Jumat, 18 Mei 2018

CERPEN SAHABAT


Sahabat, andai Aku adalah Engkau


Sinar mentari mulai tampak  dari peraduannya. Kicuan burung menyapaku dengan alunan merdu. Ku sibakkan tirai jendela kamar dan kubuka jendela yang menghalangi udara sejuk masuk ke dalam rumahku. Ku rasakan hembusan angin pagi membelai lembut kulitku, ku tutup mataku dan ku hisap dalam-dalam udara yang berdesakan ingin memasuki lubang hidungku. Terasa segar, terasa damai. Ya, betapa agungnya keindahan Sang Maha Kuasa.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku segera bersiap-siap memulai aktivitasku hari ini. kucium aroma ayam panggang yang begitu sedap menusuk-nusuk hidungku dan menyuruhku untuk segera menyantapnya. Aku menuruni tangga menuju meja makan untuk memulai sarapan bersama keluarga kecilku. Ku lihat meja makan tertata rapi dan berbagai macam menu hidangan telah disajikan oleh istriku tercinta. Istriku sangat pandai memasak. Rasa masakannya mengalahkan masakan di hotel berbintang lima. Di meja makan telah kulihat istri dan bidadari kecilku tersenyum menungguku.
“Pagi Ayah.” Sapa Aisyah putri kecilku.
“Pagi sayang. Udah siap berangkat sekolah ya.”jawabku.
“Iya yah, nanti kalau Aisyah terlambat dimarahi bu guru.”
“Ya udah habiskan dulu makanannya.” Jawabku sambil mengambil beberapa lauk.
Selesai sarapan, aku mengambil tas kerjaku dan bersiap untuk bertempur seharian nanti. Aku berpamitan kepada istriku tercinta yang sedang membetulkan dasi yang kukenakan.
“Ayah berangkat ya Bunda.” Kataku.
“Iya Ayah. Hati-hati ya.” Jawabnya sambil mencium tanganku.
“Bunda, Aisyah berangkat sekolah dulu ya.” Sambil mencium tangan Bundanya.
“Iya sayang, sekolah yang rajin ya.” Jawab istriku sambil mencium pipi Aisyah.
Aku segera menyalakan mesin mobil dan siap bertempur seharian ini. Dengan bekal energi yang ku makan pagi ini, membuatku semangat menghadapi tantangan kerja.  Aku mengantarkan Aisyah menuju ke sekolah. Kebetulan sekolah anakku berada tidak jauh dari kantorku. Selesai mengantarkan Aisyah, aku segera menuju kantor. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai  manager.
Aku memiliki sahabat dekat bernama Rahmat. Dia adalah teman kuliahku dulu di jurusan ekonomi. Sekarang, kami bekerja bersama dalam satu perusahaan. Rahmat adalah orang yang pandai. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Semasa kuliah, kita sering menghabiskan waktu bersama dengan belajar, berpetualang, dan bersenda gurau bersama. Dia selalu membantuku di kala aku sedang kesusahan dan menghiburku di kala aku sedang sedih.
Aku berjalan menuju ruang kerjaku. Ku sapa setiap orang yang ku temui dan ku sunggingkan senyum manis kepada mereka. Ketika tanganku hendak meraih daun pintu ruang kerjaku, aku melihat rahmat sedang serius mengetik dan tampak kebingungan. Sesekali dia diam berpikir dan sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya. Aku tersenyum melihat tingkah sahabatku itu dan segera ku hampiri dia.
“Kamu sedang apa Mat? Kelihatannya kamu sedang kebingungan.” Tanyaku.
“Iya ni Ziz. Aku lagi buat presentasi untuk rapat nanti. Kemarin aku pusing, jadi belum sempat buat.” Jawabnya.
“ Memang jam berpa rapatnya?”tanyaku penasaran.
“ satu jam lagi rapat dimulai dan aku belum selesai menyusun ini.gimana ni Ziz?” jawab Rahmat sambil kebingungan.
“ya udah aku bantu buat presentasinya. Kamu nggak usah kawatir. Kalu dikerjakan berdua pasti selesai.” Jawabku menenangkan Rahmat.
Aku mulai berdiskusi dengan rahmat dan membantunya menyelesaikan presentasinya. Sepuluh menit sebelum rapat dimulai, presentasi tersebut akhirnya dapat kita selesaikan. Rahmat begitu lega karena tannggung jawabnya membuat presentasi sudah dia kerjakan.
“Akhirnya selesai juga. Makasih ya Aziz. Kamu benar-benar pahlawan penolongku.” Puji Rahmat dengan wajah yang bahagia.
“Biasa aja Mat. Kamu juga sering bantu aku kok. Semoga presentasi nanti berhasil ya.” Kataku memberi dukungan.
“ya Ziz doakan. Karena kamu udah bantu aku, nanti makan siang aku traktir kamu.” Rahmat memberikan tawaran.
“okelah janji ya bos.” Jawabku sambil tertawa.
Waktu menunjukkan pukul 13.00. Saatnya istirahat dan makan siang. Rahmat menepati janjinya kepadaku. dia menghampiriku ke ruang kerja dan mengajakku makan siang di rumah makan  Manyar di sebelah kanan kantor kami. Kami memesan soto ayam makanan favorit kami ketika masih kuliah. Sambil makan, Rahmat mengamati wajahku. Dia tampak memikirkan sesuatu. Aku merasa akhir-akhir ini sering merasa pusing. Tak jarang aku tiba-tiba aku tak kuat menopang tubuhku hingga pingsan. Aku juga sering membolos kerja karena rasa sakit yang tak bisa ku tahan. Tugas-tugas kantorku pun juga sering terbengkalai. Tak jarang Rahmat sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kantor.
“Kamu lagi sakit ya Ziz?” tanya Rahmat penasaran.
“Nggak kok Mat, aku baik-baik aja. Memangnya kenapa kau tanya seperti itu?” Jawabku sambil tersenyum.
“wajah kamu terlihat pucat Ziz, tapi baguslah kalau kau sehat.”
Tiba-tiba saja hidungku mengeluarkan darah. Rahmat terkejut dan langsung memberikan tisu yang berada di meja makan untuk menghambat keluarnya darah. Aku mengambil tisu tersebut dan menutupkannya ke hidung sambil mendongak ke atas.
“Kau benar tidak apa-apa Ziz?”tanya Rahmat
“Tidak Mat, aku sudah sering seperti ini. Mungkin karena aku merasa kecapekan.”
“Jadi kamu sering mimisan seperti ini? udah coba periksa ke dokter?”
“Iya Mat, akhir-akhir ini aku sering mimisan dan kepalaku sering pusing. Bahkan terkadang sampai pingsan.”
“Kalau begitu kau harus secepatnya memeriksakan kondisimu ke dokter. Nanti sepulang kerja aku antar kau ke dokter ya.” Jawab Rahmat.
“Nggak usahlah Mat, nanti biar aku sendiri yang ke dokter. Kama nggak usah kawatir aku cuma kecapekan Mat.” Jawabku.
“terserah kamu lah. Yang penting kamu harus priksa ke dokter. Udah habis ni waktu istiratnya. Kamu mau izin atau kembali kerja?” Tanya Rahmat.
“Kerja aja Mat. Lagian aku nggak apa-apa kok, cuma mimisan gini aja.”jawabku.
Kami meninggalkan rumah makan Manyar dan berjalan menuju kantor untuk meneruskan pekerjaan.
Tak terasa hari mulai gelap. Sang surya mulai kembali ke peraduannya. Aku mengendarai mobil melintasi hiruk-pikuk kota Surabaya menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, aku melihat bidadari kecilku sedang bermain dengan boneka kesayangannya. Dia langsung memelukku ketika melihat aku masuk ke dalam rumah. Rasa penat dan lelah selama bekerja terasa sirna ketika aku bertemu permaisyuri hatiku dan bidadari kecilku. Mereka adalah harta berharga yang aku miliki di dunia ini.
Aku duduk di teras rumah memandang gemerlap bintang yang bertabuaran. Aku merasa ada hal yang aneh terjadi pada diriku. Tak tahu mengapa hatiku terasa kawatir. Aku membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. Bahkan bayangan gelap tentang kiematian sempat melintas di pikiranku. Namun, aku segera menepis prasangka buruk itu dari pikiranku. Aku mencoba berpikir positif tentang kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini terhadapku.
Aku berangkat menuju klinik kesehatan untuk memastikan kondisiku. Sambil menahan pusing, aku tetap mengendarai mobil ditemani istriku. Dokter memeriksa kondisiku dengan penuh ketelitian. Dokter menyuruhku tes di laboratorium untuk mematikan penyakit apa yang aku derita. Setelah semua pemeriksaan ku jalani, dokter memanggilku dan mengatakan hasilnya. Dokter berkata bahwa aku terkena penyakit leukimia stadium empat dan memperkirakan umurku tinggal tiga bulan.
Aku merasa petir menyambar tubuhku, jantungku berdetak kencang, aku bagaikan tercekik tak bisa bernafas dan tak bisa bergerak. Ku dengar tangisan istriku mencakar-cakar relung hatiku. Aku pun tak kuasa meneteskan air mata. Aku berjalan lemas dan pandanganku kosong menatap jalan. Istriku menuntunku menuju mobil dan membawaku pulang ke rumah. Penyakitku membuat hidupku tak berarti lagi. Aku mengunci diri di kamar dan melempar semua barang yang ada disisiku.
“Tuhan...kenapa kau menghukumku seperti ini? Kenapa kau ingin mengambil kebahagiaanku? Selama ini aku beribadah kepadamu, tapi kenapa Kau ingin renggut mimpi-mimpiku begitu cepat! Ini tidak adil!” teriakku sambil bercucuran air mata.
            Seminggu sudah aku mengurung diri di kamar. Aku tak ingin melihat dunia luar yang membuatku semakin sedih dan kesal. Aku juga telah meninggalkan sholat. Aku menganggap ibadah itu percuma karena tidak akan dapat menyembuhkanku. Dokter telah memvonis hidupku tak lama lagi. Aku hanya ingin berada di rumah dan tak melakukan apa-apa. Biarlah Tuhan marah padaku karena aku hidup seperti ini. Aku memang ingin membuat-Nya marah karena Dia juga telah membuatku marah. Kemarahan dan kekecewaanku terhadap kehidupan merubah sikapku menjadi dingin dan kasar. Tak jarang, istri dan anakku menjadi korban kemarahanku. Namun, istriku tetap saja tak mau menyerah untuk mendekati dan merawatku. Dia selalu memendam kesedihan dan menahan air matanya di depanku. Dia juga sering menguatkan hati anakku jika aku memarahi putriku. Aku tak pernah menyesali apa yang aku lakukan terhadap mereka. Aku ingin mereka pergi dariku dan membenciku karena aku tak ingin melihat mereka menangis ketika aku menutup mata.
Aku mendengar suara cakap-cakap dari ruang tamu. Suara itu tak asing di telingaku. Aku juga mendengar isakan tangis keluar dari mulut istriku dan suara laki-laki menenangkannya. Tiba-tiba, ku dengar pintu kamarku di ketuk dan ku dengar suara Rahmat memanggilku. Aku sama sekali tidak menghiraukan panggilannya. Namun, dia tetap masuk ke kamarku dan duduk disampingku. Dia terus berusaha memberiku semangat dan nasehat, tetapi sama sekali tak kudengar. Aku bahkan menyuruhnya pergi karena aku menganggap dia tak dapat mengerti apa yang aku rasakan. Rahmat pun akhirnya pergi meninggalkanku untuk memberinya waktu menenangkan diri. Aku hanya diam dan memalingkan muka tak melihatnya.

***
Setiap pulang kerja, Rahmat menyempatkan diri untuk menjengukku di rumah. Aku hanya mengacuhkannya dan berusaha membuat dia benci kepadaku, tetapi dia tak menyerah untuk terus menghiburku. Berkali-kali Rahmat membujukku untuk ke dokter, tapi aku tak menghiraukan ajakannya dan malah membentaknya untuk pergi dariku. Rahmat tidak pernah perduli dengan perkataanku. Dia juga tak pernah merasakan sakit hati karena ucapanku. Ketika dia duduk di sampingku, dia menceritakan bagaimana kita menghadapi berbagai kesulitan di waktu kuliah. Aku hanya diam mendengar ceritanya. Dia terus bercerita dan mengatakkan bahwa aku sahabat terbaik yang dia miliki. Dia tak ingin kehilangan sahabatnya yang baik. Dia terus memberiku semangat dan berharap aku kembali ke jalan yang benar.
“Aziz, aku tahu perasaanmu. Aku tahu kau sekarang terpukul. Jangan kau sia-siakan hidupmu ini. semua orang pasti pernah mengalami kesulitan. Aku mohon bangkitlah sahabatku.” Bujuknya.
“sudahlah Mat, Kau pergi saja. Tak usah kau banyak bicara tentang kehidupan. Aku tak percaya dengan mukjizat. Dokter bilang umurku tinggal tiga dua bulan lagi.” Kataku sambil memalingkan muka.
“Aziz, andai aku adalah engkau, akan ku tampar mulut Sang Dokter yg pintar membual yang mengatakan bahwa dirinya tahu kapan datangnya ajal. Aku akan bakar hasil CT-Scan yg membuatmu kini redup tak bersinar dan kan kurobek-robek hasil Lab yg hanya akan membuatmu terpuruk tak berpendar.” Katanya.
“Kau tak akan tahu perasaanku Mat, karena kau tak merasakan menjadi aku.”
Memang aku bukan kamu. Namun jika aku menjadi kamu, aku akan mengukir pagi yang cerah dengan senyuman. Aku akan memoles hari yang indah dengan harapan. Aku akan melukis senja memerah dengan canda dan tawa. Aku akan membuat orang-orang di sekelilingku bahagia karena aku. Sadarlah Mat, kamu bisa melalui ini semua. Dekatkanlah dirimu pada Allah. Perbanyaklah istighfar dan doa. Masih banyak orang-orang di luar sana yang jauh tidak beruntung dari pada kamu. Apakah kau tak kasihan melihat istri dan anakmu sedih melihatmu? Kuharap kau memikirkan mereka juga. Jangan egois Mat. Pikirkan kembali sikapmu.”katanya memberi nasehat.
“Sudahlah Mat! Jangan kau sia-siakan waktumu untuk mengucapkan kata-kata yang tak berguna! Aku tak perduli apa yang kau katakan. Hidupku sudah tak berarti lagi. Lebih baik kau pergi sekarang Mat!” Bentakku.
“Terserah apa yang kau katakan Ziz. Aku sangat tahu perasaanmu. Jika aku adalah kamu, aku tak akan pernah bosan meminta kepada Tuhan. Aku ingin meminta Tuhan untuk menjaga ayah, Ibu, Istri, dan anakku yang masih belia. Aku ingin dibuatkan rumah bersama yang indah. Karena aku tahu, suatu saat nanti akan ada malaikat yang mengetuk pintu dan menjemputku ke dalam keabadian menghadap-Nya. Setiap orang pasti akan mati. Hanya saja waktu penjemputannya yang berbeda. Kau harus sadar itu Ziz.” Kata Rahmat.
Aku hanya menyembunyikan tangis dan tak membalas perkataan Rahmat. Ku dengar langkah kaki Rahmat pergi meninggalkanku. Aku semakin menangis memikirkan perkataan sahabatku. Mengapa orang-orang di sekitarku tak lelah menghadapi sikapku? Mengapa mereka semua tetap menyayangiku? Air mataku terus bercucuran membasahi pipi.
***
Tiga hari berlalu, Rahmat tak datang untuk mengunjungiku. Biasanya hampir setiap hari sepulang kerja dia menjengukku. Aku berfikir mungkin dia telah lelah menghadapi sikapku. Aku merasa lega karena dia mulai membenciku. Sekarang, aku tinggal berfikir untuk membuat istri dan anakku menjauh dariku. Aku terkadang merasa bimbang apakah sikapku ini benar. Namun, aku yakin jika orang-orang yang aku sayangi membenciku, mereka tak akan sedih ketika aku meninggal nanti.
Ku dengar telepon rumah berbunyi. Istriku mengangkat telepon itu dan kudengar nada suaranya terlihat cemas. Dia menutup telepon dan terlihat air mata jatuh di kedua pipinya. Dia menghampiriku sambil memelukku. Aku merasa cemas terhadap sikapnya.
“Yah, kau harus tabah. Aku mempunyai kabar duka untukmu.” Kata istriku sambil menangis.
“Apa yang kau bicarakan? Telepon dari siapa tadi?” tanyaku sangat cemas.
“Rahmat meninggal dunia yah. Kata istrinya, dia kecelakaan tiga hari yang lalu dan meninggal setelah koma selama tiga hari.” Jawab istriku.
Hatiku terasa teriris sangat pedih. Aku tak percaya dengan kabar ini. Aku tak  kuasa menahan air mataku. Istriku memelukku dengan erat dan menenangkan hatiku. Aku menuju ke rumah duka untuk bertemu Rahmat terakhir kalinya. Ku lihat wajah pucat terbaring kaku dengan balutan kain putih. Ku ajak bicara dia, tetapi dia hanya diam dan memejamkan matanya. Aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin sekali membuat dia bahagia di akhir hidupnya. Aku ingin mengukir kenangan indah kami di saat-saat terakhirnya. Namun, apa yang telah ku perbuat? Aku tak sempat membuatnya tersenyum. Aku tak sempat membuat dia bangga terhadapku. Aku hanya menggoreskan kepedihan di akhir hidupnya. Aku sungguh menyesal dengan apa yang aku lakukan. Aku menyia-nyiakan hidupku dan melukai hati orang-orang di sekitarku, termasuk Rahmat.
Jenazah Rahmat mulai diangkat dan dibawa ke peristirahatan terakhir. Aku ikut memikul keranda sahabatku dan mengantarkan hingga ke pemakaman. Air mataku tak bisa kubendung saat jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat dan ditumpuki oleh tanah. Saat itu, aku membayangkan diriku yang berada di liang lahat. Hanya sendiri ditemani ribuan cacing dan belatung yang akan melahap tubuhku hingga tersisa tulang-belulang yang nantinya akan menyatu menjadi tanah. Kubayangkan malaikat menyidangku dan memukulku dengan pecutnya yang besar ketika aku salah menjawab pertanyaannya. Bulu kudukku merinding, ketakutanku mencekram seluruh tubuh, aku menggelengkan kepala dan segera menepis bayangan-bayangan menakutkan yang singgah dipikiranku. Kusaksikan jenazah sahabatku telah hilang tertutup tanah. Yang ada di depanku hanyalah gundukan tanah yang diberi bungan dengan nisan di samping kanan dan kirinya. Di depan nisan Rahmat, aku berdoa semoga dia diterima disisi-Nya dan ku ikrarkan janji bahwa aku akan melakukan yang terbaik disisa-sisa hidupku.
Aku berjalan meninggalkan pemakaman bersama istriku. Selama perjalanan pulang, aku teringat semua perkataan Rahmat yang telah diucapkan kepadaku. Semua orang pasti akan mati. Hanya waktu penjemputannya saja yang berbeda. Kini aku sadar makna dari ucapannya. Kematian hanya rahasia Tuhan. Orang yang ku pikir akan lebih lama hidup dari pada aku, kini telah pergi mendahuluiku. Manusia tidak akan pernah tahu datangnya ajal, termasuk juga dokter. Aku tersenyum, pikiran itu telah merasuk ke dalam otakku kemudian menjalar ke seluruh tubuh dan memberiku kekuatan baru.
Dalam kesunyian malam, aku terbangun dari mimpi-mimpiku. Aku segera mengambil air wudhu untuk menghilangkan kantukku. Kurasakan kesegaran merasuk kulitku. Sudah sekian lama aku tak merasakan kesejukan air wudhu karena sekian lama pula aku telah meninggalkan sholat. Berhari-hari aku lari dari Tuhan, berhari-hari aku menumpuk kebusukan, dan berhari-hari pula aku dalam kerugian. Aku menggelar sadjadah dan kulaksanakan sholat tahajud. Kulantunkan zikir mengagungkan nama-Nya. Di dalam sujudku, aku menangis memohon ampunan Tuhan atas apa yang aku lakukan selama ini. Sadjadah biru menjadi saksi bisu pertaubatanku kepada Tuhan. Aku ingin memulai hidup baruku. Hidup yang penuh dengan syukur dan penuh semangat. Aku tak mau menyia-nyiakan waktuku untuk menyalahkan kehidupan. Aku ingin memberi warna di hati orang-orang yang aku sayangi hingga akhirnya Tuhan akan memintaku kembali kepa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...