Jumat, 18 Mei 2018

CERPEN


Noda yang Terlanjur Keruh

Masa anak-anak adalah masa penuh canda tawa. Tak ada kesedihaan, tak ada beban hidup, dan tak ada kegundahan. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan bermain-main sesuka hatinya, bercanda dengan teman, atau merengek meminta sesuatu kepada orangtuanya. Mereka hanya tau kebahagiaan itu miliknya. Namun tidak untuk diriku.
Aku merasa kebahagiaan di masa kecilku hanya berlangsung begitu singkat. Keceriaan yang tergambar dalam angan telah melebur menjadi buih-buih ketraumaan. Masa kecilku laksana gelas kaca yang pecah. Walaupun aku berusaha menyatukan pecahan kaca tersebut, tetapi tetap saja kepingan itu tak mampu menjadi gelas yang utuh. Bahkan tak jarang jariku ikut tergores hingga darahku terjatuh tetes demi tetes. Sakit. Ya, itulah yang aku rasakan. Aku tak mampu mengobati sakitnya hati ini. Lukaku teramat dalam, entah sampai kapan akan bersarang di dalam jiwa.
Di dalam kesendirian, bayang-bayang gelap itu selalu muncul mencekik pikiranku. Diiringi gemericik suara hujan, aku menangis terisak di atas tempat tidur. Air mataku membasahi boneka beruang yang selalu ku peluk ketika aku bersedih. Boneka itu hanya diam mendengarkanku menangis. Aku teringat kebodohanku yang membuat aku kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku. Aku benci diriku, aku benci kakak sepupuku.
Mimpi buruk itu berawal ketika aku berumur 7 tahun. Aku mempunyai 3 orang teman. Satu persatu temanku pergi meninggalkanku. Mereka pindah mengikuti orangtuanya. Kebersamaan dan keceriaan hanya menjadi kenangan di hatiku. Aku merasa sendiri dan sepi. Aku hanya bermain dengan boneka beruang kesayanganku. Berbicara sendiri dengannya, seolah-olah dia hidup bersamaku. Namun, tetap saja aku merasa bosan. Aku merindukan sahabat-sahabatku. Aku ingin mempunyai teman yang bisa mengajakku bermain.
Semenjak kepergian teman-temanku, aku bermain dengan kakak sepupu yang tinggal di samping rumahku. Jarak rumahku dengannya hanya dibatasi oleh dua rumah. Usianya terpaut 10 tahun di atas usiaku. Meskipun usianya jauh lebih tua dariku, tetapi dia selalu bisa membuatku tertawa. Bagiku, dia adalah sosok kakak yang aku inginkan. Dia sayang kepadaku dan selalu memberi apa yang aku minta. Hampir setiap hari aku bermain ke rumahnya. Semenjak ada dia, aku tidak merasa kesepian lagi.
Setelah pulang sekolah, aku bergegas menuju ke rumahnya. Setiap siang, dia hanya sendiri di rumah karena orangtuanya bekerja sampai sore. Begitu juga denganku. Dia sering mengajakku bermain kartu atau ular tangga di ruang tamu. Ruang tamunya tidak begitu besar, hanya ada kursi sudut dan sebuah meja di tengahnya. Di samping kanan ruang tamu terdapat kamar tidurnya. Ketika sedang bermain, tak jarang kakakku tiba-tiba mencium pipiku.
“Kamu itu menggemaskan dik,”kata kakakku sambil tersenyum menciumku.
Aku hanya diam dan tersenyum tak mengerti apa yang dia katakan.
“Kamu mau coklat nggak?”sambil menyodorkan sebatang coklat silver queen kepadaku.
“Mau kak,”kataku dengan gembira sambil berusaha mengambil coklat itu dari tangannya.
“Eits..tunggu dulu! Kakak akan kasih coklat ini asalkan kamu mau menuruti kata kakak.”
“Iya kak, aku mau. Emangnya aku suruh ngapain?”
“Udah, pokoknya kamu ikuti aja apa kata kakak. Ayo main ke kamar kakak!” Sambil menggandengku menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, kakakku menutup serambu jendelanya dan tidak membiarkan cahaya luar masuk ke dalam kamarnya. Ruangan itu pun menjadi gelap gulita. Dia juga mengunci rapat pintu kamarnya seakan-akan dia tak mengizinkan suatu makhluk pun melihat apa yang dia lakukan. Dia menarik tubuhku ke dalam pangkuannya, kemudian menciumi leher dan pipiku berulang-ulang. Dia juga melepas celana yang kupakai dan menidurkanku di atas ranjang yang sempit dan lusuh. Aku tak mengerti apa yang dia lakukan kepadaku. Aku pun hanya diam dan pasrah mengikuti apa yang dia katakan. Yang ku tahu, aku akan mendapatkan sebatang coklat setelah aku menuruti apa yang dia mau.
Setelah merasa puas, dia akan memberiku coklat seperti yang telah dia janjikan. Dia juga berpesan untuk merahasiakan permaianan yang kita lakukan.
“Dik, kamu jangan bilang ke siapa-siapa kalau kakak ngajak kamu mainan kayak gini ya.” Katanya dengan wajah serius.
“Emangnya kita mainan apa kak? Kenapa nggak boleh cerita-cerita?” tanyaku penasaran.
“Sudahlah nggak usah banyak tanya! Kalau kamu cerita, nanti kamu dimarahi ibumu dan dipukuli ayahmu. Kamu nggak mau kan bikin orangtuamu marah? Apa kamu nggak takut kalau dipukuli?”katanya dengan nada mengancam.
“Iya kak, aku takut.” Jawabku dengan ketakutan.
“Makanya kamu harus jaga rahasia, oke!”
“Ya kak.” Sambil berjalan meninggalkan kamar gelap itu.
            Peristiwa itu terus berlanjut, hingga akhirnya aku tahu apa yang dia lakukan. Aku menyadari bahwa aku hanyalah budak pemuas nafsunya. Dia memanfaatkan keluguanku untuk mencabik-cabik tubuhku. Sejak saat itu, aku tak pernah menemuinya bahkan menyapanya. Aku sangat takut sendirian di saat siang, karena siang telah menorehkan mimpi-mimpi buruk dalam kehidupanku. Aku takut sendiri di saat siang, karena siang telah merenggut mahkota terindahku. Peristiwa itu membuatku benci kepadanya. Kebencian terhadapnya telah berkembang menjadi dendam. Ingin sekali aku mencekiknya hingga dia tidak bisa bernafas lagi. Aku jijik mengingat perlakuannya. Aku muak melihat sikap manis yang dibuat-buat olehnya. Kakak yang aku sayangi tega menghancurkan impianku dan menorehkan luka yang sulit untuk kusembuhkan.
Aku sangat menyesali kebodohanku. Aku merasa menjadi wanita yang paling tolol dan kotor di dunia ini. Aku benci dengan apa yang ku lakukan. Aku hanya bisa memendam luka ini sendiri karena aku takut peristiwa ini akan menyayat hati orangtua yang aku sayangi.  Terlebih lagi ibuku mempunyai penyakit jantung yang bisa saja merenggut nyawanya jika tahu aku telah ternoda. Aku berusaha menyembunyikan rapat-rapat noda hitam yang telah mengotori lembaran hidupku. Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai hubungan darah denganku. Aku tak mau keluargaku hancur karena ini semua. Aku tak tahu kenapa Tuhan menyiksa hidupku seperti ini. Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Hidup dalam kepura-puraan seolah-olah aku bahagia. Padahal hati ini tersayat-sayat pisau hingga pedihnya tak dapat terhapuskan oleh apapun.
Kini, aku tumbuh menjadi wanita yang sangat pendiam dan tidak mempunyai kepercayaan diri. Aku tidak membenci laki-laki, tetapi aku selalu merasa takut terhadap laki-laki. Entah mengapa, aku selalu merasa laki-laki itu mempunyai sisi buruk yang tersembunyi. Dia bisa jinak bagaikan kucing, tetapi juga bisa buas bagaikan harimau. Jika harimau itu menemukan mangsanya, dia akan mencengkeram dan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun. Aku sadar tidak semua laki-laki seperti kakakku. Namun, trauma itu telah terpatri dalam benakku hingga aku takut merasakan jatuh cinta. Entah sampai kapan prasangka buruk ini menghantui pikiranku. Aku masih berharap suatu saat nanti akan ada cinta sejati untukku.

***
Aku terbangun dari mimpi malamku. Ku usap kedua mataku sambil duduk bersandar pada kaki tempat tidurku hingga nyawa telah menyatu dengan ragaku. Aku beranjak menuruni tangga dan menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Kusapukan air segar ke muka hingga kurasakan kesejukan menghilangkan kantuk yang menjalariku. Sajadah yang jarang kubuka, kini kugelar untuk alas sujudku. Ditemani bias-bias cahaya rembulan, aku menumpahkan semua gundah, kesal, dan amarah kepada Sang pencipta sambil berlinang air mata.
“Ya Allah....Aku ini adalah hambamu yang hina. Aku tak pantas untuk mendapatkan surga, tetapi aku tak mampu hidup di neraka. Kenapa Kau beri aku cobaan yang sulit untuk ku lewati? Aku mohon ampun atas semua dosa. Terangilah jalanku. Aku adalah milikmu. Aku memasrahkan semuanya kepada-Mu. Lakukanlah apa yang ingin Kau lakukan kepadaku. Namun, Izinkanlah aku merasakan tulusnya dicintai walaupun hanya sekali. Kabulkanlah doaku Ya Allah. Amin.”
            Embun pagi membasahi pucuk-pucuk dedaunan. Ku buka jendela kamarku dan kurasakan kesejukan menembus kulitku. Aku duduk di depan jendela mengamati pekaranganku yang dipenuhi bunga-bunga nan indah. Burung-burung berkicau dengan suka ria meramaikan indahnya pagi. Suasana ini membuat jiwaku terasa amat damai. Aku bergegas pergi ke sekolah. Dengan sepeda, aku meluncur melewati keramaian kota dan berhenti di sebuah lampu merah. Di samping kananku ada seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing bagiku. Dia melemparkan senyuman manis kepadaku. Aku pun terperanjat dan langsung memalingkan muka. Ketika lampu hijau, dia menoleh kepadaku.
“Duluan ya,” katanya sambil tersenyum.
“I...Iya,” jawabku sambil tergagap heran.
Ini pertama kalinya ada cowok yang tersenyum manis kepadaku. Sepanjang perjalanan, aku terus berusaha mengingat siapa orang itu. Namun, sesampainya di sekolah pun aku tak dapat mengingatnya. Aku berusaha melupakan senyuman itu, tetapi wajahnya selalu membayangi pikiranku.
Ketika aku berjalan menyusuri lorong sekolah, aku melihat laki-laki yang kutemui di lampu merah. Dia sedang berdiskusi dengan sekelompok siswa di masjid sekolahku. Aku baru ingat, ternyata dia adalah anggota ROHIS SMA. Aku pernah bertemu dengannya ketika dia memberikan sambutan di acara Israk Mi’raj di sekolahku. Aku berhenti sejenak dan mengamati dia dibalik dedaunan yang tumbuh di pinggir lorong yang kulewati. Dia menoleh ke kiri dan tersenyum kepadaku. Aku langsung menundukkan kepala dan bergegas pergi menyusuri lorong. Saat dia tersenyum, aku merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhku. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Aku tak mengerti apa yang ku rasakan saat ini. Aku segera menepis perasaanku agar tak berkembang menjadi cinta. Aku merasa terlalu kotor untuk bermimpi dicintai oleh orang seperti dia. Ketakutanku terhadap laki-laki membuatku bertekad untuk mengubur mimpi-mimpi semu yang menjalar di pikiranku. Saat ini, perasaanku sudah mati. Tak ada tempat untuk seorang laki-laki. Entah kapan ketakutanku akan berubah keberanian.
Aku mengayuh sepedaku menuju rumah. Hembusan angin membelai rambutku. Suara bising mesin kendaraan terdengar mengaung-ngaung di telingaku. Aku memarkir sepedaku di depan pekarangan rumah. Ku ambil kunci dari tas punggungku dan ku buka pintu rumahku. Aku menyandarkan tubuhku di kursi sofa yang terletak di ruang tamu untuk melepas kelelahan. Ku nyalakan radio dan ku mulai mendengarkan alunan melodi-melodi indah. Aku tak menyadari seseorang masuk ke dalam rumahku. Dari arah belakang, dia memelukku dengan erat. Aku terperanjat dan berusaha menghempaskan cengkeramannya. Namun, dekapannya terlalu kuat hingga aku kesulitan bergerak.
“Hai adikku sayang,” sapanya sambil memelukku dengan erat.
“Kau mau apa kak? Tolong lepaskan aku. Sadarlah! aku ini saudaramu.” Teriakku sambil ketakutan.
“Nggak! Aku nggak akan melepaskanmu. Aku menyukaimu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin melumat habis dirimu,” katanya sambil meraba-raba tubuhku dan menciumi leherku.
“Aku mohon berhenti kak. Jangan lakukan itu kepadaku lagi. Ku mohon jangan.” Pintaku dengan bercucuran air mata dan berusaha melepaskan diri darinya.
Dia tak berbelas kasihan sedikit pun kepadaku. semakin aku berontak, semakin dia berusaha menjatuhkan aku ke sofa yang ada di samping kananku. Aku terus menjerit dan menangis memintanya melepaskan tubuhku. Ku lihat sorot matanya menusuk tajam ke dalam mataku seperti ingin memakanku, mengunyah, dan menelan habis tubuhku hingga aku merasa sangat ketakutan. Aku berusaha keras menahan tubuhku agar tidak jatuh di atas sofa, tetapi tenaganya terlalu kuat hingga dia berhasil merebahkan tubuhku di sofa. Dia berusaha menjelajahi tubuhku dengan nafsu binatangnya. Aku tak tahan lagi dengan semua ini. Aku tak ingin kebodohanku terulang kembali. Aku benar-benar sudah lelah. Kesabaranku sudah tak tersisa. Aku meraih vas bunga yang berada di meja sebelah  kiriku dan kemudian ku pecahkan vas bunga itu di kepalanya. Dia merintih kesakitan dan menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Dengan berlinang air mata, aku menyaksikan dia kesakitan sambil memegang kepalanya. Walaupun aku sedih telah menyakitinya, tetapi aku merasa puas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...