Jumat, 18 Mei 2018

KRITIK CERPEN RACUN UNTUK TUAN


Perempuan Pribumi sebagai Simbol Ketidakadilan Penjajah Belanda dalam Cerpen Racun untuk Tuan

Didalam Kamus Istilah sastra ,cerpen adalah kisahan yang dominan tentang satu tokoh dalam satu latar dan situasi dramatik. Cerpen memuat penceritaan yang memusatkan kepada satu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen,hanya ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Dengan demikian, cerpen menyuguhkan cerita yang dipadatkan dan digayakan oleh kemampuan imajinasi pengarang atau penulisnya.
Cerpen dapat dijadikan media untuk mengenang sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa cerpen di Indonesia menggunakan latar di masa penjajahan. Salah satunya adalah cerpen Racun untuk Tuan karya M. Iksaka Banu yang dimuat dalam Koran Tempo pada tanggal 27 Februari 2011. M. Iksaka Banu dikenal sebagai seorang cerpenis yang karya-karyanya banyak mengambil latar sejarah. Hal itu menjadi ciri khasnya dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca.
Cerpen yang berjudul Racun untuk Tuan karya M. Iksana Banu menceritakan tentang kehidupan seorang pekerja wanita di zaman penjajahan Belanda. Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana seorang wanita hanya bisa pasrah menerima nasib diperlakukan sesuka hati oleh majikannya yang seorang administratur dari Belanda. Pengarang melukiskan latar cerita itu di Deli, Sumatra Utara. Pengarang berusaha melukiskan bagaimana kekuasaan di masa penjajahan sangat mempengaruhi kehidupan dan sosok wanita pribumi dapat dijadikan simbol sebagai pemuas nafsunya sebagai penghibur di kala penat menerba jiwa.
Pada cerpen ini, pengarang begitu lihai mengolah kata-katanya untuk menggambarkan latar yang ada dalam cerita, sehingga pembaca dapat merasakan suasana yang diciptakan dan mengimajinasikan latar yang ditampilkan. Seperti kutipan di bawah ini.
“Langit Spijkenisse beranjak merah, cuaca dingin berangin. Di seberang sungai, sebuah kincir angin tua berputar perlahan menimbulkan derak berulang yang mencemaskan. “

Dari kutipan tersebut pembaca dapat membayangkan bagaimana suasana negeri Belanda yang digambarkan oleh pengarang dengan kincir angin yang menjadi simbol negara tersebut.
Selain penggambaran latar, pengarang juga mampu menggambarkan
            Pengarang menggambarkan watak tokoh dengan penggambaran secara tidak langsung melaui dialog tokoh dan adegan-adegan yang dilakukan oleh tokoh. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
 “Pagi-pagi buta, seluruh pelosok ruangan sudah rapi dan bersih. Di meja makan terhidang kopi panas kental, lengkap dengan roti panggang, selai, dan telur rebus.”

Dari kutipan tersebut tampak bahwa karakter tokoh itu adalah seorang yang rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Pengarang memang lihai menggambarkan latar yang diinginkan, tetapi penggambaran konflik antar tokoh kurang digambarkan secara jelas. Pengarang hanya menggambarkan konflik batin di tokoh aku tanpa adanya pertentangan dari tokoh lain, sehingga klimaks cerita kurang terbentuk dan cerita terkesan datar. Sebaiknya, pengarang memberikan pertentangan yang lebih kuat antara tokoh aku dan Imah agar dapat menimbulkan emosi di benak pembaca.
Sosok perempuan tertindas yang diwakili oleh Imah juga kurang digambarkan dengan baik oleh pengarang. Pengarang lebih menekankan penggambaran watak pada tokoh aku. Perasaan sedih, kecewa, dan tersakiti pada tokoh Imah tidak digambarkan oleh pengarang. Padahal tokoh Imah adalah korban dari ketidakadilan seorang majikan. Hal ini mungkin terjadi karena pengarang adalah seorang laki-laki, sehingga pengarang kurang mengerti bagaimana perasaan seorang wanita jika diperlakukan seperti itu oleh majikannya. Berbeda halnya ketika cerpen tersebut ditulis oleh seorang wanita. Jika pengarangnya adalah wanita, mungkin saja penggambaraan kekecewaan dan kemarahan wanita yang diperlakukan tidak adil akan tergambar lebih jelas karena sudut pandangnya sama-sama dari seorang wanita.
Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa cerpen Racun untuk Tuan mengangkat nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Indonesia di masa penjajahan Belanda. Pada cerpen tersebut tampak fenomena perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan di zaman penjajahan Belanda. Perempuan cenderung diam dan pasrah menerima nasib yang menimpanya. Kebanyakan perempuan dijadikan simpanan atau hanya pemuas nafsu serdadu Belanda. Penjajah Belanda memanfaatkan wanita pribumi untuk memenuhi dan melayani apa yang dibutuhkan termasuk kebutuhan seks. Dengan memanfaatkan kekuasaan dan kekejamannya, pihak penjajah bisa leluasa melakukan hal-hal yang diinginkan. Tokoh Imah menjadi cerminan bahwa perempuan di masa itu hanya bisa tunduk dan tidak kuasa memberontak apa yang dilakukan majikan Belanda terhadapnya. Walaupun harus memendam luka dan kekecewaan, para perempuan di masa itu hanya bisa diam. Hal itu merupakan salah satu wujud tradisi bahwa perempuan masa itu berada di bawah laki-laki.

1 komentar:

  1. Apa saja si rumusan masalah yg ad dalam cerpen RUT tersebut🙏

    BalasHapus

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...