Kamis, 17 Mei 2018
Fenomena Latah di Masyarakat
Seseorang yang memiliki fungsi otak dan alat bicara yang normal akan dapat berbahasa dengan baik dan benar. Namun, jika salah satu dari kedua fungsi tersebut terganggu akan mengakibatkan gangguan dalam berbicara. Salah satu bentuk gangguan berbahasa di dalam masyarakat adalah latah. Latah merupakan suatu gangguan kebahasaan dimana seseorang yang terkejut atau dikejutkan akan mengucapkan kata-kata secara spontan tanpa menyadari apa yang dikatakannya.
Saat ini, fenomena latah banyak terjadi di masyarakat. Latah dapat terjadi karena penyakit atau juga kebiasaan yang mengakibatkan seseorang terus-menerus melakukannya. Penulis tertarik menganalis topik tersebut karena fenomena latah dialami oleh salah satu teman penulis di Magetan dan belum dapat disembuhkan hingga sekarang.
Informan yang penulis teliti mengalami latah sejak dia berusia sekitar 15 tahun. Jika dia dikejutkan, maka dia akan mengeluarkan kata-kata yang sama dengan yang dia dengar. Namun, latah yang informan derita bukan termasuk latah yang parah. Dia hanya menirukan kata-kata yang dia dengar tanpa mengikuti perintah yang membuatnya terkejut. Misalnya, jika dia dikejutkan dengan kata ‘lari’, maka dia hanya menirukan ucapan tersebut berulang-ulang dan tidak akan berlari. Latah yang dialami informan bermula ketika dia terkejut saat temannya memberi tahu bahwa ada katak yang melompat ke arahnya. Sejak saat itu, dia sering latah ketika terkejut atau dikejutkan.
Gangguan berbicara pada seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organik dan gangguan berbicara psikogenik. Latah merupakan salah satu contoh gangguan berbicara psikogenik. Gangguan berbicara psikogenik adalah variasi cara berbicara yang normal, yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara (Chaer, 2003: 152).
Soenjono Dardjowidjojo (2003 : 154) mengemukakan bahwa latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya”. Sedangkan menurut Khaltarina latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psikologis, dan sosial. Dari beberapa pandangan para ahli dapat disimpulkan bahwa latah terjadi akibat gangguan fungsi saraf otak dan pengaruh lingkungan, sehingga sikap mental pembicara tidak dapat dikendalikan.
Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si. Ada empat macam latah.
1. Ekolalia yaitu latah dengan mengulangi perkataan orang lain.
Contoh : jika orang yang berada di dekat penderita mengagetkannya dengan menyebutkan kata gila, maka penderita latah akan mengulangi kata-kata tersebut berulang-ulang.
2. Ekopraksia yaitu latah dalam bentuk meniru gerakan orang lain. Artinya, ketika melihat orang lain bertingkah unik, secara spontan orang yang mengidap latah ekopraksia akan meniru persis gerakan orang tersebut secara berulang-ulang.
Contoh : jika orang yang berada di dekat penderita latah mengagetkannya sambil menari,maka secara spontan penderita latah akan ikut menari.
3. Koprolalia yaitu latah dengan mengucapkan kata-kata tabu atau kotor. Artinya, ketika ada seseorang yang mengagetkannya, penderita latah spontan mengeluarkan kata-kata kotor.
4. Automatic obedience yaitu melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Berdasarkan macam-macam latah tersebut, informan yang penulis teliti termasuk di dalam ekolalia yaitu, latah dengan mengulangi perkataan orang lain. Latah ini masih tergolong latah ringan. Latah yang tergolong parah adalah automatic obedience. Jika latah tersebut terus dibiarkan, maka akan berbahaya bagi penderitanya. Sebab, penderita latah akan melakukan apa yang diperintahkan secara tidak sadar. Bahkan, penderita latah dapat melakukan hal-hal yang tercela jika perintah yang membuatnya terkejut adalah perintah yang buruk.
Latah yang tergolong ringan dapat menjadi parah jika orang yang menderita latah tersebut terus-menerus melakukan kebiasaan latahnya. Kebiasaan itu dapat terjadi karena penderita latah biasanya menjadi pusat perhatian oleh orang-orang di sekitar, sehingga dia keterusan melakukannya.Selain itu, pengaruh lingkungan juga dapat memperparah kondisi latah seseorang. Misalnya, jika penderita latah sering digoda dengan dikejutkan oleh orang-orang di sekitarnya, maka secara tidak langsung latah tersebut akan menjadi semakin parah.
Latah merupakan kebiasaan yang buruk dan harus dihindari oleh setiap orang karena efek dari latah akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Latah dapat disembuhkan dengan dukungan orang-orang di sekitar dan niat dari penderita untuk sembuh. Oleh karena itu, penderita latah harus berusaha menyembuhkan penyakit tersebut dengan cara lebih berkonsentrasi dan mengendalikan dirinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
KRITIK DRAMA
Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...
-
1. Tema Tema dalam cerita rakyat Malin Kundang adalah pendidikan moral tentang pengajaran untuk anak yang durhaka pada ibunya. Tema ini ber...
-
Perjuangan Perempuan dalam Novel Namaku Hiroko Karya Nh Dini Novel “N amaku Hiroko ” karya Nh. Dini merupakan novel yang berkisah te...
-
Perempuan Pribumi sebagai Simbol Ketidakadilan Penjajah Belanda dalam Cerpen Racun untuk Tuan Didalam Kamus Istilah sastra ,cerpen a...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar