Monumen
Tanpa Kepala
(Diadaptasi
dari Cerpen Monumen Tanpa Kepala Karya Indra Trenggono)
Tokoh
:
Sureng : Penjaga monumen
Pak
Bupati : Bupati
Polisi
1 : Polisi
Polisi
2 : Polisi
Penjual : Pemilik warung kopi
Pawarto : Humas Pemda
Suara
sirine mengiringi terbukanya selubung kain kuning yang melekat pada sebuah
monumen yang akan diresmikan. Pelan-pelan kain itu tersingkap dihadapan ribuan
mata.
Tamu-tamu
undangan : “plok..plok...plok..”(bertepuk tangan sambil tersenyum)
Pak
Gubernur : “Selamat Pak Bupati. Akhirnya
monumen TKW yang anda rancang telah berdiri. Saya bangga terhadap kerja keras
anda.”(tersenyum sambil menjabat tangan Pak Bupati)
Pak
Bupati : “Terimakasih Pak. Semua
ini juga berkat dukungan dari Bapak.” (tersenyum bangga)
Kain
kuning telah tersingkap dan monumen terlihat jelas.
Tamu-tamu
undangan : (berhenti bertepuk tangan dan terkejut) “Di mana kepalanya? Kenapa
monumennya tanpa kepala? Siapa yang mengambil kepalanya?” (suasana menjadi
gaduh)
Pak
Gubernur : “Apa-apaan ini? Kenapa
kepalanya hilang? (terlihat gusar)
Pak
Bupati : “Maafkan saya Pak. Saya
kurang waspada mengawasi anak buah saya. Bapak tenang saja. Saya akan segera
memerintahkan anak buah saya untuk mengusut kasus ini. Bapak jangan cemas.”
(wajah tegang dan cemas)
Pak
Gubernur : “Sudahlah! Saya tidak mau tahu. Saya kecewa dengan anda! Anda telah
mempermalukan saya dihadapan para tamu dan warga.” (berdiri dari kursi dan
meninggalkan tempatnya)
Pak
Bupati : “Sial! Semuanya telah
hancur. Siapa yang berani-beraninya mempermalukan saya?” (kecewa)
Istri
Bupati : “Tenang pak. Jangan terlalu
dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja.” (sambil menggosok tengkuk dan dada
suaminya)
Pak
Bupati : “Bagaimana bisa tenang? Ini
menyangkut karirku dan reputasiku dihadapan Pak Gubernur dan warga. Bisa-bisa
karirku hancur gara-gara tindakan konyol ini!”
Istri
Bupati : “Iya saya tahu. Tapi
tenangin dulu pikiran Bapak. Jangan marah-marah seperti ini dihadapan para
tamu.”
Pak
Bupati : “Siapkan saya pengawal! Suruh
mereka menghalau para wartawan. Saya akan pergi dari tempat ini.”
Pawarto : “Baik Pak.”
Pak
Bupati pergi meninggalkan tempat acara menuju mobil dinas dengan dikawal oleh
empat orang pengawal.
Wartawan : “Mengapa kepala monumen bisa hilang
pak? Siapa yang mencuri kepala itu? Atas dasar apa kepala monumen itu dicuri
Pak?” (memberondong pertanyaan)
Pak
Bupati : “Maaf saya tidak ingin
berkomentar.”(sambil terus berjalan dan masuk ke dalam mobil)
Pawarto : “Mohon kalian tunggu! Secepatnya
kami akan mengadakan jumpa pers untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian.
Jangan tergesa-gesa menarik kesimpulan. Tunggu pernyataan resmi dari kami!”
Wartawan
: “Apakah kejadian ini ada
unsur-unsur politik pak?”
Pawarto : “Kami akan segera mengusut tuntas
kasus ini.”
Wartawan : Bagaimana dengan isu manipulasi yang dibuat
oleh beberapa kalangan?
Pawarto
: “Ah, itu hanya gosip. Jangan
mengambil kesimpulan yang tidak-tidak. Semuanya gosip! Tunggu saja pernyataan
resminya!”(dengan wajah cemas menghindari kejaran wartawan dan masuk ke dalam
mobil)
Di
sebuah warung di pinggiran desa.
Sureng : “Mbak, pesan kopi satu.”
Penjual : “Baik Mas. “
Sureng : “Ini koran kapan Mbak?”
Penjual : “Koran hari ini Mas. Itu lo beritanya
tentang monumen tanpa kepala. Warga disini pada membicarakannya. Kok yo ada
yang mencuri kepala monumen. Batu aja kok dicuri. Apa yo laku to mas kalau
dijual? Pencuri sekarang itu kok semakin aneh aja yang diambil.
Sureng : “Pinjam korannya Mbak!”(langsung
meraih koran dan membacanya dengan wajah cemas)
Sureng : “Monumen TKW tanpa kepala. Tiga orang dinyatakan
menjadi tersangka, mereka adalah Bt, Kt, dan Sr. Bt dan Kt sudah diamankan,
sedangkan Sr dinyatakan buron. Berarti Bendot dan Klantung sudah dipenjara.
Sekarang hanya aku yang masih bebas. Polisi pasti sedang mencariku. (berkata
dalam hati sambil terus menghisap rokok dengan wajah tegang)
Penjual :
“Tambah kopinya, Mas?”
Sureng : (terkejut) “I..iya mbak boleh.”
Penjual : “Kenapa mas? Kok dari tadi saya
perhatikan sampean seperti memikirkan sesuatu. Sudahlah mas, urusannya orang
atas biar dipikir orang atas saja. Orang kecil seperti kita ini cuma bisa
nerima. Nggak akan didengar kalau kita protes. Uang banyak kok dihabisin buat
patung itu gimana yo mas? Tahu gini, uange dibagikan ke rakyat miskin saja
daripada buat patung yang tak ada kepalanya.
Sureng : (tersenyum kecut)
Penjual : “Sampean mau pesan apa lagi mas?”
Sureng :”Ada obat sakit kepala nggak Mbak?
Saya kok tiba-tiba ngrasa pusing.”
Penjual : “Woalah Mas, kok tiba-tiba sakit
itu gimana to? Sebentar yo tak carikan obatnya.(sambil merogoh tas) Nah,
ketemu. Ini mas obatnya.”
Sureng : “Makasih Mbak.” (mengambil obat
dan meminumnya) Berapa Mbak semuanya?”
Penjual : “Lima ribu Mas. Kok sampean
tergesa-gesa mau kemana sih Mas?”
Sureng : “Ada urusan Mbak. Ini uangnya.
Makasih ya.”(bergegas pergi meninggalkan warung)
Sureng
berjalan di kegelapan malam. Dia merasa semua orang sedang mengawasinya. Berkali-kali
dia berganti angkutan umum dan bus untuk mencari tempat yang aman. Dia memutuskan
berhenti dipinggir sungai ditemani sinar rembulan yang indah. Sungai yang sepi
itu dirasa cocok untuk bersembunyi. Dia menatap rembulan sambil membayangkan
kehidupannya.
Sureng : “Apa yang harus aku lakukan saat
ini? semua polisi sedang mengejarku. Bagaimana nasib anak dan istriku di
sana?aku sangat merindukannya. Jika aku pulang, polisi pasti sudah menangkapku.
Tidak! Aku tak ingin masuk penjara. Aku tak sepenuhnya bersalah. Aku hanya
membantu orang-orang menyuarakan aspirasinya. Hanya ini cara agar bisa didengar
oleh pemerintah. Hah! Sampai kapan aku terus bersembunyi seperti ini? aku
sangat merindukan keluargaku.”(sambil menatap rembulan)
(Di
balik semak-semak bersembunyi dua orang polisi yang sedari tadi mengikuti
Sureng. Mereka mengintai gerak-gerik Sureng)
Polisi
1 : “Buronan ada di depan
mata. Kita akan mendapat banyak hadiah dan penghargaan jika kita berhasil menangkapnya.”
Polisi
2 : “Benar. Selama dua bulan
ini kita berkeliling mencarinya, ternyata dia cuma bersembunyi di pinggir
sungai. Kenapa tidak dari dulu saja kita ke sini. Menyusahkan orang saja dia.”
Polisi
1 : Aku tidak sabar menerima
penghargaan dari Bupati. Kira-kira kita mendapat hadiah apa ya?”
Polisi
2 : “Mungkin, gaji kita
dinaikkan 30% atau pangkat kita dinaikkan. Ha..ha..ha...”(tertawa)
Polisi
1 : “Hustt! Jangan
keras-keras!”(menepuk kepala temannya)
Polisi
2 : “Iya. Iya. Aku tahu!”
(menjauh dari temannya dan menginjak ranting pohon yang jatuh ditanah.)
(krek...krek...terdengar
suara ranting terinjak)
Sureng : “Suara apa itu? Sepertinya ada
orang yang mengikutiku. Siapa di sana?”(mendekati semak-semak)
Polisi
1 : (Menangkap Sureng)
Sureng : (Menghindari tangkapan Polisi 1
dan mendorongnya)
Polisi
2 :“Ha..ha..ha...akhirnya
ketemu juga kau. Cepat serahkan dirimu! (menghampiri Sureng dan hendak
menangkapnya)
Sureng : “Tidak! Aku tidak bersalah!
(berlari sekencang-kencangnya)
Polisi : “Hei! Jangan lari kau! Kalau
kau tidak berhenti, aku akan menembakmu! Berhenti Kau!”
Sureng : “Tidaaak!” (melompat ke sungai)
Polisi
1 : “Keluar kau! Jangan
bersembunyi di dalam air! (memompa senjatanya dan mengarahkannya ke sungai)
Polisi
2 : “Hentikan! Jangan kau
habiskan pelurumu untuk menembaki sungai! Biarkan saja dia mati sendiri di bawa
arus air!”
(Tubuh
Sureng tenggelam dan terbawa oleh aliran sungai. Para polisi bergegas pergi
meninggalkan tempat kejadian.)
Di
kantor Bupati sedang diadakan rapat untuk membahas hilangnya kepala pada
monumen.
Bupati : “Bagaimana perkembangan
penyelidikan pencuri kepala monumen? Apa yang namanya Sureng itu sudah
tertangkap?”
Pawarto : “Lapor pak! Tersangka dinyatakan
hilang oleh polisi. Dia tenggelam di sungai dan belum ditemukan jasadnya.
Mungkin saja sudah mati pak.”
Bupati : “Kenapa menangkap satu orang
saja para polisi tersebut tidak becus? Bagaimana kalau dia ternyata masih
hidup? Saya telah mempertaruhkan segalanya demi pembangunan monumen itu. Hancur
reputasi saya!”
Pawarto : “Tapi pak, saya dengar Sureng itu
bukan otak utama pencurian kepala monumen. Dia hanya disuruh Pak.”
Bupati :
“Siapa yang menyuruhnya? Apa kalian sudah menemukannya?”
Pawarto : “Saya kurang tahu pak, tapi menurut
penyelidikan saya banyak warga yang menentang pembangunan monumen itu. Mereka
menganggap monumen itu hanya menghabiskan uang daerah. Lagi pula tidak semua
TKI berhasil di negeri orang. Banyak TKI yang disiksa atau pulang tinggal nama.
Bupati :
“Apa-apaan mereka itu? Apa mereka tidak berpikir kalau monumen itu akan membuat
daerah kita menjadi terkenal? Dasar orang-orang bodoh!”
Pawarto : “Mungkin saja otak dari pencurian
kepala monumen adalah warga kita yang menentang pembangunan ini Pak. Mereka bekerjasama
untuk menjatuhkan reputasi Bapak sebagai bentuk protes.”
Bupati : “Segera selidiki kasus ini dan
laporkan kepada polisi. Kamu harus menemukan dalang yang telah mempermalukan
saya.”
Pawarto :
“Baik Pak, laksanakan!”
Di
tepi sungai kauripan terdampar tubuh Sureng yang terbawa arus air hingga ke
tepi. Dia tersadar dan merasakan tubuhnya terasa sakit. Sureng berjalan dan
berhenti disebuah pohon di pinggir sungai. Dia menyandarkan tubuhnya di bawah
poho dan memandangi aliran sungai itu.
Sureng : “Aku kira aku sudah mati
tenggelam di sungai dan dimakan buaya. Tapi, kenapa aku masih hidup? Pasti
Tuhan tak inginkan aku mati dengan cara seperti itu. Aku memang tak bersalah.
Aku hanya membantu teman-temanku menyuarakan pendapatnya. Tapi yang kuperoleh
malah seperti ini. Memang percuma orang kecil melawan pejabat, ujung-ujungnya
pasti kalah. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku sangat rindu keluargaku.
Jika aku pulang, para polisi itu akan membunuhku.” (melamun sambil berpikir)
Setelah beberapa menit kemudian.
Sureng : “Baiklah, aku akan menyerahkan
diriku. Itu lebih baik daripada aku harus hidup sebagai buronan dan selamanya
tak bisa bertemu keluargaku.”
Sureng
berjalan meninggalkan tempatnya melamun. Dia sudah mantap untuk menyerahkan
dirinya. Dia melangkahkan kakinya menuju kantor polisi.
Polisi
1 : “Hei, lihatlah! Bukankah
dia Sureng?”
Polisi
2 : “Mana mungkin? Dia kan
sudah mati. Pasti kamu berhayal.”
Polisi
1 : “Kau lihat dulu! Sepertinya
dia menuju ke sini.”
Polisi
2 : “Mana? Awas kalau kau
bohong!” (menoleh ke depan)
Polisi
1 : “ Itu lihat di sana!”
(sambil menunjuk orang yang berjalan menuju kantor polisi)
Polisi
2 : “Ayo segera tangkap dia!
Bawa borgol dan senjata sebelum dia kabur lagi!”
Polisi
1 : “Baik Pak!” (mengambil
borgol dan keluar menangkap Sureng.)
Polisi
2 : “Angkat tangan!” (sambil
mengarahkan pistol pada Sureng.)
Polisi
1 : “Berani-beraninya kau
kesini! Apa yang kau lakukan? Kau ingin mengacau ya?”
Sureng : “Tunggu Pak, tunggu. Saya hanya
ingin menyerahkan diri tidak berbuat onar.” (sambil mengangkat kedua
tangannya.)
Polisi
2 : “Segera tangkap dia!”
Polisi
1 : “Siap Pak!” (menuju
Sureng dan memborgol tangan Sureng)
Sureng
akhirnya dipenjara. Dia dijatuhi hukuman 5 tahun. Sureng menerima hukuman itu
dengan pasrah. Setelah menjalani hukuman selama 5 tahun, dia akhirnya
dibebaskan. Dia keluar penjara dengan bahagia. Kini, dia tidak menjadi buronan
lagi dan bisa bebas bertemu keluarganya. Sureng berjalan menuju monumen TKI.
Dia melihat monumen itu telah memiliki kepala. Sureng menatap kepala monumen
itu. Dia melihat wajah monumen itu berubah menjadi wajah Bupati dan tersenyum
kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar