Nilai-Nilai
Religius sebagai Potret Keteguhan Hati Sang Penyair dalam Puisi-Puisi Karya Emha
Ainun Najib
Agama merupakan suatu
keyakinan yang dipilih oleh setiap orang untuk menjadi pegangan hidupnya.
Seseorang yang memiliki agama, akan meyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam
semesta. Sebagai wujud kecintaan kepada Tuhan, seseorang akan berusaha
menjalankan ajaran agama tersebut dengan tujuan mendapatkan ketentraman hidup
baik di dunia maupun di akhirat. Seorang penyair tidak hanya menumpahkan segala
kegundahan, kebahagiaan, ataupun permohonannya kepada Tuhan melalui doa, tetapi
dia bisa menuangkan segala isi hatinya melaui puisi-puisi yang sangat indah.
Rasa cinta kepada Tuhan juga bisa dituangkan ke dalam syair-syair yang
bernuansa religius. Puisi dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan isi hati
penyair kepada Tuhan, sehingga penyair mendapat kepuasan dan ketenangan batin
tersendiri setelah menghasilkan sebuah puisi.
Salah satu penyair yang
karya-karyanya kental akan nilai religius adalah Emha Ainun Najib. Puisi-puisinya
yang bertema religius mengisyaratkan sindiran-sindiran terhadap fenomena
masyarakat saat ini yang semakin menjauh dari Tuhan. Tidak hanya sindiran,
tetapi Ainun Najib juga mengekspresikan luapan jiwanya terhadap keagungan Tuhan
melalui karya-karyanya yang begitu menakjubkan. Karya-karyanya menggambarkan
keteguhan hati Ainun Najib dalam menganut ajaran islam. Ainun Najib begitu
lihai menggambarkan sosok Tuhan bagi dirinya dan menggambarkan ajaran-ajaran
islam yang tersirat dalam puisinya. Mungkin karena Ainun Najib pernah hidup di
lingkungan pesantren, sehingga membuatnya memahami betul ajaran islam. Hal itu
menjadi dorongan bagunya untuk menciptakan karya-karya yang bernuansa religius.
Puisi “Begitu Engkau
Bersujud” merupakan salah satu puisi yang menggambarkan kebesaran nikmat Tuhan
yang diberikan kepada makhlukNya. Ketika membaca puisi ini, saya bisa merasakan
bahwa Tuhan sangat mencintai saya. Segala bentuk kebahagian dan kesedihan
merupakan kasih sayang yang diberikan Tuhan. Dalam puisi ini, pengarang
mengingatkan pembaca agar mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara menjalankan
sholat dan menjalankan perintah Allah. Pengarang menggambarkan bahwa mendirikan
masjid dapat dilakukan seseorang dengan melakukan sujud dalam sholat. Saya
dapat merasakan imajinasi pengarang terhadap keutamaan sholat begitu kuat,
sehingga pengarang mampu menyiratkan pesan-pesannya melalui rangkaian kata-kata
dalam puisi tersebut. Sebenarnya, kata-kata yang digunakan pengarang adalah
kata-kata yang sederhana, tetapi kesederhanaan itu menyiratkan pesan yang
sangat mendalam untuk pembaca. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
“Setiap
gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang”
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang”
Kata-kata di atas
merupakan kata-kata sederhana yang sering kita dengar, khususnya bagi umat
islam. Jika kita cermati makna dari kutipan di atas, maka apa yang ditulis oleh
pengarang merupakan suatu kenyataan yang dapat kita rasakan. Masjid bukan hanya
bangunan yang memiliki kuba dan diberi nama masjid, tetapi semua bangunan yang
sering digunakan sembahyang juga bisa disebut masjid. Masjid hanyalah sebuah
simbol yang diberikan manusia. Namun, kekusyukan dan diterimanya sholat hanya
Allah yang menentukan. Sholat yang dikerjakan di masjid belum tentu dapat
diterima oleh Allah dan sholat yang dikerjakan selain di masjid juga belum
tentu ditolak oleh Allah. Semua itu tergantung niat dan kekusyukan orang yang
sembahyang. Penyair juga menggambarkan setiap perbuatan baik yang dilakukan
karena Allah akan mendapatkan balasan berupa kebaikan. Puisi ini, mengajak kita
untuk menjalankan segala perintah Allah agar mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya.
Pengarang mampu melukiskan keagungan sembahyang melalui kata-kata yang
sederhana, tetapi dapat dipahami dan tepat kepada sasaran.
Kemampuan memilih
kata-kata yang tepat merupakan modal utama seorang penyair dalam menciptakan
sebuah karya. Penyair mengalami proses kreatif yang begitu rumit untuk
menemukan satu kata yang menurutnya memiliki estetika yang tinggi. Ainun Najib
juga merupakan salah satu sastrawan yang lihai memilih kata-kata sebagai
penggambaran imajinasinya. Berbagai karyanya banyak yang mengandung unsur-unsur
religi. Ainun Najib dikenal sebagai sastrawan yang memiliki pengetahuan agama
yang cukup luas. Oleh karena itu, Ainun Najib sering menghasilkan sajak-sajak
yang kental nilai-nilai islam. Puisi yang ditulisnya bukan hanya penggambaran
imajinasi semata, tetapi puisinya juga dijadikan sebagai media dakwah dalam
menyebarkan ajaran islam. Hal itu dikarenakan berbagai puisinya memberi pesan
kepada pembaca untuk memperbaiki diri dalam berperilaku, mensyukuri nikmat
Tuhan, dan mengajak pembaca untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saya merasa takjub
dengan puisi-puisi karya Ainun Najib yang kental akan nuansa islam. Membaca
puisinya, seolah-olah membuat saya merasa tersindir akan perbuatan yang selama
ini saya lakukan. Perbuatan yang dianggap wajar dan sering dilakukan oleh
seseorang ternyata merupakan tumpukan dosa. Rasa cinta kepada dunia melebihi
cinta kita kepada Tuhan. Hal itu sering kali tidak disadari, tetapi penyair
mencoba mengungkapkan kepedihannya terhadap fenomena yang terjadi melalui
sajak-sajak yang dibuatnya. Dalam sajak-sajak yang ditulis Ainun Najib
menyiratkan bahwa penyair begitu memahami perilaku yang bertentangan dengan
ajaran agama, sehingga dia menyindir perilaku tersebut melalui puisi-puisinya.
Puisi yang berupa
sindiran terhadap perilaku manusia dapat dilihat pada puisi berjudul
“Ditanyakan Kepadanya” dan puisi “Kita Masuki Pasar Riba”. Kedua puisi tersebut
menggambarkan perilaku manusia yang melalaikan perintah Tuhan. Puisi
“Ditanyakan Kepadanya” mengandung makna-makna tersirat yang sulit dimengerti.
Pembaca membutuhkan penalaran yang lebih dalam untuk memaknai puisi tersebut.
Hal itu dikarenakan penulis menggunakan banyak perumpamaan untuk menggambarkan
suatu kejadian. Jika kita cermati, puisi tersebut mengajak pembaca agar tidak
melakukan perbuatan yang disukai padahal perbuatan itu bertentangan dengan
ajaran islam. Tuhan telah memberikan pedoman kepada manusia untuk melakukan
perbuatan sesuai dengan perintahnya dalam Al-Quran, tetapi kebanyakan manusia
mengingkarinya. Ainun Najib sangat lihai memilih kata-kata yang indah, sehingga
membuat puisi tersebut menjadi lebih hidup dan maknanya terkesan mendalam. Hal
itu dapatdilihat dari kutipan berikut ini.
“Ditanyakan kepadanya siapakah
pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
........
Kemudian siapakah penguasa
yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia”
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa
penyair memilih kata-kata yang maknanya tersirat, sehingga pembaca perlu
memikirkan arti puisi tersebut secara lebih dalam. Jika kita cermati, kutipan
puisi di atas menggambarkan bahwa banyak masyarakat yang menjadi pemalas. Sikap
tersebut tercermin dari perilaku masyarakat yang sering menunda-nunda pekerjaan
dan memilih hidup enak tanpa kerja keras. Hal itu menyebabkan pekerjaan menjadi
tertunda ataupun terbengkalai, sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.
Para pemimpin di Indonesia digambarkan telah kehilangan keimanannya, sehingga
mereka melakukan perbuatan korupsi atau nepotisme untuk mendapatkan suatu
kekuasaan untuk kesenanggannya. Dalam puisi “Kita Memasuki Pasar Riba” penyair
juga menggambarkan keprihatinannya terhadap perilaku serakah masyarakat. Saat
ini, banyak masyarakat yang mengejar nikmat dniawi, sehingga melalaikan
Tuhannya. Keserakahan masyarakat mengakibatkat sikap riba telah menjadi hal
yang wajar. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginannya.
“Kita masuki pasar riba
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan”
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan”
Kutipan
di atas menggambarkan bahwa penyair merasa banyak manusia yang tega menjual
dirinya dan Tuhan untuk memperoleh kehidupan yang diinginkannya. Perilaku
tersebut tercermin dari sikap manusia yang sering melakukan kecurangan dalam
bekerja, mencuri, dan menipu. Mereka tidak ingat bahwa Tuhan tahu apa yang
mereka lakukan. Mereka meninggalkan Tuhan demi kepuasan dunia yang tak akan
abadi.
Ainun Najib memang sosok penyair
yang memiliki keteguhan dalam beragama. Hal itu dibuktikan dengan puisi-puisi
yang berisi berbagai pesan untuk mengajak pembaca beribadah. Keteguhan hatinya
juga tergambar dalam puisi berjudul “Doa Sehelai Daun Kering”. Dalam puisi ini,
penyair mengumpamakan dirinya sebagai sehelai daun kering. Daun kering adalah
daun yang tidak berguna dan mudah saja terjatuh jika tertiup angin. Penyair
begitu pandai melukiskan kebesaran Tuhan melalui puisi tersebut. Dalam puisi
tersebut penyair menggambarkan bahwa dirinya begitu kecil di hadapan Tuhan.
Penyair menggambarkan cintanya kepada Tuhan, walaupun dia sebagai daun kering.
“Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun
bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun
bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun
yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu”
Kutipan di atas memiliki pesan yang
begitu mendalam. Penyair pandai memilih kata-kata yang membuat puisi tersebut
terkesan lebih puitis. Jika kita cermati, puisi tersebut memiliki makna yang
mendalam bagi penyair. Penyair benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya
dan merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah cukup menandingi
kecintaan Allah kepadanya. Oleh karena itu, pengarang mengungkapkan kebesaran
Tuhan melalui rangkaian kata-kata indah sebagai wujud kecintaannya kepada
Tuhan.
Puisi lain yang menggambarkan
kecintaan penyair terhadap Tuhan adalah puisi “Ikrar”. Dalam puisi ini,
menggambarkan janji penyair untuk berusaha berada di jalan Allah. Segala
kebahagian dan kesedihan merupakan ujian dari Allah, sehingga penyair
menggambarkan Tuhan sebagai penerang langkahnya. Puisi berjudul “Ketika Engkau
Bersembahyang” juga merupakan puisi yang menggambarkan kecintaan penyair
terhadap Tuhan. Bedanya, puisi ini lebih menekankan kepada ajakan untuk
menegakkan sholat. Pengarang menggambarkan bahwa sholat dapat mengantarkan
manusia menuju rumah idaman berupa surga. Sholat merupakan tiang agama yang
membuat manusia dapat merasa tenang dan damai.
“Oleh-olehmu dari sembahyang
adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan”
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa sholat dapat menjadikan
manusia berhati mulia dan sabar. Puisi tersebut menggambarkan bahwa penyair
sangat memiliki ilmu agama yang baik, sehingga dapat menuliskan manfaat sholat
melalui kata-kata yang indah. Selain puisi-puisi tersebut, puisi yang berjudul
“Tahajjud Cintaku” merupakan puisi yang juga menggambarkan kecintaan penyair
terhadap Tuhan. Dalam puisi tersebut, penyair banyak memuji keagungan Tuhan
dengan berbagai pilihan kata yang mudah dipahami oleh pembaca. Penyair juga
begitu mengagungkan Tuhan, sehingga menggambarkan Tuhan sebagai kekasihnya. Meskipun
kata-katanya sederhana, tetapi kata-kata tersebut dapat menggetarkan hati pembaca.
Pembaca dapat membayangkan bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada manusia,
tetapi manusia lebih mencintai dunia dari pada Tuhan. Penulis mencoba mengetuk
hati para pembaca melalui puisi tersebut.
Puisi-puisi karya Emha Ainun Najib sebagian besar mengandung
nilai-nilai religius. Hal itu menunjukkan bahwa Ainun Najib memiliki keteguhan
hati yang kuat terhadap keyakinannya, yaitu islam. Karya-karyanya menunjukkan
bahwa penyair tahu betul hukum-hukum dalam ajaran islam. Penyair juga pandai
dalam menggambarkan kecintaannya kepada Tuhan melalui kata-kata yang dapat
menggetarkan hati para pembaca. Berbeda halnya jika puisi-puisi tersebut
ditulis oleh pengarang yang tidak memiliki keteguhan hati dalam agamanya, maka
tidak akan tercipta puisi yang menyiratkan nilai-nilai religius yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar