Topeng Idul Fitri
Kau
gadaikan Kekasihmu
demi emas dunia
Kau
gadaikan cahaya akhiratmu
dengan surga dunia
Kau
gadaikan petunjuk hidupmu
demi parodi semu
Investasi
keabadian
hilang...
lenyap...
termakan
api dalam hati
Kini takbir bergema di penjuru dunia
Lantunan bedug tak mampu
memadamkan api yang berkobar
Setiap nyawa bergegas
menghiasi diri dengan kain yang berkilau
Hari
yang fitri laksana pameran busana
Semua
berwarna,
semua
baru
Namun
warna hati mereka tetap memudar
Batin
mereka keruh
Kembalinya Pendosa
Gema
takbir membahana di angkasa
Bulan
seribu pahala
pergi
seketika
Menggoreskan
senyuman
di
bibir para pendosa
Tinta
hitam yang telah pudar
kembali
tebal oleh bisikan setan
lidah
terasah tajam
menusuk
jiwa insan
Inikah
kemenangan yang kau harapkan?
Ramadhan
tak mampu menerangi
Dia
laksana kilat dengan kilau sekejap
Lalu hilang dan kembali
gelap
Pertunjukkan di Rumah Allah
Ingatkah
kau akan hari nan Fitri?
Saat itu
kaki-kaki mengaku terhipnotis
Mencari
arah datangnya gema takbir
Manusia-manusia
hina menyatu layaknya semut dengan wajah sadis
Di rumah Allah
Manusia-manusia
itu membentangkan sajadah
Mereka
berujar “aku memburu pundi-pundi pahala”
Di rumah ini
Di hari fitri nan mulia ini
Benarkah
seorang pemburu pundi pahala?
Tubuhmu...
Terbalut
megah mewah busana indah
Terlalu,
terlalu indah
Jilbabmu....
Memamerkan
leher nan menjuntai kalung permata
Terlalu,
terlalu berharga
Dzikirmu....
Hanyalah
senandung iri lirih
Tatapan
dengki nan bengis pada saudaramu
Jauh
elok dari padamu
Dari
tubuhmu....
Dari
jilbabmu...
Itukah
seorang pemburu pahala?
Atau
hanya....
Seseorang
yang memburu pandangan dari mata-mata kelaparan
Racun Cintamu
Ku sapa indah hadirmu
Kau tawarkanku sekotak emas berlian
Kau taburkanku bunga-bunga indah
dalam taman hatiku
Kata manis nan lembut
kau
ucapkan
Setiap
lantunanmu
Racun untukku
Kau
rangkai manis dalam balutan sutra
Tak
terlintas dalam anganku
Tak muakkah kau dengan topengmu?
Adakah Kau Lihat Batu Menangis?
Hari
Fitri........
Ketika
kedua tangan berpaut
Serta
merta memasung diri dalam ampun
Mereka
menyeruak ya... Tuhanku
Inilah kami yang fitri
Ketika
maaf tersirat dalam kata
Serta
merta merekahkan senyum fana
Mereka
menyeruak ya...Tuhan
Inilah kami...
Manusia-manusia
yang kini tanpa cela
Lihatlah
kami....
Menebar
maaf sepanjang hamparan jalan
Namun,
benarkah itu?
Tidakkah
rekah bibirmu palsu?
Tuluskah
maaf dari lubuk hinamu?
Nyatakah
air pelupuk matamu?
Palsu
Hatimu mati rasa?
Membatu?
Adakah kau lihat batu menangis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar