Jumat, 18 Mei 2018

KRITIK PUISI


Nilai-Nilai Religius sebagai Potret Keteguhan Hati Sang Penyair dalam Puisi-Puisi Karya Emha Ainun Najib

Agama merupakan suatu keyakinan yang dipilih oleh setiap orang untuk menjadi pegangan hidupnya. Seseorang yang memiliki agama, akan meyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Sebagai wujud kecintaan kepada Tuhan, seseorang akan berusaha menjalankan ajaran agama tersebut dengan tujuan mendapatkan ketentraman hidup baik di dunia maupun di akhirat. Seorang penyair tidak hanya menumpahkan segala kegundahan, kebahagiaan, ataupun permohonannya kepada Tuhan melalui doa, tetapi dia bisa menuangkan segala isi hatinya melaui puisi-puisi yang sangat indah. Rasa cinta kepada Tuhan juga bisa dituangkan ke dalam syair-syair yang bernuansa religius. Puisi dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan isi hati penyair kepada Tuhan, sehingga penyair mendapat kepuasan dan ketenangan batin tersendiri setelah menghasilkan sebuah puisi.
Salah satu penyair yang karya-karyanya kental akan nilai religius adalah Emha Ainun Najib. Puisi-puisinya yang bertema religius mengisyaratkan sindiran-sindiran terhadap fenomena masyarakat saat ini yang semakin menjauh dari Tuhan. Tidak hanya sindiran, tetapi Ainun Najib juga mengekspresikan luapan jiwanya terhadap keagungan Tuhan melalui karya-karyanya yang begitu menakjubkan. Karya-karyanya menggambarkan keteguhan hati Ainun Najib dalam menganut ajaran islam. Ainun Najib begitu lihai menggambarkan sosok Tuhan bagi dirinya dan menggambarkan ajaran-ajaran islam yang tersirat dalam puisinya. Mungkin karena Ainun Najib pernah hidup di lingkungan pesantren, sehingga membuatnya memahami betul ajaran islam. Hal itu menjadi dorongan bagunya untuk menciptakan karya-karya yang bernuansa religius.
Puisi “Begitu Engkau Bersujud” merupakan salah satu puisi yang menggambarkan kebesaran nikmat Tuhan yang diberikan kepada makhlukNya. Ketika membaca puisi ini, saya bisa merasakan bahwa Tuhan sangat mencintai saya. Segala bentuk kebahagian dan kesedihan merupakan kasih sayang yang diberikan Tuhan. Dalam puisi ini, pengarang mengingatkan pembaca agar mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara menjalankan sholat dan menjalankan perintah Allah. Pengarang menggambarkan bahwa mendirikan masjid dapat dilakukan seseorang dengan melakukan sujud dalam sholat. Saya dapat merasakan imajinasi pengarang terhadap keutamaan sholat begitu kuat, sehingga pengarang mampu menyiratkan pesan-pesannya melalui rangkaian kata-kata dalam puisi tersebut. Sebenarnya, kata-kata yang digunakan pengarang adalah kata-kata yang sederhana, tetapi kesederhanaan itu menyiratkan pesan yang sangat mendalam untuk pembaca. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
“Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang”

Kata-kata di atas merupakan kata-kata sederhana yang sering kita dengar, khususnya bagi umat islam. Jika kita cermati makna dari kutipan di atas, maka apa yang ditulis oleh pengarang merupakan suatu kenyataan yang dapat kita rasakan. Masjid bukan hanya bangunan yang memiliki kuba dan diberi nama masjid, tetapi semua bangunan yang sering digunakan sembahyang juga bisa disebut masjid. Masjid hanyalah sebuah simbol yang diberikan manusia. Namun, kekusyukan dan diterimanya sholat hanya Allah yang menentukan. Sholat yang dikerjakan di masjid belum tentu dapat diterima oleh Allah dan sholat yang dikerjakan selain di masjid juga belum tentu ditolak oleh Allah. Semua itu tergantung niat dan kekusyukan orang yang sembahyang. Penyair juga menggambarkan setiap perbuatan baik yang dilakukan karena Allah akan mendapatkan balasan berupa kebaikan. Puisi ini, mengajak kita untuk menjalankan segala perintah Allah agar mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Pengarang mampu melukiskan keagungan sembahyang melalui kata-kata yang sederhana, tetapi dapat dipahami dan tepat kepada sasaran.
Kemampuan memilih kata-kata yang tepat merupakan modal utama seorang penyair dalam menciptakan sebuah karya. Penyair mengalami proses kreatif yang begitu rumit untuk menemukan satu kata yang menurutnya memiliki estetika yang tinggi. Ainun Najib juga merupakan salah satu sastrawan yang lihai memilih kata-kata sebagai penggambaran imajinasinya. Berbagai karyanya banyak yang mengandung unsur-unsur religi. Ainun Najib dikenal sebagai sastrawan yang memiliki pengetahuan agama yang cukup luas. Oleh karena itu, Ainun Najib sering menghasilkan sajak-sajak yang kental nilai-nilai islam. Puisi yang ditulisnya bukan hanya penggambaran imajinasi semata, tetapi puisinya juga dijadikan sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran islam. Hal itu dikarenakan berbagai puisinya memberi pesan kepada pembaca untuk memperbaiki diri dalam berperilaku, mensyukuri nikmat Tuhan, dan mengajak pembaca untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saya merasa takjub dengan puisi-puisi karya Ainun Najib yang kental akan nuansa islam. Membaca puisinya, seolah-olah membuat saya merasa tersindir akan perbuatan yang selama ini saya lakukan. Perbuatan yang dianggap wajar dan sering dilakukan oleh seseorang ternyata merupakan tumpukan dosa. Rasa cinta kepada dunia melebihi cinta kita kepada Tuhan. Hal itu sering kali tidak disadari, tetapi penyair mencoba mengungkapkan kepedihannya terhadap fenomena yang terjadi melalui sajak-sajak yang dibuatnya. Dalam sajak-sajak yang ditulis Ainun Najib menyiratkan bahwa penyair begitu memahami perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, sehingga dia menyindir perilaku tersebut melalui puisi-puisinya.
Puisi yang berupa sindiran terhadap perilaku manusia dapat dilihat pada puisi berjudul “Ditanyakan Kepadanya” dan puisi “Kita Masuki Pasar Riba”. Kedua puisi tersebut menggambarkan perilaku manusia yang melalaikan perintah Tuhan. Puisi “Ditanyakan Kepadanya” mengandung makna-makna tersirat yang sulit dimengerti. Pembaca membutuhkan penalaran yang lebih dalam untuk memaknai puisi tersebut. Hal itu dikarenakan penulis menggunakan banyak perumpamaan untuk menggambarkan suatu kejadian. Jika kita cermati, puisi tersebut mengajak pembaca agar tidak melakukan perbuatan yang disukai padahal perbuatan itu bertentangan dengan ajaran islam. Tuhan telah memberikan pedoman kepada manusia untuk melakukan perbuatan sesuai dengan perintahnya dalam Al-Quran, tetapi kebanyakan manusia mengingkarinya. Ainun Najib sangat lihai memilih kata-kata yang indah, sehingga membuat puisi tersebut menjadi lebih hidup dan maknanya terkesan mendalam. Hal itu dapatdilihat dari kutipan berikut ini.
“Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
........
Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa penyair memilih kata-kata yang maknanya tersirat, sehingga pembaca perlu memikirkan arti puisi tersebut secara lebih dalam. Jika kita cermati, kutipan puisi di atas menggambarkan bahwa banyak masyarakat yang menjadi pemalas. Sikap tersebut tercermin dari perilaku masyarakat yang sering menunda-nunda pekerjaan dan memilih hidup enak tanpa kerja keras. Hal itu menyebabkan pekerjaan menjadi tertunda ataupun terbengkalai, sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi. Para pemimpin di Indonesia digambarkan telah kehilangan keimanannya, sehingga mereka melakukan perbuatan korupsi atau nepotisme untuk mendapatkan suatu kekuasaan untuk kesenanggannya. Dalam puisi “Kita Memasuki Pasar Riba” penyair juga menggambarkan keprihatinannya terhadap perilaku serakah masyarakat. Saat ini, banyak masyarakat yang mengejar nikmat dniawi, sehingga melalaikan Tuhannya. Keserakahan masyarakat mengakibatkat sikap riba telah menjadi hal yang wajar. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginannya.
“Kita masuki pasar riba
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan”

     Kutipan di atas menggambarkan bahwa penyair merasa banyak manusia yang tega menjual dirinya dan Tuhan untuk memperoleh kehidupan yang diinginkannya. Perilaku tersebut tercermin dari sikap manusia yang sering melakukan kecurangan dalam bekerja, mencuri, dan menipu. Mereka tidak ingat bahwa Tuhan tahu apa yang mereka lakukan. Mereka meninggalkan Tuhan demi kepuasan dunia yang tak akan abadi.
Ainun Najib memang sosok penyair yang memiliki keteguhan dalam beragama. Hal itu dibuktikan dengan puisi-puisi yang berisi berbagai pesan untuk mengajak pembaca beribadah. Keteguhan hatinya juga tergambar dalam puisi berjudul “Doa Sehelai Daun Kering”. Dalam puisi ini, penyair mengumpamakan dirinya sebagai sehelai daun kering. Daun kering adalah daun yang tidak berguna dan mudah saja terjatuh jika tertiup angin. Penyair begitu pandai melukiskan kebesaran Tuhan melalui puisi tersebut. Dalam puisi tersebut penyair menggambarkan bahwa dirinya begitu kecil di hadapan Tuhan. Penyair menggambarkan cintanya kepada Tuhan, walaupun dia sebagai daun kering.
“Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu”

Kutipan di atas memiliki pesan yang begitu mendalam. Penyair pandai memilih kata-kata yang membuat puisi tersebut terkesan lebih puitis. Jika kita cermati, puisi tersebut memiliki makna yang mendalam bagi penyair. Penyair benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya dan merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah cukup menandingi kecintaan Allah kepadanya. Oleh karena itu, pengarang mengungkapkan kebesaran Tuhan melalui rangkaian kata-kata indah sebagai wujud kecintaannya kepada Tuhan.
Puisi lain yang menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan adalah puisi “Ikrar”. Dalam puisi ini, menggambarkan janji penyair untuk berusaha berada di jalan Allah. Segala kebahagian dan kesedihan merupakan ujian dari Allah, sehingga penyair menggambarkan Tuhan sebagai penerang langkahnya. Puisi berjudul “Ketika Engkau Bersembahyang” juga merupakan puisi yang menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan. Bedanya, puisi ini lebih menekankan kepada ajakan untuk menegakkan sholat. Pengarang menggambarkan bahwa sholat dapat mengantarkan manusia menuju rumah idaman berupa surga. Sholat merupakan tiang agama yang membuat manusia dapat merasa tenang dan damai.
“Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa sholat dapat menjadikan manusia berhati mulia dan sabar. Puisi tersebut menggambarkan bahwa penyair sangat memiliki ilmu agama yang baik, sehingga dapat menuliskan manfaat sholat melalui kata-kata yang indah. Selain puisi-puisi tersebut, puisi yang berjudul “Tahajjud Cintaku” merupakan puisi yang juga menggambarkan kecintaan penyair terhadap Tuhan. Dalam puisi tersebut, penyair banyak memuji keagungan Tuhan dengan berbagai pilihan kata yang mudah dipahami oleh pembaca. Penyair juga begitu mengagungkan Tuhan, sehingga menggambarkan Tuhan sebagai kekasihnya. Meskipun kata-katanya sederhana, tetapi kata-kata tersebut dapat menggetarkan hati pembaca. Pembaca dapat membayangkan bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada manusia, tetapi manusia lebih mencintai dunia dari pada Tuhan. Penulis mencoba mengetuk hati para pembaca melalui puisi tersebut.
Puisi-puisi karya Emha Ainun Najib sebagian besar mengandung nilai-nilai religius. Hal itu menunjukkan bahwa Ainun Najib memiliki keteguhan hati yang kuat terhadap keyakinannya, yaitu islam. Karya-karyanya menunjukkan bahwa penyair tahu betul hukum-hukum dalam ajaran islam. Penyair juga pandai dalam menggambarkan kecintaannya kepada Tuhan melalui kata-kata yang dapat menggetarkan hati para pembaca. Berbeda halnya jika puisi-puisi tersebut ditulis oleh pengarang yang tidak memiliki keteguhan hati dalam agamanya, maka tidak akan tercipta puisi yang menyiratkan nilai-nilai religius yang tinggi.





 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...