Noda
yang Terlanjur Keruh
Masa anak-anak adalah masa penuh canda
tawa. Tak ada kesedihaan, tak ada beban hidup, dan tak ada kegundahan. Hari-harinya
hanya dihabiskan dengan bermain-main sesuka hatinya, bercanda dengan teman,
atau merengek meminta sesuatu kepada orangtuanya. Mereka hanya tau kebahagiaan
itu miliknya. Namun tidak untuk diriku.
Aku merasa kebahagiaan di masa kecilku
hanya berlangsung begitu singkat. Keceriaan yang tergambar dalam angan telah
melebur menjadi buih-buih ketraumaan. Masa kecilku laksana gelas kaca yang
pecah. Walaupun aku berusaha menyatukan pecahan kaca tersebut, tetapi tetap
saja kepingan itu tak mampu menjadi gelas yang utuh. Bahkan tak jarang jariku
ikut tergores hingga darahku terjatuh tetes demi tetes. Sakit. Ya, itulah yang
aku rasakan. Aku tak mampu mengobati sakitnya hati ini. Lukaku teramat dalam,
entah sampai kapan akan bersarang di dalam jiwa.
Di dalam kesendirian, bayang-bayang
gelap itu selalu muncul mencekik pikiranku. Diiringi gemericik suara hujan, aku
menangis terisak di atas tempat tidur. Air mataku membasahi boneka beruang yang
selalu ku peluk ketika aku bersedih. Boneka itu hanya diam mendengarkanku
menangis. Aku teringat kebodohanku yang membuat aku kehilangan hal yang paling
berharga dalam hidupku. Aku benci diriku, aku benci kakak sepupuku.
Mimpi buruk itu berawal ketika aku
berumur 7 tahun. Aku mempunyai 3 orang teman. Satu persatu temanku pergi
meninggalkanku. Mereka pindah mengikuti orangtuanya. Kebersamaan dan keceriaan
hanya menjadi kenangan di hatiku. Aku merasa sendiri dan sepi. Aku hanya
bermain dengan boneka beruang kesayanganku. Berbicara sendiri dengannya, seolah-olah
dia hidup bersamaku. Namun, tetap saja aku merasa bosan. Aku merindukan
sahabat-sahabatku. Aku ingin mempunyai teman yang bisa mengajakku bermain.
Semenjak kepergian teman-temanku, aku
bermain dengan kakak sepupu yang tinggal di samping rumahku. Jarak rumahku
dengannya hanya dibatasi oleh dua rumah. Usianya terpaut 10 tahun di atas
usiaku. Meskipun usianya jauh lebih tua dariku, tetapi dia selalu bisa
membuatku tertawa. Bagiku, dia adalah sosok kakak yang aku inginkan. Dia sayang
kepadaku dan selalu memberi apa yang aku minta. Hampir setiap hari aku bermain
ke rumahnya. Semenjak ada dia, aku tidak merasa kesepian lagi.
Setelah pulang sekolah, aku bergegas
menuju ke rumahnya. Setiap siang, dia hanya sendiri di rumah karena orangtuanya
bekerja sampai sore. Begitu juga denganku. Dia sering mengajakku bermain kartu
atau ular tangga di ruang tamu. Ruang tamunya tidak begitu besar, hanya ada kursi
sudut dan sebuah meja di tengahnya. Di samping kanan ruang tamu terdapat kamar
tidurnya. Ketika sedang bermain, tak jarang kakakku tiba-tiba mencium pipiku.
“Kamu
itu menggemaskan dik,”kata kakakku sambil tersenyum menciumku.
Aku
hanya diam dan tersenyum tak mengerti apa yang dia katakan.
“Kamu
mau coklat nggak?”sambil menyodorkan sebatang coklat silver queen kepadaku.
“Mau
kak,”kataku dengan gembira sambil berusaha mengambil coklat itu dari tangannya.
“Eits..tunggu
dulu! Kakak akan kasih coklat ini asalkan kamu mau menuruti kata kakak.”
“Iya
kak, aku mau. Emangnya aku suruh ngapain?”
“Udah,
pokoknya kamu ikuti aja apa kata kakak. Ayo main ke kamar kakak!” Sambil
menggandengku menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, kakakku menutup
serambu jendelanya dan tidak membiarkan cahaya luar masuk ke dalam kamarnya. Ruangan
itu pun menjadi gelap gulita. Dia juga mengunci rapat pintu kamarnya
seakan-akan dia tak mengizinkan suatu makhluk pun melihat apa yang dia lakukan.
Dia menarik tubuhku ke dalam pangkuannya, kemudian menciumi leher dan pipiku
berulang-ulang. Dia juga melepas celana yang kupakai dan menidurkanku di atas
ranjang yang sempit dan lusuh. Aku tak mengerti apa yang dia lakukan kepadaku.
Aku pun hanya diam dan pasrah mengikuti apa yang dia katakan. Yang ku tahu, aku
akan mendapatkan sebatang coklat setelah aku menuruti apa yang dia mau.
Setelah merasa puas, dia akan memberiku
coklat seperti yang telah dia janjikan. Dia juga berpesan untuk merahasiakan
permaianan yang kita lakukan.
“Dik,
kamu jangan bilang ke siapa-siapa kalau kakak ngajak kamu mainan kayak gini
ya.” Katanya dengan wajah serius.
“Emangnya
kita mainan apa kak? Kenapa nggak boleh cerita-cerita?” tanyaku penasaran.
“Sudahlah
nggak usah banyak tanya! Kalau kamu cerita, nanti kamu dimarahi ibumu dan
dipukuli ayahmu. Kamu nggak mau kan bikin orangtuamu marah? Apa kamu nggak
takut kalau dipukuli?”katanya dengan nada mengancam.
“Iya
kak, aku takut.” Jawabku dengan ketakutan.
“Makanya
kamu harus jaga rahasia, oke!”
“Ya
kak.” Sambil berjalan meninggalkan kamar gelap itu.
Peristiwa itu terus berlanjut,
hingga akhirnya aku tahu apa yang dia lakukan. Aku menyadari bahwa aku hanyalah
budak pemuas nafsunya. Dia memanfaatkan keluguanku untuk mencabik-cabik tubuhku.
Sejak saat itu, aku tak pernah menemuinya bahkan menyapanya. Aku sangat takut sendirian
di saat siang, karena siang telah menorehkan mimpi-mimpi buruk dalam
kehidupanku. Aku takut sendiri di saat siang, karena siang telah merenggut
mahkota terindahku. Peristiwa itu membuatku benci kepadanya. Kebencian
terhadapnya telah berkembang menjadi dendam. Ingin sekali aku mencekiknya
hingga dia tidak bisa bernafas lagi. Aku jijik mengingat perlakuannya. Aku muak
melihat sikap manis yang dibuat-buat olehnya. Kakak yang aku sayangi tega
menghancurkan impianku dan menorehkan luka yang sulit untuk kusembuhkan.
Aku sangat menyesali kebodohanku. Aku
merasa menjadi wanita yang paling tolol dan kotor di dunia ini. Aku benci
dengan apa yang ku lakukan. Aku hanya bisa memendam luka ini sendiri karena aku
takut peristiwa ini akan menyayat hati orangtua yang aku sayangi. Terlebih lagi ibuku mempunyai penyakit
jantung yang bisa saja merenggut nyawanya jika tahu aku telah ternoda. Aku
berusaha menyembunyikan rapat-rapat noda hitam yang telah mengotori lembaran
hidupku. Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai hubungan darah denganku. Aku
tak mau keluargaku hancur karena ini semua. Aku tak tahu kenapa Tuhan menyiksa
hidupku seperti ini. Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Hidup dalam
kepura-puraan seolah-olah aku bahagia. Padahal hati ini tersayat-sayat pisau
hingga pedihnya tak dapat terhapuskan oleh apapun.
Kini, aku tumbuh menjadi wanita yang
sangat pendiam dan tidak mempunyai kepercayaan diri. Aku tidak membenci
laki-laki, tetapi aku selalu merasa takut terhadap laki-laki. Entah mengapa,
aku selalu merasa laki-laki itu mempunyai sisi buruk yang tersembunyi. Dia bisa
jinak bagaikan kucing, tetapi juga bisa buas bagaikan harimau. Jika harimau itu
menemukan mangsanya, dia akan mencengkeram dan mencabik-cabik mangsanya tanpa
ampun. Aku sadar tidak semua laki-laki seperti kakakku. Namun, trauma itu telah
terpatri dalam benakku hingga aku takut merasakan jatuh cinta. Entah sampai
kapan prasangka buruk ini menghantui pikiranku. Aku masih berharap suatu saat
nanti akan ada cinta sejati untukku.
***
Aku terbangun dari mimpi malamku. Ku
usap kedua mataku sambil duduk bersandar pada kaki tempat tidurku hingga nyawa
telah menyatu dengan ragaku. Aku beranjak menuruni tangga dan menuju kamar
mandi mengambil air wudhu. Kusapukan air segar ke muka hingga kurasakan
kesejukan menghilangkan kantuk yang menjalariku. Sajadah yang jarang kubuka,
kini kugelar untuk alas sujudku. Ditemani bias-bias cahaya rembulan, aku
menumpahkan semua gundah, kesal, dan amarah kepada Sang pencipta sambil
berlinang air mata.
“Ya
Allah....Aku ini adalah hambamu yang hina. Aku tak pantas untuk mendapatkan
surga, tetapi aku tak mampu hidup di neraka. Kenapa Kau beri aku cobaan yang
sulit untuk ku lewati? Aku mohon ampun atas semua dosa. Terangilah jalanku. Aku
adalah milikmu. Aku memasrahkan semuanya kepada-Mu. Lakukanlah apa yang ingin Kau
lakukan kepadaku. Namun, Izinkanlah aku merasakan tulusnya dicintai walaupun
hanya sekali. Kabulkanlah doaku Ya Allah. Amin.”
Embun pagi membasahi pucuk-pucuk
dedaunan. Ku buka jendela kamarku dan kurasakan kesejukan menembus kulitku. Aku
duduk di depan jendela mengamati pekaranganku yang dipenuhi bunga-bunga nan
indah. Burung-burung berkicau dengan suka ria meramaikan indahnya pagi. Suasana
ini membuat jiwaku terasa amat damai. Aku bergegas pergi ke sekolah. Dengan
sepeda, aku meluncur melewati keramaian kota dan berhenti di sebuah lampu
merah. Di samping kananku ada seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing
bagiku. Dia melemparkan senyuman manis kepadaku. Aku pun terperanjat dan
langsung memalingkan muka. Ketika lampu hijau, dia menoleh kepadaku.
“Duluan
ya,” katanya sambil tersenyum.
“I...Iya,”
jawabku sambil tergagap heran.
Ini
pertama kalinya ada cowok yang tersenyum manis kepadaku. Sepanjang perjalanan,
aku terus berusaha mengingat siapa orang itu. Namun, sesampainya di sekolah pun
aku tak dapat mengingatnya. Aku berusaha melupakan senyuman itu, tetapi
wajahnya selalu membayangi pikiranku.
Ketika aku berjalan menyusuri lorong
sekolah, aku melihat laki-laki yang kutemui di lampu merah. Dia sedang
berdiskusi dengan sekelompok siswa di masjid sekolahku. Aku baru ingat,
ternyata dia adalah anggota ROHIS SMA. Aku pernah bertemu dengannya ketika dia
memberikan sambutan di acara Israk Mi’raj di sekolahku. Aku berhenti sejenak
dan mengamati dia dibalik dedaunan yang tumbuh di pinggir lorong yang kulewati.
Dia menoleh ke kiri dan tersenyum kepadaku. Aku langsung menundukkan kepala dan
bergegas pergi menyusuri lorong. Saat dia tersenyum, aku merasakan sesuatu yang
aneh menjalari tubuhku. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Aku tak mengerti
apa yang ku rasakan saat ini. Aku segera menepis perasaanku agar tak berkembang
menjadi cinta. Aku merasa terlalu kotor untuk bermimpi dicintai oleh orang
seperti dia. Ketakutanku terhadap laki-laki membuatku bertekad untuk mengubur
mimpi-mimpi semu yang menjalar di pikiranku. Saat ini, perasaanku sudah mati.
Tak ada tempat untuk seorang laki-laki. Entah kapan ketakutanku akan berubah
keberanian.
Aku mengayuh sepedaku menuju rumah.
Hembusan angin membelai rambutku. Suara bising mesin kendaraan terdengar
mengaung-ngaung di telingaku. Aku memarkir sepedaku di depan pekarangan rumah.
Ku ambil kunci dari tas punggungku dan ku buka pintu rumahku. Aku menyandarkan
tubuhku di kursi sofa yang terletak di ruang tamu untuk melepas kelelahan. Ku
nyalakan radio dan ku mulai mendengarkan alunan melodi-melodi indah. Aku tak
menyadari seseorang masuk ke dalam rumahku. Dari arah belakang, dia memelukku
dengan erat. Aku terperanjat dan berusaha menghempaskan cengkeramannya. Namun,
dekapannya terlalu kuat hingga aku kesulitan bergerak.
“Hai
adikku sayang,” sapanya sambil memelukku dengan erat.
“Kau
mau apa kak? Tolong lepaskan aku. Sadarlah! aku ini saudaramu.” Teriakku sambil
ketakutan.
“Nggak!
Aku nggak akan melepaskanmu. Aku menyukaimu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin
melumat habis dirimu,” katanya sambil meraba-raba tubuhku dan menciumi leherku.
“Aku
mohon berhenti kak. Jangan lakukan itu kepadaku lagi. Ku mohon jangan.” Pintaku
dengan bercucuran air mata dan berusaha melepaskan diri darinya.
Dia tak berbelas kasihan sedikit pun
kepadaku. semakin aku berontak, semakin dia berusaha menjatuhkan aku ke sofa
yang ada di samping kananku. Aku terus menjerit dan menangis memintanya
melepaskan tubuhku. Ku lihat sorot matanya menusuk tajam ke dalam mataku
seperti ingin memakanku, mengunyah, dan menelan habis tubuhku hingga aku merasa
sangat ketakutan. Aku berusaha keras menahan tubuhku agar tidak jatuh di atas
sofa, tetapi tenaganya terlalu kuat hingga dia berhasil merebahkan tubuhku di
sofa. Dia berusaha menjelajahi tubuhku dengan nafsu binatangnya. Aku tak tahan
lagi dengan semua ini. Aku tak ingin kebodohanku terulang kembali. Aku
benar-benar sudah lelah. Kesabaranku sudah tak tersisa. Aku meraih vas bunga
yang berada di meja sebelah kiriku dan
kemudian ku pecahkan vas bunga itu di kepalanya. Dia merintih kesakitan dan
menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Dengan berlinang air mata, aku menyaksikan
dia kesakitan sambil memegang kepalanya. Walaupun aku sedih telah menyakitinya,
tetapi aku merasa puas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar