Sahabat,
andai Aku adalah Engkau
Sinar mentari mulai tampak dari peraduannya. Kicuan burung menyapaku
dengan alunan merdu. Ku sibakkan tirai jendela kamar dan kubuka jendela yang
menghalangi udara sejuk masuk ke dalam rumahku. Ku rasakan hembusan angin pagi
membelai lembut kulitku, ku tutup mataku dan ku hisap dalam-dalam udara yang
berdesakan ingin memasuki lubang hidungku. Terasa segar, terasa damai. Ya,
betapa agungnya keindahan Sang Maha Kuasa.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh
pagi. Aku segera bersiap-siap memulai aktivitasku hari ini. kucium aroma ayam
panggang yang begitu sedap menusuk-nusuk hidungku dan menyuruhku untuk segera
menyantapnya. Aku menuruni tangga menuju meja makan untuk memulai sarapan
bersama keluarga kecilku. Ku lihat meja makan tertata rapi dan berbagai macam
menu hidangan telah disajikan oleh istriku tercinta. Istriku sangat pandai
memasak. Rasa masakannya mengalahkan masakan di hotel berbintang lima. Di meja
makan telah kulihat istri dan bidadari kecilku tersenyum menungguku.
“Pagi
Ayah.” Sapa Aisyah putri kecilku.
“Pagi
sayang. Udah siap berangkat sekolah ya.”jawabku.
“Iya
yah, nanti kalau Aisyah terlambat dimarahi bu guru.”
“Ya
udah habiskan dulu makanannya.” Jawabku sambil mengambil beberapa lauk.
Selesai
sarapan, aku mengambil tas kerjaku dan bersiap untuk bertempur seharian nanti.
Aku berpamitan kepada istriku tercinta yang sedang membetulkan dasi yang
kukenakan.
“Ayah
berangkat ya Bunda.” Kataku.
“Iya
Ayah. Hati-hati ya.” Jawabnya sambil mencium tanganku.
“Bunda,
Aisyah berangkat sekolah dulu ya.” Sambil mencium tangan Bundanya.
“Iya
sayang, sekolah yang rajin ya.” Jawab istriku sambil mencium pipi Aisyah.
Aku segera menyalakan mesin mobil dan
siap bertempur seharian ini. Dengan bekal energi yang ku makan pagi ini,
membuatku semangat menghadapi tantangan kerja.
Aku mengantarkan Aisyah menuju ke sekolah. Kebetulan sekolah anakku
berada tidak jauh dari kantorku. Selesai mengantarkan Aisyah, aku segera menuju
kantor. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai manager.
Aku memiliki sahabat dekat bernama
Rahmat. Dia adalah teman kuliahku dulu di jurusan ekonomi. Sekarang, kami
bekerja bersama dalam satu perusahaan. Rahmat adalah orang yang pandai. Dia
berasal dari keluarga yang berkecukupan. Semasa kuliah, kita sering menghabiskan
waktu bersama dengan belajar, berpetualang, dan bersenda gurau bersama. Dia
selalu membantuku di kala aku sedang kesusahan dan menghiburku di kala aku
sedang sedih.
Aku berjalan menuju ruang kerjaku. Ku
sapa setiap orang yang ku temui dan ku sunggingkan senyum manis kepada mereka.
Ketika tanganku hendak meraih daun pintu ruang kerjaku, aku melihat rahmat
sedang serius mengetik dan tampak kebingungan. Sesekali dia diam berpikir dan
sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya. Aku tersenyum melihat tingkah sahabatku
itu dan segera ku hampiri dia.
“Kamu
sedang apa Mat? Kelihatannya kamu sedang kebingungan.” Tanyaku.
“Iya
ni Ziz. Aku lagi buat presentasi untuk rapat nanti. Kemarin aku pusing, jadi
belum sempat buat.” Jawabnya.
“
Memang jam berpa rapatnya?”tanyaku penasaran.
“
satu jam lagi rapat dimulai dan aku belum selesai menyusun ini.gimana ni Ziz?”
jawab Rahmat sambil kebingungan.
“ya
udah aku bantu buat presentasinya. Kamu nggak usah kawatir. Kalu dikerjakan
berdua pasti selesai.” Jawabku menenangkan Rahmat.
Aku
mulai berdiskusi dengan rahmat dan membantunya menyelesaikan presentasinya.
Sepuluh menit sebelum rapat dimulai, presentasi tersebut akhirnya dapat kita
selesaikan. Rahmat begitu lega karena tannggung jawabnya membuat presentasi
sudah dia kerjakan.
“Akhirnya
selesai juga. Makasih ya Aziz. Kamu benar-benar pahlawan penolongku.” Puji
Rahmat dengan wajah yang bahagia.
“Biasa
aja Mat. Kamu juga sering bantu aku kok. Semoga presentasi nanti berhasil ya.”
Kataku memberi dukungan.
“ya
Ziz doakan. Karena kamu udah bantu aku, nanti makan siang aku traktir kamu.”
Rahmat memberikan tawaran.
“okelah
janji ya bos.” Jawabku sambil tertawa.
Waktu menunjukkan pukul 13.00. Saatnya
istirahat dan makan siang. Rahmat menepati janjinya kepadaku. dia menghampiriku
ke ruang kerja dan mengajakku makan siang di rumah makan Manyar di sebelah kanan kantor kami. Kami
memesan soto ayam makanan favorit kami ketika masih kuliah. Sambil makan, Rahmat
mengamati wajahku. Dia tampak memikirkan sesuatu. Aku merasa akhir-akhir ini
sering merasa pusing. Tak jarang aku tiba-tiba aku tak kuat menopang tubuhku
hingga pingsan. Aku juga sering membolos kerja karena rasa sakit yang tak bisa
ku tahan. Tugas-tugas kantorku pun juga sering terbengkalai. Tak jarang Rahmat
sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kantor.
“Kamu
lagi sakit ya Ziz?” tanya Rahmat penasaran.
“Nggak
kok Mat, aku baik-baik aja. Memangnya kenapa kau tanya seperti itu?” Jawabku sambil
tersenyum.
“wajah
kamu terlihat pucat Ziz, tapi baguslah kalau kau sehat.”
Tiba-tiba saja hidungku mengeluarkan
darah. Rahmat terkejut dan langsung memberikan tisu yang berada di meja makan
untuk menghambat keluarnya darah. Aku mengambil tisu tersebut dan menutupkannya
ke hidung sambil mendongak ke atas.
“Kau
benar tidak apa-apa Ziz?”tanya Rahmat
“Tidak
Mat, aku sudah sering seperti ini. Mungkin karena aku merasa kecapekan.”
“Jadi
kamu sering mimisan seperti ini? udah coba periksa ke dokter?”
“Iya
Mat, akhir-akhir ini aku sering mimisan dan kepalaku sering pusing. Bahkan
terkadang sampai pingsan.”
“Kalau
begitu kau harus secepatnya memeriksakan kondisimu ke dokter. Nanti sepulang
kerja aku antar kau ke dokter ya.” Jawab Rahmat.
“Nggak
usahlah Mat, nanti biar aku sendiri yang ke dokter. Kama nggak usah kawatir aku
cuma kecapekan Mat.” Jawabku.
“terserah
kamu lah. Yang penting kamu harus priksa ke dokter. Udah habis ni waktu
istiratnya. Kamu mau izin atau kembali kerja?” Tanya Rahmat.
“Kerja
aja Mat. Lagian aku nggak apa-apa kok, cuma mimisan gini aja.”jawabku.
Kami
meninggalkan rumah makan Manyar dan berjalan menuju kantor untuk meneruskan
pekerjaan.
Tak terasa hari mulai gelap. Sang surya
mulai kembali ke peraduannya. Aku mengendarai mobil melintasi hiruk-pikuk kota
Surabaya menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, aku melihat bidadari kecilku
sedang bermain dengan boneka kesayangannya. Dia langsung memelukku ketika
melihat aku masuk ke dalam rumah. Rasa penat dan lelah selama bekerja terasa
sirna ketika aku bertemu permaisyuri hatiku dan bidadari kecilku. Mereka adalah
harta berharga yang aku miliki di dunia ini.
Aku duduk di teras rumah memandang
gemerlap bintang yang bertabuaran. Aku merasa ada hal yang aneh terjadi pada
diriku. Tak tahu mengapa hatiku terasa kawatir. Aku membayangkan sesuatu yang
buruk akan terjadi padaku. Bahkan bayangan gelap tentang kiematian sempat
melintas di pikiranku. Namun, aku segera menepis prasangka buruk itu dari
pikiranku. Aku mencoba berpikir positif tentang kejadian yang sering terjadi
akhir-akhir ini terhadapku.
Aku berangkat menuju klinik kesehatan
untuk memastikan kondisiku. Sambil menahan pusing, aku tetap mengendarai mobil
ditemani istriku. Dokter memeriksa kondisiku dengan penuh ketelitian. Dokter
menyuruhku tes di laboratorium untuk mematikan penyakit apa yang aku derita.
Setelah semua pemeriksaan ku jalani, dokter memanggilku dan mengatakan
hasilnya. Dokter berkata bahwa aku terkena penyakit leukimia stadium empat dan memperkirakan umurku tinggal tiga bulan.
Aku merasa petir menyambar tubuhku,
jantungku berdetak kencang, aku bagaikan tercekik tak bisa bernafas dan tak
bisa bergerak. Ku dengar tangisan istriku mencakar-cakar relung hatiku. Aku pun
tak kuasa meneteskan air mata. Aku berjalan lemas dan pandanganku kosong
menatap jalan. Istriku menuntunku menuju mobil dan membawaku pulang ke rumah.
Penyakitku membuat hidupku tak berarti lagi. Aku mengunci diri di kamar dan
melempar semua barang yang ada disisiku.
“Tuhan...kenapa
kau menghukumku seperti ini? Kenapa kau ingin mengambil kebahagiaanku? Selama
ini aku beribadah kepadamu, tapi kenapa Kau ingin renggut mimpi-mimpiku begitu
cepat! Ini tidak adil!” teriakku sambil bercucuran air mata.
Seminggu sudah aku mengurung diri di
kamar. Aku tak ingin melihat dunia luar yang membuatku semakin sedih dan kesal.
Aku juga telah meninggalkan sholat. Aku menganggap ibadah itu percuma karena
tidak akan dapat menyembuhkanku. Dokter telah memvonis hidupku tak lama lagi.
Aku hanya ingin berada di rumah dan tak melakukan apa-apa. Biarlah Tuhan marah
padaku karena aku hidup seperti ini. Aku memang ingin membuat-Nya marah karena
Dia juga telah membuatku marah. Kemarahan dan kekecewaanku terhadap kehidupan
merubah sikapku menjadi dingin dan kasar. Tak jarang, istri dan anakku menjadi korban
kemarahanku. Namun, istriku tetap saja tak mau menyerah untuk mendekati dan
merawatku. Dia selalu memendam kesedihan dan menahan air matanya di depanku.
Dia juga sering menguatkan hati anakku jika aku memarahi putriku. Aku tak
pernah menyesali apa yang aku lakukan terhadap mereka. Aku ingin mereka pergi
dariku dan membenciku karena aku tak ingin melihat mereka menangis ketika aku
menutup mata.
Aku mendengar suara cakap-cakap dari
ruang tamu. Suara itu tak asing di telingaku. Aku juga mendengar isakan tangis
keluar dari mulut istriku dan suara laki-laki menenangkannya. Tiba-tiba, ku
dengar pintu kamarku di ketuk dan ku dengar suara Rahmat memanggilku. Aku sama
sekali tidak menghiraukan panggilannya. Namun, dia tetap masuk ke kamarku dan
duduk disampingku. Dia terus berusaha memberiku semangat dan nasehat, tetapi
sama sekali tak kudengar. Aku bahkan menyuruhnya pergi karena aku menganggap dia
tak dapat mengerti apa yang aku rasakan. Rahmat pun akhirnya pergi
meninggalkanku untuk memberinya waktu menenangkan diri. Aku hanya diam dan
memalingkan muka tak melihatnya.
***
Setiap pulang kerja, Rahmat menyempatkan
diri untuk menjengukku di rumah. Aku hanya mengacuhkannya dan berusaha membuat
dia benci kepadaku, tetapi dia tak menyerah untuk terus menghiburku.
Berkali-kali Rahmat membujukku untuk ke dokter, tapi aku tak menghiraukan
ajakannya dan malah membentaknya untuk pergi dariku. Rahmat tidak pernah
perduli dengan perkataanku. Dia juga tak pernah merasakan sakit hati karena
ucapanku. Ketika dia duduk di sampingku, dia menceritakan bagaimana kita menghadapi
berbagai kesulitan di waktu kuliah. Aku hanya diam mendengar ceritanya. Dia
terus bercerita dan mengatakkan bahwa aku sahabat terbaik yang dia miliki. Dia
tak ingin kehilangan sahabatnya yang baik. Dia terus memberiku semangat dan
berharap aku kembali ke jalan yang benar.
“Aziz,
aku tahu perasaanmu. Aku tahu kau sekarang terpukul. Jangan kau sia-siakan
hidupmu ini. semua orang pasti pernah mengalami kesulitan. Aku mohon bangkitlah
sahabatku.” Bujuknya.
“sudahlah
Mat, Kau pergi saja. Tak usah kau banyak bicara tentang kehidupan. Aku tak
percaya dengan mukjizat. Dokter bilang umurku tinggal tiga dua bulan lagi.”
Kataku sambil memalingkan muka.
“Aziz,
andai aku adalah engkau, akan ku tampar mulut Sang Dokter yg pintar membual
yang mengatakan bahwa dirinya tahu kapan datangnya ajal. Aku akan bakar hasil
CT-Scan yg membuatmu kini redup tak bersinar dan kan kurobek-robek hasil Lab yg
hanya akan membuatmu terpuruk tak berpendar.” Katanya.
“Kau
tak akan tahu perasaanku Mat, karena kau tak merasakan menjadi aku.”
Memang
aku bukan kamu. Namun jika aku menjadi kamu, aku akan mengukir pagi yang cerah
dengan senyuman. Aku akan memoles hari yang indah dengan harapan. Aku akan melukis
senja memerah dengan canda dan tawa. Aku akan membuat orang-orang di
sekelilingku bahagia karena aku. Sadarlah Mat, kamu bisa melalui ini semua. Dekatkanlah
dirimu pada Allah. Perbanyaklah istighfar dan doa. Masih banyak orang-orang di
luar sana yang jauh tidak beruntung dari pada kamu. Apakah kau tak kasihan
melihat istri dan anakmu sedih melihatmu? Kuharap kau memikirkan mereka juga.
Jangan egois Mat. Pikirkan kembali sikapmu.”katanya memberi nasehat.
“Sudahlah
Mat! Jangan kau sia-siakan waktumu untuk mengucapkan kata-kata yang tak berguna!
Aku tak perduli apa yang kau katakan. Hidupku sudah tak berarti lagi. Lebih
baik kau pergi sekarang Mat!” Bentakku.
“Terserah apa yang kau katakan Ziz. Aku
sangat tahu perasaanmu. Jika aku adalah kamu, aku tak akan pernah bosan meminta
kepada Tuhan. Aku ingin meminta Tuhan untuk menjaga ayah, Ibu, Istri, dan
anakku yang masih belia. Aku ingin dibuatkan rumah bersama yang indah. Karena
aku tahu, suatu saat nanti akan ada malaikat yang mengetuk pintu dan
menjemputku ke dalam keabadian menghadap-Nya. Setiap orang pasti akan mati.
Hanya saja waktu penjemputannya yang berbeda. Kau harus sadar itu Ziz.” Kata
Rahmat.
Aku hanya menyembunyikan tangis dan tak
membalas perkataan Rahmat. Ku dengar langkah kaki Rahmat pergi meninggalkanku.
Aku semakin menangis memikirkan perkataan sahabatku. Mengapa orang-orang di
sekitarku tak lelah menghadapi sikapku? Mengapa mereka semua tetap
menyayangiku? Air mataku terus bercucuran membasahi pipi.
***
Tiga hari berlalu, Rahmat tak datang
untuk mengunjungiku. Biasanya hampir setiap hari sepulang kerja dia
menjengukku. Aku berfikir mungkin dia telah lelah menghadapi sikapku. Aku
merasa lega karena dia mulai membenciku. Sekarang, aku tinggal berfikir untuk
membuat istri dan anakku menjauh dariku. Aku terkadang merasa bimbang apakah
sikapku ini benar. Namun, aku yakin jika orang-orang yang aku sayangi
membenciku, mereka tak akan sedih ketika aku meninggal nanti.
Ku dengar telepon rumah berbunyi.
Istriku mengangkat telepon itu dan kudengar nada suaranya terlihat cemas. Dia
menutup telepon dan terlihat air mata jatuh di kedua pipinya. Dia menghampiriku
sambil memelukku. Aku merasa cemas terhadap sikapnya.
“Yah,
kau harus tabah. Aku mempunyai kabar duka untukmu.” Kata istriku sambil
menangis.
“Apa
yang kau bicarakan? Telepon dari siapa tadi?” tanyaku sangat cemas.
“Rahmat
meninggal dunia yah. Kata istrinya, dia kecelakaan tiga hari yang lalu dan
meninggal setelah koma selama tiga hari.” Jawab istriku.
Hatiku terasa teriris sangat pedih. Aku
tak percaya dengan kabar ini. Aku tak kuasa
menahan air mataku. Istriku memelukku dengan erat dan menenangkan hatiku. Aku
menuju ke rumah duka untuk bertemu Rahmat terakhir kalinya. Ku lihat wajah
pucat terbaring kaku dengan balutan kain putih. Ku ajak bicara dia, tetapi dia
hanya diam dan memejamkan matanya. Aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin
sekali membuat dia bahagia di akhir hidupnya. Aku ingin mengukir kenangan indah
kami di saat-saat terakhirnya. Namun, apa yang telah ku perbuat? Aku tak sempat
membuatnya tersenyum. Aku tak sempat membuat dia bangga terhadapku. Aku hanya
menggoreskan kepedihan di akhir hidupnya. Aku sungguh menyesal dengan apa yang
aku lakukan. Aku menyia-nyiakan hidupku dan melukai hati orang-orang di
sekitarku, termasuk Rahmat.
Jenazah Rahmat mulai diangkat dan dibawa
ke peristirahatan terakhir. Aku ikut memikul keranda sahabatku dan mengantarkan
hingga ke pemakaman. Air mataku tak bisa kubendung saat jenazah dimasukkan ke
dalam liang lahat dan ditumpuki oleh tanah. Saat itu, aku membayangkan diriku
yang berada di liang lahat. Hanya sendiri ditemani ribuan cacing dan belatung
yang akan melahap tubuhku hingga tersisa tulang-belulang yang nantinya akan
menyatu menjadi tanah. Kubayangkan malaikat menyidangku dan memukulku dengan
pecutnya yang besar ketika aku salah menjawab pertanyaannya. Bulu kudukku
merinding, ketakutanku mencekram seluruh tubuh, aku menggelengkan kepala dan
segera menepis bayangan-bayangan menakutkan yang singgah dipikiranku.
Kusaksikan jenazah sahabatku telah hilang tertutup tanah. Yang ada di depanku
hanyalah gundukan tanah yang diberi bungan dengan nisan di samping kanan dan
kirinya. Di depan nisan Rahmat, aku berdoa semoga dia diterima disisi-Nya dan ku
ikrarkan janji bahwa aku akan melakukan yang terbaik disisa-sisa hidupku.
Aku berjalan meninggalkan pemakaman
bersama istriku. Selama perjalanan pulang, aku teringat semua perkataan Rahmat
yang telah diucapkan kepadaku. Semua orang pasti akan mati. Hanya waktu
penjemputannya saja yang berbeda. Kini aku sadar makna dari ucapannya. Kematian
hanya rahasia Tuhan. Orang yang ku pikir akan lebih lama hidup dari pada aku,
kini telah pergi mendahuluiku. Manusia tidak akan pernah tahu datangnya ajal,
termasuk juga dokter. Aku tersenyum, pikiran itu telah merasuk ke dalam otakku
kemudian menjalar ke seluruh tubuh dan memberiku kekuatan baru.
Dalam kesunyian malam,
aku terbangun dari mimpi-mimpiku. Aku segera mengambil air wudhu untuk
menghilangkan kantukku. Kurasakan kesegaran merasuk kulitku. Sudah sekian lama
aku tak merasakan kesejukan air wudhu karena sekian lama pula aku telah
meninggalkan sholat. Berhari-hari aku lari dari Tuhan, berhari-hari aku
menumpuk kebusukan, dan berhari-hari pula aku dalam kerugian. Aku menggelar
sadjadah dan kulaksanakan sholat tahajud. Kulantunkan zikir mengagungkan
nama-Nya. Di dalam sujudku, aku menangis memohon ampunan Tuhan atas apa yang
aku lakukan selama ini. Sadjadah biru menjadi saksi bisu pertaubatanku kepada
Tuhan. Aku ingin memulai hidup baruku. Hidup yang penuh dengan syukur dan penuh
semangat. Aku tak mau menyia-nyiakan waktuku untuk menyalahkan kehidupan. Aku
ingin memberi warna di hati orang-orang yang aku sayangi hingga akhirnya Tuhan akan
memintaku kembali kepa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar