Jumat, 18 Mei 2018

ADAPTASI NASKAH DRAMA


Monumen Tanpa Kepala
(Diadaptasi dari Cerpen Monumen Tanpa Kepala Karya Indra Trenggono)

Tokoh :
Sureng             : Penjaga monumen
Pak Bupati      : Bupati
Polisi 1            : Polisi
Polisi 2            : Polisi
Penjual                        : Pemilik warung kopi
Pawarto           : Humas Pemda

Suara sirine mengiringi terbukanya selubung kain kuning yang melekat pada sebuah monumen yang akan diresmikan. Pelan-pelan kain itu tersingkap dihadapan ribuan mata.
Tamu-tamu undangan : “plok..plok...plok..”(bertepuk tangan sambil tersenyum)
Pak Gubernur    : “Selamat Pak Bupati. Akhirnya monumen TKW yang anda rancang telah berdiri. Saya bangga terhadap kerja keras anda.”(tersenyum sambil menjabat tangan Pak Bupati)
Pak Bupati        : “Terimakasih Pak. Semua ini juga berkat dukungan dari Bapak.” (tersenyum bangga)
Kain kuning telah tersingkap dan monumen terlihat jelas.
Tamu-tamu undangan : (berhenti bertepuk tangan dan terkejut) “Di mana kepalanya? Kenapa monumennya tanpa kepala? Siapa yang mengambil kepalanya?” (suasana menjadi gaduh)
Pak Gubernur  : “Apa-apaan ini? Kenapa kepalanya hilang? (terlihat gusar)
Pak Bupati      : “Maafkan saya Pak. Saya kurang waspada mengawasi anak buah saya. Bapak tenang saja. Saya akan segera memerintahkan anak buah saya untuk mengusut kasus ini. Bapak jangan cemas.” (wajah tegang dan cemas)
Pak Gubernur : “Sudahlah! Saya tidak mau tahu. Saya kecewa dengan anda! Anda telah mempermalukan saya dihadapan para tamu dan warga.” (berdiri dari kursi dan meninggalkan tempatnya)
Pak Bupati      : “Sial! Semuanya telah hancur. Siapa yang berani-beraninya mempermalukan saya?” (kecewa)
Istri Bupati      : “Tenang pak. Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja.” (sambil menggosok tengkuk dan dada suaminya)
Pak Bupati      : “Bagaimana bisa tenang? Ini menyangkut karirku dan reputasiku dihadapan Pak Gubernur dan warga. Bisa-bisa karirku hancur gara-gara tindakan konyol ini!”
Istri Bupati      : “Iya saya tahu. Tapi tenangin dulu pikiran Bapak. Jangan marah-marah seperti ini dihadapan para tamu.”
Pak Bupati      : “Siapkan saya pengawal! Suruh mereka menghalau para wartawan. Saya akan pergi dari tempat ini.”
Pawarto           : “Baik Pak.”
Pak Bupati pergi meninggalkan tempat acara menuju mobil dinas dengan dikawal oleh empat orang pengawal.
Wartawan       : “Mengapa kepala monumen bisa hilang pak? Siapa yang mencuri kepala itu? Atas dasar apa kepala monumen itu dicuri Pak?” (memberondong pertanyaan)
Pak Bupati      : “Maaf saya tidak ingin berkomentar.”(sambil terus berjalan dan masuk ke dalam mobil)
Pawarto           : “Mohon kalian tunggu! Secepatnya kami akan mengadakan jumpa pers untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Jangan tergesa-gesa menarik kesimpulan. Tunggu pernyataan resmi dari kami!”
Wartawan       : “Apakah kejadian ini ada unsur-unsur politik pak?”
Pawarto           : “Kami akan segera mengusut tuntas kasus ini.”
Wartawan       : Bagaimana dengan isu manipulasi yang dibuat oleh beberapa kalangan?
Pawarto           : “Ah, itu hanya gosip. Jangan mengambil kesimpulan yang tidak-tidak. Semuanya gosip! Tunggu saja pernyataan resminya!”(dengan wajah cemas menghindari kejaran wartawan dan masuk ke dalam mobil)

Di sebuah warung di pinggiran desa.
Sureng             : “Mbak, pesan kopi satu.”
Penjual            : “Baik Mas. “
Sureng             : “Ini koran kapan Mbak?”
Penjual            : “Koran hari ini Mas. Itu lo beritanya tentang monumen tanpa kepala. Warga disini pada membicarakannya. Kok yo ada yang mencuri kepala monumen. Batu aja kok dicuri. Apa yo laku to mas kalau dijual? Pencuri sekarang itu kok semakin aneh aja yang diambil.
Sureng             : “Pinjam korannya Mbak!”(langsung meraih koran dan membacanya dengan wajah cemas)
Sureng                         :  “Monumen TKW tanpa kepala. Tiga orang dinyatakan menjadi tersangka, mereka adalah Bt, Kt, dan Sr. Bt dan Kt sudah diamankan, sedangkan Sr dinyatakan buron. Berarti Bendot dan Klantung sudah dipenjara. Sekarang hanya aku yang masih bebas. Polisi pasti sedang mencariku. (berkata dalam hati sambil terus menghisap rokok dengan wajah tegang)
Penjual                        : “Tambah kopinya, Mas?”
Sureng             : (terkejut) “I..iya mbak boleh.”
Penjual            : “Kenapa mas? Kok dari tadi saya perhatikan sampean seperti memikirkan sesuatu. Sudahlah mas, urusannya orang atas biar dipikir orang atas saja. Orang kecil seperti kita ini cuma bisa nerima. Nggak akan didengar kalau kita protes. Uang banyak kok dihabisin buat patung itu gimana yo mas? Tahu gini, uange dibagikan ke rakyat miskin saja daripada buat patung yang tak ada kepalanya.
Sureng             : (tersenyum kecut)
Penjual            : “Sampean mau pesan apa lagi mas?”
Sureng             :”Ada obat sakit kepala nggak Mbak? Saya kok tiba-tiba ngrasa pusing.”
Penjual            : “Woalah Mas, kok tiba-tiba sakit itu gimana to? Sebentar yo tak carikan obatnya.(sambil merogoh tas) Nah, ketemu. Ini mas obatnya.”
Sureng             : “Makasih Mbak.” (mengambil obat dan meminumnya) Berapa Mbak semuanya?”
Penjual            : “Lima ribu Mas. Kok sampean tergesa-gesa mau kemana sih Mas?”
Sureng             : “Ada urusan Mbak. Ini uangnya. Makasih ya.”(bergegas pergi meninggalkan warung)

Sureng berjalan di kegelapan malam. Dia merasa semua orang sedang mengawasinya. Berkali-kali dia berganti angkutan umum dan bus untuk mencari tempat yang aman. Dia memutuskan berhenti dipinggir sungai ditemani sinar rembulan yang indah. Sungai yang sepi itu dirasa cocok untuk bersembunyi. Dia menatap rembulan sambil membayangkan kehidupannya.
Sureng             : “Apa yang harus aku lakukan saat ini? semua polisi sedang mengejarku. Bagaimana nasib anak dan istriku di sana?aku sangat merindukannya. Jika aku pulang, polisi pasti sudah menangkapku. Tidak! Aku tak ingin masuk penjara. Aku tak sepenuhnya bersalah. Aku hanya membantu orang-orang menyuarakan aspirasinya. Hanya ini cara agar bisa didengar oleh pemerintah. Hah! Sampai kapan aku terus bersembunyi seperti ini? aku sangat merindukan keluargaku.”(sambil menatap rembulan)
(Di balik semak-semak bersembunyi dua orang polisi yang sedari tadi mengikuti Sureng. Mereka mengintai gerak-gerik Sureng)
Polisi 1              : “Buronan ada di depan mata. Kita akan mendapat banyak hadiah dan penghargaan  jika kita berhasil menangkapnya.”
Polisi 2              : “Benar. Selama dua bulan ini kita berkeliling mencarinya, ternyata dia cuma bersembunyi di pinggir sungai. Kenapa tidak dari dulu saja kita ke sini. Menyusahkan orang saja dia.”
Polisi 1              : Aku tidak sabar menerima penghargaan dari Bupati. Kira-kira kita mendapat hadiah apa ya?”
Polisi 2              : “Mungkin, gaji kita dinaikkan 30% atau pangkat kita dinaikkan. Ha..ha..ha...”(tertawa)
Polisi 1              : “Hustt! Jangan keras-keras!”(menepuk kepala temannya)
Polisi 2              : “Iya. Iya. Aku tahu!” (menjauh dari temannya dan menginjak ranting pohon yang jatuh ditanah.)
(krek...krek...terdengar suara ranting terinjak)
Sureng             : “Suara apa itu? Sepertinya ada orang yang mengikutiku. Siapa di sana?”(mendekati semak-semak)
Polisi 1            : (Menangkap Sureng)
Sureng             : (Menghindari tangkapan Polisi 1 dan mendorongnya)
Polisi 2            :“Ha..ha..ha...akhirnya ketemu juga kau. Cepat serahkan dirimu! (menghampiri Sureng dan hendak menangkapnya)
Sureng             : “Tidak! Aku tidak bersalah! (berlari sekencang-kencangnya)
Polisi               : “Hei! Jangan lari kau! Kalau kau tidak berhenti, aku akan menembakmu! Berhenti Kau!”
Sureng             : “Tidaaak!” (melompat ke sungai)
Polisi 1            : “Keluar kau! Jangan bersembunyi di dalam air! (memompa senjatanya dan mengarahkannya ke sungai)
Polisi 2            : “Hentikan! Jangan kau habiskan pelurumu untuk menembaki sungai! Biarkan saja dia mati sendiri di bawa arus air!”
(Tubuh Sureng tenggelam dan terbawa oleh aliran sungai. Para polisi bergegas pergi meninggalkan tempat kejadian.)
Di kantor Bupati sedang diadakan rapat untuk membahas hilangnya kepala pada monumen.
Bupati               : “Bagaimana perkembangan penyelidikan pencuri kepala monumen? Apa yang namanya Sureng itu sudah tertangkap?”
Pawarto             : “Lapor pak! Tersangka dinyatakan hilang oleh polisi. Dia tenggelam di sungai dan belum ditemukan jasadnya. Mungkin saja sudah mati pak.”
Bupati               : “Kenapa menangkap satu orang saja para polisi tersebut tidak becus? Bagaimana kalau dia ternyata masih hidup? Saya telah mempertaruhkan segalanya demi pembangunan monumen itu. Hancur reputasi saya!”
Pawarto             : “Tapi pak, saya dengar Sureng itu bukan otak utama pencurian kepala monumen. Dia hanya disuruh Pak.”
Bupati              : “Siapa yang menyuruhnya? Apa kalian sudah menemukannya?”
Pawarto             : “Saya kurang tahu pak, tapi menurut penyelidikan saya banyak warga yang menentang pembangunan monumen itu. Mereka menganggap monumen itu hanya menghabiskan uang daerah. Lagi pula tidak semua TKI berhasil di negeri orang. Banyak TKI yang disiksa atau pulang tinggal nama.
Bupati                         : “Apa-apaan mereka itu? Apa mereka tidak berpikir kalau monumen itu akan membuat daerah kita menjadi terkenal? Dasar orang-orang bodoh!”
Pawarto             : “Mungkin saja otak dari pencurian kepala monumen adalah warga kita yang menentang pembangunan ini Pak. Mereka bekerjasama untuk menjatuhkan reputasi Bapak sebagai bentuk protes.”
Bupati               : “Segera selidiki kasus ini dan laporkan kepada polisi. Kamu harus menemukan dalang yang telah mempermalukan saya.”
Pawarto           : “Baik Pak, laksanakan!”

Di tepi sungai kauripan terdampar tubuh Sureng yang terbawa arus air hingga ke tepi. Dia tersadar dan merasakan tubuhnya terasa sakit. Sureng berjalan dan berhenti disebuah pohon di pinggir sungai. Dia menyandarkan tubuhnya di bawah poho dan memandangi aliran sungai itu.
Sureng               : “Aku kira aku sudah mati tenggelam di sungai dan dimakan buaya. Tapi, kenapa aku masih hidup? Pasti Tuhan tak inginkan aku mati dengan cara seperti itu. Aku memang tak bersalah. Aku hanya membantu teman-temanku menyuarakan pendapatnya. Tapi yang kuperoleh malah seperti ini. Memang percuma orang kecil melawan pejabat, ujung-ujungnya pasti kalah. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku sangat rindu keluargaku. Jika aku pulang, para polisi itu akan membunuhku.” (melamun sambil berpikir)
            Setelah beberapa menit kemudian.
Sureng               : “Baiklah, aku akan menyerahkan diriku. Itu lebih baik daripada aku harus hidup sebagai buronan dan selamanya tak bisa bertemu keluargaku.”
Sureng berjalan meninggalkan tempatnya melamun. Dia sudah mantap untuk menyerahkan dirinya. Dia melangkahkan kakinya menuju kantor polisi.
Polisi 1            : “Hei, lihatlah! Bukankah dia Sureng?”
Polisi 2            : “Mana mungkin? Dia kan sudah mati. Pasti kamu berhayal.”
Polisi 1            : “Kau lihat dulu! Sepertinya dia menuju ke sini.”
Polisi 2            : “Mana? Awas kalau kau bohong!” (menoleh ke depan)
Polisi 1              : “ Itu lihat di sana!” (sambil menunjuk orang yang berjalan menuju kantor polisi)
Polisi 2              : “Ayo segera tangkap dia! Bawa borgol dan senjata sebelum dia kabur lagi!”
Polisi 1              : “Baik Pak!” (mengambil borgol dan keluar menangkap Sureng.)
Polisi 2              : “Angkat tangan!” (sambil mengarahkan pistol pada Sureng.)
Polisi 1              : “Berani-beraninya kau kesini! Apa yang kau lakukan? Kau ingin mengacau ya?”
Sureng               : “Tunggu Pak, tunggu. Saya hanya ingin menyerahkan diri tidak berbuat onar.” (sambil mengangkat kedua tangannya.)
Polisi 2              : “Segera tangkap dia!”
Polisi 1              : “Siap Pak!” (menuju Sureng dan memborgol tangan Sureng)

Sureng akhirnya dipenjara. Dia dijatuhi hukuman 5 tahun. Sureng menerima hukuman itu dengan pasrah. Setelah menjalani hukuman selama 5 tahun, dia akhirnya dibebaskan. Dia keluar penjara dengan bahagia. Kini, dia tidak menjadi buronan lagi dan bisa bebas bertemu keluarganya. Sureng berjalan menuju monumen TKI. Dia melihat monumen itu telah memiliki kepala. Sureng menatap kepala monumen itu. Dia melihat wajah monumen itu berubah menjadi wajah Bupati dan tersenyum kepadanya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...