Kamis, 17 Mei 2018

PUISI SATIRE LEBARAN


Topeng Idul Fitri

Kau gadaikan Kekasihmu
    demi emas dunia
Kau gadaikan cahaya akhiratmu
    dengan surga dunia
Kau gadaikan petunjuk hidupmu
    demi parodi semu
Investasi keabadian
hilang...
lenyap...
termakan api dalam hati
Kini takbir bergema di penjuru dunia
Lantunan bedug tak mampu
memadamkan api yang berkobar
Setiap nyawa bergegas
menghiasi diri dengan kain yang berkilau
Hari yang fitri laksana pameran busana
Semua berwarna,
semua baru
Namun warna hati mereka tetap memudar
Batin mereka keruh





Kembalinya Pendosa

Gema takbir membahana di angkasa
Bulan seribu pahala
pergi seketika
Menggoreskan senyuman
di bibir para pendosa
Tinta hitam yang telah pudar
kembali tebal oleh bisikan setan
lidah terasah tajam
menusuk jiwa insan
Inikah kemenangan yang kau harapkan?
Ramadhan tak mampu menerangi
Dia laksana kilat dengan kilau sekejap
     Lalu hilang  dan kembali
           gelap





Pertunjukkan di Rumah Allah

Ingatkah kau akan hari nan Fitri?
Saat itu kaki-kaki mengaku terhipnotis
Mencari arah datangnya gema takbir
Manusia-manusia hina menyatu layaknya semut dengan wajah sadis
    Di rumah Allah

Manusia-manusia itu membentangkan sajadah
Mereka berujar “aku memburu pundi-pundi pahala”
    Di rumah ini
        Di hari fitri nan mulia ini

Benarkah seorang pemburu pundi pahala?
Tubuhmu...
Terbalut megah mewah busana indah
Terlalu, terlalu indah

Jilbabmu....
Memamerkan leher nan menjuntai kalung permata
Terlalu, terlalu berharga

Dzikirmu....
Hanyalah senandung iri lirih
Tatapan dengki nan bengis pada saudaramu
Jauh elok dari padamu
Dari tubuhmu....
Dari jilbabmu...

Itukah seorang pemburu pahala?
Atau hanya....
Seseorang yang memburu pandangan dari mata-mata kelaparan


Racun Cintamu

Ku sapa indah hadirmu
Kau tawarkanku sekotak emas berlian
Kau taburkanku bunga-bunga indah
dalam taman hatiku
Kata manis nan lembut
      kau ucapkan
Setiap lantunanmu
     Racun untukku
Kau rangkai manis dalam balutan sutra
Tak terlintas dalam anganku
     Tak muakkah kau dengan topengmu?




Adakah Kau Lihat Batu Menangis?

Hari Fitri........

Ketika kedua tangan berpaut
Serta merta memasung diri dalam ampun
Mereka menyeruak ya... Tuhanku
    Inilah kami yang fitri

Ketika maaf tersirat dalam kata
Serta merta merekahkan senyum fana
Mereka menyeruak ya...Tuhan
    Inilah kami...
Manusia-manusia yang kini tanpa cela
    Lihatlah kami....
Menebar maaf sepanjang hamparan jalan

Namun, benarkah itu?
Tidakkah rekah bibirmu palsu?
Tuluskah maaf dari lubuk hinamu?
Nyatakah air pelupuk matamu?

Palsu
   Hatimu mati rasa?
      Membatu?
          Adakah kau lihat batu menangis?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...