Istilah sastra ,cerpen adalah kisahan yang dominan tentang satu tokoh dalam satu latar dan situasi dramatik. Cerpen memuat penceritaan yang memusatkan kepada satu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen,hanya ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Dengan demikian, cerpen menyuguhkan cerita yang dipadatkan dan digayakan oleh kemampuan imajinasi pengarang atau penulisnya.
Cerpen dapat dijadikan media untuk mengenang sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa cerpen di Indonesia menggunakan latar di masa penjajahan. Salah satunya adalah cerpen Racun untuk Tuan karya M. Iksaka Banu yang dimuat dalam Koran Tempo pada tanggal 27 Februari 2011. M. Iksaka Banu dikenal sebagai seorang cerpenis yang karya-karyanya banyak mengambil latar sejarah. Hal itu menjadi ciri khasnya dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca.
Cerpen yang berjudul Racun untuk Tuan karya M. Iksana Banu menceritakan tentang kehidupan seorang pekerja wanita di zaman penjajahan Belanda. Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana seorang wanita hanya bisa pasrah menerima nasib diperlakukan sesuka hati oleh majikannya yang seorang administratur dari Belanda. Pengarang melukiskan latar cerita itu di Deli, Sumatra Utara. Pengarang berusaha melukiskan bagaimana kekuasaan di masa penjajahan sangat mempengaruhi kehidupan dan sosok wanita pribumi dapat dijadikan simbol sebagai pemuas nafsunya sebagai penghibur di kala penat menerba jiwa.
Pada cerpen ini, pengarang begitu lihai mengolah kata-katanya untuk menggambarkan latar yang ada dalam cerita, sehingga pembaca dapat merasakan suasana yang diciptakan dan mengimajinasikan latar yang ditampilkan. Seperti kutipan di bawah ini.
“Langit Spijkenisse beranjak merah, cuaca dingin berangin. Di seberang sungai, sebuah kincir angin tua berputar perlahan menimbulkan derak berulang yang mencemaskan. “

Dari kutipan tersebut pembaca dapat membayangkan bagaimana suasana negeri Belanda yang digambarkan oleh pengarang dengan kincir angin yang menjadi simbol negara tersebut.
Selain penggambaran latar, pengarang juga mampu menggambarkan
            Pengarang menggambarkan watak tokoh dengan penggambaran secara tidak langsung melaui dialog tokoh dan adegan-adegan yang dilakukan oleh tokoh. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
 “Pagi-pagi buta, seluruh pelosok ruangan sudah rapi dan bersih. Di meja makan terhidang kopi panas kental, lengkap dengan roti panggang, selai, dan telur rebus.”

Dari kutipan tersebut tampak bahwa karakter tokoh itu adalah seorang yang rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Pengarang memang lihai menggambarkan latar yang diinginkan, tetapi penggambaran konflik antar tokoh kurang digambarkan secara jelas. Pengarang hanya menggambarkan konflik batin di tokoh aku tanpa adanya pertentangan dari tokoh lain, sehingga klimaks cerita kurang terbentuk dan cerita terkesan datar. Sebaiknya, pengarang memberikan pertentangan yang lebih kuat antara tokoh aku dan Imah agar dapat menimbulkan emosi di benak pembaca.
Sosok perempuan tertindas yang diwakili oleh Imah juga kurang digambarkan dengan baik oleh pengarang. Pengarang lebih menekankan penggambaran watak pada tokoh aku. Perasaan sedih, kecewa, dan tersakiti pada tokoh Imah tidak digambarkan oleh pengarang. Padahal tokoh Imah adalah korban dari ketidakadilan seorang majikan. Hal ini mungkin terjadi karena pengarang adalah seorang laki-laki, sehingga pengarang kurang mengerti bagaimana perasaan seorang wanita jika diperlakukan seperti itu oleh majikannya. Berbeda halnya ketika cerpen tersebut ditulis oleh seorang wanita. Jika pengarangnya adalah wanita, mungkin saja penggambaraan kekecewaan dan kemarahan wanita yang diperlakukan tidak adil akan tergambar lebih jelas karena sudut pandangnya sama-sama dari seorang wanita.
Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa cerpen Racun untuk Tuan mengangkat nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Indonesia di masa penjajahan Belanda. Pada cerpen tersebut tampak fenomena perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan di zaman penjajahan Belanda. Perempuan cenderung diam dan pasrah menerima nasib yang menimpanya. Kebanyakan perempuan dijadikan simpanan atau hanya pemuas nafsu serdadu Belanda. Penjajah Belanda memanfaatkan wanita pribumi untuk memenuhi dan melayani apa yang dibutuhkan termasuk kebutuhan seks. Dengan memanfaatkan kekuasaan dan kekejamannya, pihak penjajah bisa leluasa melakukan hal-hal yang diinginkan. Tokoh Imah menjadi cerminan bahwa perempuan di masa itu hanya bisa tunduk dan tidak kuasa memberontak apa yang dilakukan majikan Belanda terhadapnya. Walaupun harus memendam luka dan kekecewaan, para perempuan di masa itu hanya bisa diam. Hal itu merupakan salah satu wujud tradisi bahwa perempuan masa itu berada di bawah laki-laki.

KRITIK PUISI


Nilai-Nilai Religius sebagai Potret Keteguhan Hati Sang Penyair dalam Puisi-Puisi Karya Emha Ainun Najib

Agama merupakan suatu keyakinan yang dipilih oleh setiap orang untuk menjadi pegangan hidupnya. Seseorang yang memiliki agama, akan meyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Sebagai wujud kecintaan kepada Tuhan, seseorang akan berusaha menjalankan ajaran agama tersebut dengan tujuan mendapatkan ketentraman hidup baik di dunia maupun di akhirat. Seorang penyair tidak hanya menumpahkan segala kegundahan, kebahagiaan, ataupun permohonannya kepada Tuhan melalui doa, tetapi dia bisa menuangkan segala isi hatinya melaui puisi-puisi yang sangat indah. Rasa cinta kepada Tuhan juga bisa dituangkan ke dalam syair-syair yang bernuansa religius. Puisi dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan isi hati penyair kepada Tuhan, sehingga penyair mendapat kepuasan dan ketenangan batin tersendiri setelah menghasilkan sebuah puisi.
Salah satu penyair yang karya-karyanya kental akan nilai religius adalah Emha Ainun Najib. Puisi-puisinya yang bertema religius mengisyaratkan sindiran-sindiran terhadap fenomena masyarakat saat ini yang semakin menjauh dari Tuhan. Tidak hanya sindiran, tetapi Ainun Najib juga mengekspresikan luapan jiwanya terhadap keagungan Tuhan melalui karya-karyanya yang begitu menakjubkan. Karya-karyanya menggambarkan keteguhan hati Ainun Najib dalam menganut ajaran islam. Ainun Najib begitu lihai menggambarkan sosok Tuhan bagi dirinya dan menggambarkan ajaran-ajaran islam yang tersirat dalam puisinya. Mungkin karena Ainun Najib pernah hidup di lingkungan pesantren, sehingga membuatnya memahami betul ajaran islam. Hal itu menjadi dorongan bagunya untuk menciptakan karya-karya yang bernuansa religius.
Puisi “Begitu Engkau Bersujud” merupakan salah satu puisi yang menggambarkan kebesaran nikmat Tuhan yang diberikan kepada makhlukNya. Ketika membaca puisi ini, saya bisa merasakan bahwa Tuhan sangat mencintai saya. Segala bentuk kebahagian dan kesedihan merupakan kasih sayang yang diberikan Tuhan. Dalam puisi ini, pengarang mengingatkan pembaca agar mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara menjalankan sholat dan menjalankan perintah Allah. Pengarang menggambarkan bahwa mendirikan masjid dapat dilakukan seseorang dengan melakukan sujud dalam sholat. Saya dapat merasakan imajinasi pengarang terhadap keutamaan sholat begitu kuat, sehingga pengarang mampu menyiratkan pesan-pesannya melalui rangkaian kata-kata dalam puisi tersebut. Sebenarnya, kata-kata yang digunakan pengarang adalah kata-kata yang sederhana, tetapi kesederhanaan itu menyiratkan pesan yang sangat mendalam untuk pembaca. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
“Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang”

Kata-kata di atas merupakan kata-kata sederhana yang sering kita dengar, khususnya bagi umat islam. Jika kita cermati makna dari kutipan di atas, maka apa yang ditulis oleh pengarang merupakan suatu kenyataan yang dapat kita rasakan. Masjid bukan hanya bangunan yang memiliki kuba dan diberi nama masjid, tetapi semua bangunan yang sering digunakan sembahyang juga bisa disebut masjid. Masjid hanyalah sebuah simbol yang diberikan manusia. Namun, kekusyukan dan diterimanya sholat hanya Allah yang menentukan. Sholat yang dikerjakan di masjid belum tentu dapat diterima oleh Allah dan sholat yang dikerjakan selain di masjid juga belum tentu ditolak oleh Allah. Semua itu tergantung niat dan kekusyukan orang yang sembahyang. Penyair juga menggambarkan setiap perbuatan baik yang dilakukan karena Allah akan mendapatkan balasan berupa kebaikan. Puisi ini, mengajak kita untuk menjalankan segala perintah Allah agar mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Pengarang mampu melukiskan keagungan sembahyang melalui kata-kata yang sederhana, tetapi dapat dipahami dan tepat kepada sasaran.
Kemampuan memilih kata-kata yang tepat merupakan modal utama seorang penyair dalam menciptakan sebuah karya. Penyair mengalami proses kreatif yang begitu rumit untuk menemukan satu kata yang menurutnya memiliki estetika yang tinggi. Ainun Najib juga merupakan salah satu sastrawan yang lihai memilih kata-kata sebagai penggambaran imajinasinya. Berbagai karyanya banyak yang mengandung unsur-unsur religi. Ainun Najib dikenal sebagai sastrawan yang memiliki pengetahuan agama yang cukup luas. Oleh karena itu, Ainun Najib sering menghasilkan sajak-sajak yang kental nilai-nilai islam. Puisi yang ditulisnya bukan hanya penggambaran imajinasi semata, tetapi puisinya juga dijadikan sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran islam. Hal itu dikarenakan berbagai puisinya memberi pesan kepada pembaca untuk memperbaiki diri dalam berperilaku, mensyukuri nikmat Tuhan, dan mengajak pembaca untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saya merasa takjub dengan puisi-puisi karya Ainun Najib yang kental akan nuansa islam. Membaca puisinya, seolah-olah membuat saya merasa tersindir akan perbuatan yang selama ini saya lakukan. Perbuatan yang dianggap wajar dan sering dilakukan oleh seseorang ternyata merupakan tumpukan dosa. Rasa cinta kepada dunia melebihi cinta kita kepada Tuhan. Hal itu sering kali tidak disadari, tetapi penyair mencoba mengungkapkan kepedihannya terhadap fenomena yang terjadi melalui sajak-sajak yang dibuatnya. Dalam sajak-sajak yang ditulis Ainun Najib menyiratkan bahwa penyair begitu memahami perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, sehingga dia menyindir perilaku tersebut melalui puisi-puisinya.
Puisi yang berupa sindiran terhadap perilaku manusia dapat dilihat pada puisi berjudul “Ditanyakan Kepadanya” dan puisi “Kita Masuki Pasar Riba”. Kedua puisi tersebut menggambarkan perilaku manusia yang melalaikan perintah Tuhan. Puisi “Ditanyakan Kepadanya” mengandung makna-makna tersirat yang sulit dimengerti. Pembaca membutuhkan penalaran yang lebih dalam untuk memaknai puisi tersebut. Hal itu dikarenakan penulis menggunakan banyak perumpamaan untuk menggambarkan suatu kejadian. Jika kita cermati, puisi tersebut mengajak pembaca agar tidak melakukan perbuatan yang disukai padahal perbuatan itu bertentangan dengan ajaran islam. Tuhan telah memberikan pedoman kepada manusia untuk melakukan perbuatan sesuai dengan perintahnya dalam Al-Quran, tetapi kebanyakan manusia mengingkarinya. Ainun Najib sangat lihai memilih kata-kata yang indah, sehingga membuat puisi tersebut menjadi lebih hidup dan maknanya terkesan mendalam. Hal itu dapatdilihat dari kutipan berikut ini.
“Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
........
Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa penyair memilih kata-kata yang maknanya tersirat, sehingga pembaca perlu memikirkan arti puisi tersebut secara lebih dalam. Jika kita cermati, kutipan puisi di atas menggambarkan bahwa banyak masyarakat yang menjadi pemalas. Sikap tersebut tercermin dari perilaku masyarakat yang sering menunda-nunda pekerjaan dan memilih hidup enak tanpa kerja keras. Hal itu menyebabkan pekerjaan menjadi tertunda ataupun terbengkalai, sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi. Para pemimpin di Indonesia digambarkan telah kehilangan keimanannya, sehingga mereka melakukan perbuatan korupsi atau nepotisme untuk mendapatkan suatu kekuasaan untuk kesenanggannya. Dalam puisi “Kita Memasuki Pasar Riba” penyair juga menggambarkan keprihatinannya terhadap perilaku serakah masyarakat. Saat ini, banyak masyarakat yang mengejar nikmat dniawi, sehingga melalaikan Tuhannya. Keserakahan masyarakat mengakibatkat sikap riba telah menjadi hal yang wajar. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginannya.
“Kita masuki pasar riba
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan”

     Kutipan di atas menggambarkan bahwa penyair merasa banyak manusia yang tega menjual dirinya dan Tuhan untuk memperoleh kehidupan yang diinginkannya. Perilaku tersebut tercermin dari sikap manusia yang sering melakukan kecurangan dalam bekerja, mencuri, dan menipu. Mereka tidak ingat bahwa Tuhan tahu apa yang mereka lakukan. Mereka meninggalkan Tuhan demi kepuasan dunia yang tak akan abadi.
Ainun Najib memang sosok penyair yang memiliki keteguhan dalam beragama. Hal itu dibuktikan dengan puisi-puisi yang berisi berbagai pesan untuk mengajak pembaca beribadah. Keteguhan hatinya juga tergambar dalam puisi berjudul “Doa Sehelai Daun Kering”. Dalam puisi ini, penyair mengumpamakan dirinya sebagai sehelai daun kering. Daun kering adalah daun yang tidak berguna dan mudah saja terjatuh jika tertiup angin. Penyair begitu pandai melukiskan kebesaran Tuhan melalui puisi tersebut. Dalam puisi tersebut penyair menggambarkan bahwa dirinya begitu kecil di hadapan Tuhan. Penyair menggambarkan cintanya kepada Tuhan, walaupun dia sebagai daun kering.
“Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu”

Kutipan di atas memiliki pesan yang begitu mendalam. Penyair pandai memilih kata-kata yang membuat puisi tersebut terkesan lebih puitis. Jika kita cermati, puisi tersebut memiliki makna yang mendalam bagi penyair. Penyair benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya dan merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah cukup menandingi kecintaan Allah kepadanya. Oleh karena itu, pengarang mengungkapkan kebesaran Tuhan melalui rangkaian kata-kata indah sebagai wujud kecintaannya kepada Tuhan.
Puisi lain yang menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan adalah puisi “Ikrar”. Dalam puisi ini, menggambarkan janji penyair untuk berusaha berada di jalan Allah. Segala kebahagian dan kesedihan merupakan ujian dari Allah, sehingga penyair menggambarkan Tuhan sebagai penerang langkahnya. Puisi berjudul “Ketika Engkau Bersembahyang” juga merupakan puisi yang menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan. Bedanya, puisi ini lebih menekankan kepada ajakan untuk menegakkan sholat. Pengarang menggambarkan bahwa sholat dapat mengantarkan manusia menuju rumah idaman berupa surga. Sholat merupakan tiang agama yang membuat manusia dapat merasa tenang dan damai.
“Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa sholat dapat menjadikan manusia berhati mulia dan sabar. Puisi tersebut menggambarkan bahwa penyair sangat memiliki ilmu agama yang baik, sehingga dapat menuliskan manfaat sholat melalui kata-kata yang indah. Selain puisi-puisi tersebut, puisi yang berjudul “Tahajjud Cintaku” merupakan puisi yang juga menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan. Dalam puisi tersebut, penyair banyak memuji keagungan Tuhan dengan berbagai pilihan kata yang mudah dipahami oleh pembaca. Penyair juga begitu mengagungkan Tuhan, sehingga menggambarkan Tuhan sebagai kekasihnya. Meskipun kata-katanya sederhana, tetapi kata-kata tersebut dapat menggetarkan hati pembaca. Pembaca dapat membayangkan bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada manusia, tetapi manusia lebih mencintai dunia dari pada Tuhan. Penulis mencoba mengetuk hati para pembaca melalui puisi tersebut.
Puisi-puisi karya Emha Ainun Najib sebagian besar mengandung nilai-nilai religius. Hal itu menunjukkan bahwa Ainun Najib memiliki keteguhan hati yang kuat terhadap keyakinannya, yaitu islam. Karya-karyanya menunjukkan bahwa penyair tahu betul hukum-hukum dalam ajaran islam. Penyair juga pandai dalam menggambarkan kecintaannya kepada Tuhan melalui kata-kata yang dapat menggetarkan hati para pembaca. Berbeda halnya jika puisi-puisi tersebut ditulis oleh pengarang yang tidak memiliki keteguhan hati dalam agamanya, maka tidak akan tercipta puisi yang menyiratkan nilai-nilai religius yang tinggi.





 


KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...