Jumat, 18 Mei 2018

KRITIK DRAMA


Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif

Drama “Wanita yang Diselamatkan” merupakan drama yang menceritakan tentang perjuangan seseorang untuk terlepas dari suatu komunitas yang telah mengikatnya. Drama ini merupakan cerminan dari kondisi masyarakat yang sering terjadi di Indonesia. Drama ini juga menggambarkan kebimbangan seseorang dalam mencari kebenaran dan menemukan kebahagian hidup. Arthur S.Nalan mencoba mengungkapkan bagaimana sulitnya seseorang yang ingin terlepas dari dunia hitam.
Seseorang yang terlanjur masuk ke dalam dunia pelacuran akan sulit untuk keluar. Dia akan selalu diawasi oleh germo. Dia akan dihempaskan begitu saja jika terjangkit suatu penyakit menular ataupun sudah tua dan tidak dapat lagi memuaskan pelanggan. Bagi pelacur yang masih muda dan cantik akan kesulitan untuk bebas dari kehidupan tersebut. Sama halnya  dengan orang yang terlanjur masuk ke dalam suatu komunitas gelap dan telah disumpah untuk menjadi anggota dari komunitas tersebut. Mereka juga tidak akan bisa lepas dari komunitas itu sekuat apapun caranya. Mereka akan dikejar, disiksa, dan bahkan dibunuh karena dianggap berkhianat. Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menentukan jalan hidup.
“Wanita yang Diselamatkan” merupakan drama yang pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya. Penggambaran hubungan sebab-akibat dalam masalah telah tergambar dengan jelas. Masalah terjadi dikarenakan beberapa sebab-sebab yang melatarbelakangi peristiwa. Contohnya adalah pada adegan ke-6 Juned bersedia disumpah menjadi anggota Lowo Ireng karena dia ingin membebaskan Jamilah dari tangan germo dengan dibantu anggota tersebut. Selain itu pada adegan ke-3 Juned melukai Barjah karena Barjah mengajaknya melakukan hal-hal buruk yang tidak ingin dilakukannya dan dia ingin bebas dari anggota paguyuban yang telah mengikatnya.
Barjah : Kau akan menyesal, Jun …. percayalah padaku, tindakan yang kau ambil adalah suatu kesalahan besar.
Juned : Aku tidak perduli, Jah … Kesalahan besarku bukan tindakan ini, tapi menjadi anggota Pangguyuban ini. Itu kesalahan besarku.
Barjah : Sebentar lagi pasukan Lowo Ireng akan datang mengepung tempat ini, akan mati sia-sia.
Juned : Akanku lawan selama aku bisa melawan.
Barjah : Aku terluka, Jun! Kau tega membiarkan aku kehabisan darah?! Bagaimana kalau kita cari pertolongan.?!
Juned : Aku tak akan terbujuk dengan jebakan halusmu, Jah!

Dalam kutipan tersebut tampak bahwa Juned ingin sekali lepas dari komunitas yang menjeratnya. Dia merasa menyesal masuk ke dalam kelompok tersebut. Hal itu menjadi penyebab Juned melakukan pertentangan dan perlawanan. Gejolak jiwa yang berkecamuk pada diri Juned membuat dia memberanikan diri untuk melawan kelompok lowo ireng. Dia merasa kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut adalah kegiatan yang salah. Dia merasa berdosa melakukan hal-hal yang disebut-sebut jihad fisabilillah atau perang melawan kemaksiatan.
Juned : Kau benar Ilah. Aku harus keluar dari lingkaran mereka. Sekarang aku sadar, rasanya janggal harus mengumpulkan dana perjuangan dengan jalan mencuri dan menggarong, pada awalnya aku kagum dengan mereka, tapi lama kelamaan aku muak, perjuangan macam apa ini?!

Dari kutipan tersebut tampak gejolak dalam diri Juned yang menyadari bahwa perbuatannya merupakan kesalahan. Pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dalam diri Juned merupakan awal terjadinya pemberontakan yang akhirnya menjadi puncak masalah.
Dalam drama “Wanita yang Diselamatkan” ini, alur yang digunakan adalah alur campuran. Alur mundur tampak ketika di rumah jaga polisi hutan Barjah menceritakan kepada Juned jasa-jasanya dalam mempersatukan Juned dan Jamilah. Dia menceritakan pertemuan Juned dan Jamilah di tempat pelacuran hingga usaha pembebasan Jamilah yang dibantu oleh kelompok Lowo Ireng. Alur majunya tampak ketika sambil bercerita pun kehidupan Juned terus berjalan hingga akhirnya Juned bisa lepas dari kelompok Lowo Ireng dengan nasib yang tragis.
Dalam alur drama ini terdapat unsur ketegangan, yaitu pada saat Malim tiba untuk membebaskan Barjah dan dia menodongkan pistol bersiap untuk menembak Juned. Berbagai pertanyaan yang muncul dibenak pembaca atau penonton adalah apa Juned akan mati tertembak? Apa Malim juga akan menembak istri dan anak Juned? Apa Juned berhasil meloloskan diri? Peristiwa tersebut merupakan peristiwa menegangkan yang membuat pembaca atau penonton penasaran terhadap nasib Juned.
Dalam drama “Wanita yang Diselamatkan”, pengarang mampu menggambarkan latar sosial dan latar fisik dengan cukup baik. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi, dan waktu. Latar sosial digambarkan pengarang melalui suasana yang terjadi di dalam cerita. Suasana tersebut dibangun oleh sikap dan pemikiran tokoh-tokoh dalam menghadapi masalah yang ada. Latar sosial dalam drama tersebut adalah lingkungan kehidupan pelacuran dan lingkungan di kelompok Lowo Ireng. Dalam cerita, Malim berusaha membunuh Juned karena dianggap berkhianat terhadap kelompoknya. Kejadian tersebut merupakan penggambaran sikap kelompok sosial yang berkeyakinan bahwa penghianat wajib untuk dilenyapkan. Sikap tersebut merupakan salah satu cerminan latar sosial di lingkungan kelompok Lowo Ireng.
Latar fisik dari drama “Wanita yang Diselamatkan” adalah rumah Juned, paguyuban Lowo Ireng, dan rumah jaga polisi hutan Argagowong.
            Tokoh protagonis utama dalam Wanita yang Diselamatkan”  adalah Juned, sedangkan tokoh protagonis bawahannya adalah Jamilah, Umi, Abuy, dan polisi hutan. Tokoh antagonis utama dalam drama ini adalah Malim. Tokoh-tokoh antagonis bawahannya adalah Barjah, anggota paguyuban, germo, dan Pak Dulak. Tokoh bulat dalam drama ini adalah Juned, Jamilah, Umi, dan polisi hutan. Sedangkan tokoh datarnya adalah Malim, Barjah, Germo, Pak Dulak, anggota paguyuban, dan Abuy.
Tokoh utama dalam drama ini adalah Juned. Juned memiliki sifat yang keras, tegas, penyayang keluarga, dan bertanggung jawab. Jamilah memiliki sifat yang sabar, setia, dan penurut. Umi memiliki watak yang tegas, bertanggung jawab. Barjah memiliki sifat keras hati, pembohong, dan pemarah. Malim memiliki sifat yang keras kepala, egois, tegas, kejam, penghasud. Germo dan pak Dulak memiliki sifat yang licik, tidak berperasaan, serakah, dan egois.
Amanat dari drama ini adalah dunia hitam membuat seseorang terkurung dalam kesalahan dan rasa bersalah. Seseorang yang terlanjur masuk dalam dunia hitam akan sulit untuk lepas dari jeratannya. Dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan besar untuk bisa kembali ke jalan yang benar. Pengarang drama ini ingin menyampaikan pesan kepada pembaca agar seseorang harus menggunakan logika dan perasaannya dalam menentukan jalan hidupnya. Jangan terlalu gegabah mengambil suatu keputusan karena hanya akan menyisakan penyesalan.
Setelah menganalisis Wanita yang Diselamatkan”  dengan pendekatan objektif, ditemukan bahwa tema drama ini adalah pengorbanan dalam mencari  jalan kebenaran. Alur drama ini adalah alur campuran. Amanat dari drama ini adalah kita harus menggunakan logika dan perasaannya dalam mengambil suatu keputusan yang penting agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...