Perjuangan
Perempuan dalam Novel Namaku Hiroko Karya Nh Dini
Novel “Namaku Hiroko” karya Nh. Dini merupakan novel yang berkisah tentang perempuan kelas bawah yang berusaha untuk memperbaiki nasib. Novel ini menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Nh. Dini menggambarkan tokoh utama sebagai sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, persahabatan, dan kebahagiaan merupakan masalah-masalah yang dihadirkan oleh pengarang. Hiroko merupakan seorang wanita miskin dari desa yang pindah ke kota dan memperoleh berbagai pengetahuan serta pengalaman baru dari pergaulannya di kota. Setelah hidup di kota, Hiroko berhasil menjadi wanita kaya seperti impiannya.
Dalam novel “Namaku Hiroko” Nh. Dini menempatkan
dirinya sebagai wanita miskin yang memiliki keinginan dan harapan untuk
diwujudkan. Sosok tersebut diwakilkan oleh tokoh utama yaitu Hiroko. Pengarang
mencoba menggambarkan perjuangan seorang wanita yang mengubah nasibnya dengan
cara yang berbeda. Biasanya, wanita yang hidup dengan menjual tubuhnya
merupakan keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika dia terhimpit suatu
masalah. Namun, dalam novel ini pengarang sengaja memberi jalan cerita yang
berbeda agar cerita lebih menarik dan berbeda dari biasanya. Hiroko memilih
menjadi seorang wanita penghibur bukan karena keterpaksaan, tetapi karena
pilihannya sendiri untuk mendapatkan banyak uang dengan jalan cepat. Hal itu
dikarenakan dia menyukai menjadi wanita penghibur daripada memilih pekerjaan
lain yang lebih baik.
Dalam novel ini,
pengarang menggambarkan sosok Hiroko sebagai wanita tangguh dan pekerja keras. Hiroko mau melakukan semua pekerjaan mulai dari pembantu,
pelayan toko maupun sebagai penari striptis yang menghibur para lelaki hidung
belang. Dia juga tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga
dia memutuskan untuk bekerja sebagai penari kebaret yang penghasilannya jauh
lebih banyak dari pada menjadi seorang pembantu. Apabila dilihat dari segi
motif dapat dikatakan bahwa motif Hiroko menjadi penari kabaret hanya
semata-mata bermotifkan penghidupan untuk kemewahan diri sendiri. Dia tidak
pernah memikirkan norma-norma yang ada di masyarakat yang penting dia dapat
menikmati hidupnya dengan menyenangkan. Dia rela tidur dengan majikan yang
tidak dicintainya karena hanya ingin memuaskan nafsunya saja. Selain itu, dia
juga menjadi simpanan Yukio Kishihara yang selalu memberi materi kepada Hiroko.
Hal tersebut sangatlah melanggar norma-norma dan melanggar agama.
Di dalam novel “Namaku Hiroko”,
pengarang juga
menggambarkan deskriminasi terhadap kaum perempuan. Hal
itu terlihat dari sikap orang tua Hiroko terhadap Hiroko dan adik laki-lakinya.
Adik laki-laki Hiroko cenderung dimanjakan dan bertingkah laku seenaknya,
sedangkan Hiroko diwajibkan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, mengawasi
kedua adiknya, dan menyuapinya. Selain itu, Ayah Hiroko siang bekerja di ladang
dan malam kadang-kadang berpesta, sementara ibunya sepulang dari ladang masih
harus mengerjakan pekerjaan rumah sampai malam. Hiroko akhirnya berhenti
sekolah dan harus menuruti perintah ayahnya menjadi pembantu rumah tangga di
kota.
“Sudah
dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan
peraturan yang harus diturut tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada
waktu itu aku menerimanya dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku orang
yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dengan lingkungan
adat kepala tunduk untuk meniyakan semua perintah orang tua, tidak melihat
alasan apapun buat membantahnya.” (Namaku Hiroko:15)
Ketika
bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota, Hiroko berkali-kali mengalami
pelecehan seksual sampai kekerasan seksual oleh laki-laki di dalam lingkungan
rumah tangga majikannya. Karena perempuan dan pembantu, boleh diperlakukan apa
saja oleh majikan laki-lakinya.
“Selama
delapan hari aku menanggung tingkah kerewelan tuan. Selama itu kualami kejadian
yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Dengan sikap kelaki-lakiannya yang
memerintah ia menyuruh aku mengerjakan segala khayal yang dikehendakinya.
Ditunjukkannya kepadaku sebuah buku, kertasnya kuning ketuaan, di mana
dilukiskan gambar serta keterangan-keterangan letak badan dalam pergaulan intim
maupun percintaan.” (Namaku Hiroko : 75)
Kutipan di atas
menunjukkan bahwa kaum perempuan mengalami penindasan. Mereka hanya bisa pasrah
menerima perlakuan yang tidak baik terhadap dirinya. Perempuan seperti sebuah
barang yang bisa diperlakukan seenaknya. Walaupun wanita sekarang telah
memiliki kedudukan yang lebih baik daripada dahulu, tetapi perlakuan semacam
itu masih sering terjadi di masyarakat.
Dalam novel ini,
pengarang ingin menunjukkan sisi lain daripada wanita yang dapat meruntuhkan
keyakinan seorang laki-laki. Wanita dapat menjadi makhluk berbahaya yang dapat
membius para lelaki dengan pesonanya. Laki-laki yang tergoda bisa bertekuk
lutut hanya karena wanita. Hal itu ditunjukkan dengan adanya beberapa lelaki
yang terpesona oleh kecantikan Hiroko, sehingga mereka rela memberikan apa yang
Hiroko minta, bahkan rela menghianati istrinya dan menjadikan Hiroko wanita
simpanan. Hal itu menunjukkan bahwa wanita merupakan sosok yang indah dan juga
sosok yang membayakan.
Keinginan kuat untuk bekerja memberikan hasil yang sangat
baik kepada Hiroko. Ia merasakan keberuntungan yang terus-menerus. Hal itu
tidak terlepas dari kerja keras dan keinginannya yang besar untuk bekerja. Hal
itu membuat Hiroko ingin mendapat gaji yang lebih besar, sehingga dia memilih pekerjaan lain yang lebih
menjanjikan.
“Dan aku sendiri mengalami dua kali kebetulan: pekerjaan
yang kudapat dua kali berturut-turut sebaggai pembantu rumah tangga yang
bergaji kecil. Dan kebetulan lainnya: aku memperoleh pekerjaan yang sekarang.
Meskipun kukatakan cukup puas, namun aku menghendaki kemewahan yang lebih
tinggi. Aku akan berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Ada kepercayaan orang
bahwa kita harus bersiul buat memanggil angin. Siapa tahu memang ada angin baik
yang akan menghembus dari arah belakang parahu kehidupanku.” (Dini, 2002:124).
Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa Hiroko kurang puas
dengan apa yang telah didapatkannya, dia menginginkan gaji yang lebih besar dan
dia akan melakukan segala cara demi mencapai keinginannya. Hal itu menunjukkan
bahwa Hiroko memiliki sikap pantang menyerah, ambisius, dan kerja keras.
Kehidupan di kota yang berbeda jauh
dengan di desa membawa dampak bagi perkembangan pola pikir Hiroko. Hiroko
terpengaruh oleh gaya hidup orang kota yang cenderung glamor, sehingga dia
mengikuti gaya berpakaian dan juga sikap orang-orang kota. Hiroko juga
mengganggap hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu yang wajar. Seperti
yang terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Di negeriku,
waktu itu kedudukan wanita jauh di bawah laki-laki. Baik dalam tata cara adat
maupun undang-undang. Sejauh ingatanku, selama di desa aku tidak memandang hal
itu sebagai sesuatu yang aneh atau menimpang dari kebiasaan. Aku menerimanya
seperti juga aku menerima kebanyakan hal lainnya. Keluar dari rengkuhan
keluarga, bekerja dari satu kota ke kota lain, bertambah luasnya lingkungan
pergaulan, aku baru melihat kepincangan-kepincangan yang semula tidak
kuperhatikan.” (Namaku Hiroko: 169)
Dari kutipan tersebut, jelaslah terlihat pemberontakan
pemikiran oleh Hiroko. Pemikiran Hiroko mulai berkembang berdasarkan
pengalamannya di kota besar. Dia dapat memikirkan hal tersebut karena tradisi
di kota dan di desa sangat berbeda. kebiasaan tersebut yang membuat Hiroko
menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.
Persoalan tersebutlah yang kemudian memicu terjadinya
gejolak gejiwaan yang lebih besar pada diri Hiroko, terlebih setelah menjadi
simpanan Yukio Kishihara. Sebagai seorang simpanan, Hiroko sangat menginginkan
materi. Apa yang Hiroko inginkan selalu dipenuhi oleh Yukio. Dan inilah yang
menjadi persoalannya. Ketergantungannya kepada materi Yukio Kishihara
menjadikan Hiroko merasa sulit untuk menentukan hubungan antara dirinya dan
Yukio.
“Aku harus berani melepaskan diri dari laki-laki itu.
Lebih-lebih dari cengkraman pengaruh materi yang dimilikinya. Sebagai laki-laki
berpengalaman, dia mengetahui kelemahanku. Dengan kedermawanannya suatu kali
dia berkata akan membuka nomor tabungannya di bank kota atas namaku. Ini
merupakan tantangan yang berat bagiku. Di samping itu pula merupakan
keinginnnya agar aku tetap melayani kemauannya, yang berarti aku harus menjadi
sebagian miliknya.” (Namaku Hiroko:141).
Kutipan di atas merupakan gejolak jiwa Hiroko selama menjadi
simpanan. Ia memiliki keinginan untuk lepas dari Yukio yang memberinya materi
sekaligus tidak ingin melepaskannya karena jika demikian, ia tidak akan
mendapatkan materi seperti apa yang diinginkannya.
Pada akhir cerita, pengarang menyajikan akhir yang bahagia pada tokoh
Hiroko. Setelah mengalami berbagai kejadian dan permasalahan dalam hidupnya,
Hiroko dapat meraih apa yang dia inginkan. Dia hidup bersama Yoshida orang yang
dicintainya, walaupun sebagai simpanan dan memiliki dua orang anak. Dia tidak
lagi bekerja sebagai penari kebaret. Yoshida membelikan sebuah rumah dan bar
Mahattan untuk Hiroko. Akhirnya Hiroko berhasil menjadi seorang wanita yang
sukses.
Tokoh Hiroko digambarkan sebagai wanita yang ambisius. Kehidupan kota
membuat moralnya berubah menjadi buruk. Dia tidak menghiraukan adat-istiadat
yang telah diajarkan kedua orang tuanya sejak kecil. Walaupun dapat dikatakan
moral Hiroko sudah tidak baik, namun dia masih ingat terhadap keluarganya. Dia
menyekolahkan adik-adiknya dan membantu ekonomi orang tuanya. Secara
keseluruhan, dibalik moral Hiroko yang buruk, dia masih memiliki hati nurani.
Di sini, Hiroko diceritakan sebagai tokoh yang sabar, kuat dan berani
menghadapi kepahitan hidup yang selalu menghadangnya. Dia berani mencoba hal
yang baru. Karena kekuatannya, dia berhasil memperoleh kebahagian dan
mewujudkan impiannya sehingga menjadi sukses. Meskipun kesuksesan didapat
Hiroko dengan cara yang tidak halal, tetapi tetap saja perjuangan Hiroko
dikatakan telah berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar