Perempuan
Pribumi sebagai Simbol Ketidakadilan Penjajah Belanda dalam Cerpen Racun untuk
Tuan
Didalam
Kamus Istilah sastra ,cerpen adalah kisahan yang dominan tentang satu tokoh
dalam satu latar dan situasi dramatik. Cerpen memuat penceritaan yang
memusatkan kepada satu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang
diceritakan dalam sebuah cerpen,hanya ditujukan untuk mendukung peristiwa
pokok. Dengan demikian, cerpen menyuguhkan cerita yang dipadatkan dan digayakan
oleh kemampuan imajinasi pengarang atau penulisnya.
Cerpen dapat dijadikan
media untuk mengenang sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa cerpen
di Indonesia menggunakan latar di masa penjajahan. Salah satunya adalah cerpen Racun
untuk Tuan karya M. Iksaka Banu yang dimuat dalam Koran Tempo pada tanggal
27 Februari 2011. M. Iksaka Banu dikenal sebagai seorang cerpenis yang
karya-karyanya banyak mengambil latar sejarah. Hal itu menjadi ciri khasnya dan
menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca.
Cerpen yang berjudul Racun untuk Tuan karya M. Iksana Banu
menceritakan tentang kehidupan seorang pekerja wanita di zaman penjajahan
Belanda. Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana seorang wanita hanya bisa
pasrah menerima nasib diperlakukan sesuka hati oleh majikannya yang seorang administratur
dari Belanda. Pengarang melukiskan latar cerita itu di Deli, Sumatra Utara.
Pengarang berusaha melukiskan bagaimana kekuasaan di masa penjajahan sangat
mempengaruhi kehidupan dan sosok wanita pribumi dapat dijadikan simbol sebagai
pemuas nafsunya sebagai penghibur di kala penat menerba jiwa.
Pada cerpen ini, pengarang begitu
lihai mengolah kata-katanya untuk menggambarkan latar yang ada dalam cerita, sehingga
pembaca dapat merasakan suasana yang diciptakan dan mengimajinasikan latar yang
ditampilkan. Seperti kutipan di bawah ini.
“Langit
Spijkenisse beranjak merah, cuaca dingin berangin. Di seberang sungai, sebuah
kincir angin tua berputar perlahan menimbulkan derak berulang yang mencemaskan.
“
Dari kutipan tersebut pembaca dapat membayangkan
bagaimana suasana negeri Belanda yang digambarkan oleh pengarang dengan kincir
angin yang menjadi simbol negara tersebut.
Selain penggambaran latar, pengarang juga mampu
menggambarkan
Pengarang
menggambarkan watak tokoh dengan penggambaran secara tidak langsung melaui
dialog tokoh dan adegan-adegan yang dilakukan oleh tokoh. Hal itu dapat dilihat
dari kutipan berikut ini.
“Pagi-pagi
buta, seluruh pelosok ruangan sudah rapi dan bersih. Di meja makan terhidang
kopi panas kental, lengkap dengan roti panggang, selai, dan telur rebus.”
Dari kutipan tersebut tampak bahwa karakter tokoh itu
adalah seorang yang rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Pengarang memang lihai menggambarkan
latar yang diinginkan, tetapi penggambaran konflik antar tokoh kurang
digambarkan secara jelas. Pengarang hanya menggambarkan konflik batin di tokoh
aku tanpa adanya pertentangan dari tokoh lain, sehingga klimaks cerita kurang
terbentuk dan cerita terkesan datar. Sebaiknya, pengarang memberikan
pertentangan yang lebih kuat antara tokoh aku dan Imah agar dapat menimbulkan
emosi di benak pembaca.
Sosok perempuan tertindas yang
diwakili oleh Imah juga kurang digambarkan dengan baik oleh pengarang.
Pengarang lebih menekankan penggambaran watak pada tokoh aku. Perasaan sedih,
kecewa, dan tersakiti pada tokoh Imah tidak digambarkan oleh pengarang. Padahal
tokoh Imah adalah korban dari ketidakadilan seorang majikan. Hal ini mungkin
terjadi karena pengarang adalah seorang laki-laki, sehingga pengarang kurang
mengerti bagaimana perasaan seorang wanita jika diperlakukan seperti itu oleh
majikannya. Berbeda halnya ketika cerpen tersebut ditulis oleh seorang wanita. Jika
pengarangnya adalah wanita, mungkin saja penggambaraan kekecewaan dan kemarahan
wanita yang diperlakukan tidak adil akan tergambar lebih jelas karena sudut
pandangnya sama-sama dari seorang wanita.
Dari hal-hal di atas dapat
disimpulkan bahwa cerpen Racun untuk Tuan mengangkat nilai-nilai sejarah dan
kebudayaan Indonesia di masa penjajahan Belanda. Pada cerpen tersebut tampak
fenomena perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan di zaman penjajahan
Belanda. Perempuan cenderung diam dan pasrah menerima nasib yang menimpanya.
Kebanyakan perempuan dijadikan simpanan atau hanya pemuas nafsu serdadu
Belanda. Penjajah Belanda memanfaatkan wanita pribumi untuk memenuhi dan
melayani apa yang dibutuhkan termasuk kebutuhan seks. Dengan memanfaatkan
kekuasaan dan kekejamannya, pihak penjajah bisa leluasa melakukan hal-hal yang
diinginkan. Tokoh Imah menjadi cerminan bahwa perempuan di masa itu hanya bisa
tunduk dan tidak kuasa memberontak apa yang dilakukan majikan Belanda
terhadapnya. Walaupun harus memendam luka dan kekecewaan, para perempuan di
masa itu hanya bisa diam. Hal itu merupakan salah satu wujud tradisi bahwa
perempuan masa itu berada di bawah laki-laki.
Apa saja si rumusan masalah yg ad dalam cerpen RUT tersebut🙏
BalasHapus