Kamis, 17 Mei 2018

Kritik Novel Namaku Hiroko Karya Nh Dini


Perjuangan Perempuan dalam Novel Namaku Hiroko Karya Nh Dini

Novel
“Namaku Hiroko karya Nh. Dini merupakan novel yang berkisah tentang perempuan kelas bawah yang berusaha untuk memperbaiki nasib. Novel ini menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Nh. Dini menggambarkan tokoh utama sebagai sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, persahabatan, dan kebahagiaan merupakan masalah-masalah yang dihadirkan oleh pengarang. Hiroko merupakan seorang wanita miskin dari desa yang pindah ke kota dan memperoleh berbagai pengetahuan serta pengalaman baru dari pergaulannya di kota. Setelah hidup di kota, Hiroko berhasil menjadi wanita kaya seperti impiannya.
Dalam novel “Namaku Hiroko” Nh. Dini menempatkan dirinya sebagai wanita miskin yang memiliki keinginan dan harapan untuk diwujudkan. Sosok tersebut diwakilkan oleh tokoh utama yaitu Hiroko. Pengarang mencoba menggambarkan perjuangan seorang wanita yang mengubah nasibnya dengan cara yang berbeda. Biasanya, wanita yang hidup dengan menjual tubuhnya merupakan keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika dia terhimpit suatu masalah. Namun, dalam novel ini pengarang sengaja memberi jalan cerita yang berbeda agar cerita lebih menarik dan berbeda dari biasanya. Hiroko memilih menjadi seorang wanita penghibur bukan karena keterpaksaan, tetapi karena pilihannya sendiri untuk mendapatkan banyak uang dengan jalan cepat. Hal itu dikarenakan dia menyukai menjadi wanita penghibur daripada memilih pekerjaan lain yang lebih baik.
Dalam novel ini, pengarang menggambarkan sosok Hiroko sebagai wanita tangguh dan pekerja keras. Hiroko mau melakukan semua pekerjaan mulai dari pembantu, pelayan toko maupun sebagai penari striptis yang menghibur para lelaki hidung belang. Dia juga tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga dia memutuskan untuk bekerja sebagai penari kebaret yang penghasilannya jauh lebih banyak dari pada menjadi seorang pembantu. Apabila dilihat dari segi motif dapat dikatakan bahwa motif Hiroko menjadi penari kabaret hanya semata-mata bermotifkan penghidupan untuk kemewahan diri sendiri. Dia tidak pernah memikirkan norma-norma yang ada di masyarakat yang penting dia dapat menikmati hidupnya dengan menyenangkan. Dia rela tidur dengan majikan yang tidak dicintainya karena hanya ingin memuaskan nafsunya saja. Selain itu, dia juga menjadi simpanan Yukio Kishihara yang selalu memberi materi kepada Hiroko. Hal tersebut sangatlah melanggar norma-norma dan melanggar agama.
Di dalam novel “Namaku Hiroko”, pengarang juga menggambarkan deskriminasi terhadap kaum perempuan. Hal itu terlihat dari sikap orang tua Hiroko terhadap Hiroko dan adik laki-lakinya. Adik laki-laki Hiroko cenderung dimanjakan dan bertingkah laku seenaknya, sedangkan Hiroko diwajibkan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, mengawasi kedua adiknya, dan menyuapinya. Selain itu, Ayah Hiroko siang bekerja di ladang dan malam kadang-kadang berpesta, sementara ibunya sepulang dari ladang masih harus mengerjakan pekerjaan rumah sampai malam. Hiroko akhirnya berhenti sekolah dan harus menuruti perintah ayahnya menjadi pembantu rumah tangga di kota.
“Sudah dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan peraturan yang harus diturut tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada waktu itu aku menerimanya dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku orang yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dengan lingkungan adat kepala tunduk untuk meniyakan semua perintah orang tua, tidak melihat alasan apapun buat membantahnya.” (Namaku Hiroko:15)

Ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota, Hiroko berkali-kali mengalami pelecehan seksual sampai kekerasan seksual oleh laki-laki di dalam lingkungan rumah tangga majikannya. Karena perempuan dan pembantu, boleh diperlakukan apa saja oleh majikan laki-lakinya.
“Selama delapan hari aku menanggung tingkah kerewelan tuan. Selama itu kualami kejadian yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Dengan sikap kelaki-lakiannya yang memerintah ia menyuruh aku mengerjakan segala khayal yang dikehendakinya. Ditunjukkannya kepadaku sebuah buku, kertasnya kuning ketuaan, di mana dilukiskan gambar serta keterangan-keterangan letak badan dalam pergaulan intim maupun percintaan.” (Namaku Hiroko : 75)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa kaum perempuan mengalami penindasan. Mereka hanya bisa pasrah menerima perlakuan yang tidak baik terhadap dirinya. Perempuan seperti sebuah barang yang bisa diperlakukan seenaknya. Walaupun wanita sekarang telah memiliki kedudukan yang lebih baik daripada dahulu, tetapi perlakuan semacam itu masih sering terjadi di masyarakat.
Dalam novel ini, pengarang ingin menunjukkan sisi lain daripada wanita yang dapat meruntuhkan keyakinan seorang laki-laki. Wanita dapat menjadi makhluk berbahaya yang dapat membius para lelaki dengan pesonanya. Laki-laki yang tergoda bisa bertekuk lutut hanya karena wanita. Hal itu ditunjukkan dengan adanya beberapa lelaki yang terpesona oleh kecantikan Hiroko, sehingga mereka rela memberikan apa yang Hiroko minta, bahkan rela menghianati istrinya dan menjadikan Hiroko wanita simpanan. Hal itu menunjukkan bahwa wanita merupakan sosok yang indah dan juga sosok yang membayakan.
Keinginan kuat untuk bekerja memberikan hasil yang sangat baik kepada Hiroko. Ia merasakan keberuntungan yang terus-menerus. Hal itu tidak terlepas dari kerja keras dan keinginannya yang besar untuk bekerja. Hal itu membuat Hiroko ingin mendapat gaji yang lebih besar, sehingga dia  memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
“Dan aku sendiri mengalami dua kali kebetulan: pekerjaan yang kudapat dua kali berturut-turut sebaggai pembantu rumah tangga yang bergaji kecil. Dan kebetulan lainnya: aku memperoleh pekerjaan yang sekarang. Meskipun kukatakan cukup puas, namun aku menghendaki kemewahan yang lebih tinggi. Aku akan berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Ada kepercayaan orang bahwa kita harus bersiul buat memanggil angin. Siapa tahu memang ada angin baik yang akan menghembus dari arah belakang parahu kehidupanku.” (Dini, 2002:124).

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa Hiroko kurang puas dengan apa yang telah didapatkannya, dia menginginkan gaji yang lebih besar dan dia akan melakukan segala cara demi mencapai keinginannya. Hal itu menunjukkan bahwa Hiroko memiliki sikap pantang menyerah, ambisius, dan kerja keras.
            Kehidupan di kota yang berbeda jauh dengan di desa membawa dampak bagi perkembangan pola pikir Hiroko. Hiroko terpengaruh oleh gaya hidup orang kota yang cenderung glamor, sehingga dia mengikuti gaya berpakaian dan juga sikap orang-orang kota. Hiroko juga mengganggap hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu yang wajar. Seperti yang terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Di negeriku, waktu itu kedudukan wanita jauh di bawah laki-laki. Baik dalam tata cara adat maupun undang-undang. Sejauh ingatanku, selama di desa aku tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh atau menimpang dari kebiasaan. Aku menerimanya seperti juga aku menerima kebanyakan hal lainnya. Keluar dari rengkuhan keluarga, bekerja dari satu kota ke kota lain, bertambah luasnya lingkungan pergaulan, aku baru melihat kepincangan-kepincangan yang semula tidak kuperhatikan.” (Namaku Hiroko: 169)
Dari kutipan tersebut, jelaslah terlihat pemberontakan pemikiran oleh Hiroko. Pemikiran Hiroko mulai berkembang berdasarkan pengalamannya di kota besar. Dia dapat memikirkan hal tersebut karena tradisi di kota dan di desa sangat berbeda. kebiasaan tersebut yang membuat Hiroko menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.
Persoalan tersebutlah yang kemudian memicu terjadinya gejolak gejiwaan yang lebih besar pada diri Hiroko, terlebih setelah menjadi simpanan Yukio Kishihara. Sebagai seorang simpanan, Hiroko sangat menginginkan materi. Apa yang Hiroko inginkan selalu dipenuhi oleh Yukio. Dan inilah yang menjadi persoalannya. Ketergantungannya kepada materi Yukio Kishihara menjadikan Hiroko merasa sulit untuk menentukan hubungan antara dirinya dan Yukio.
“Aku harus berani melepaskan diri dari laki-laki itu. Lebih-lebih dari cengkraman pengaruh materi yang dimilikinya. Sebagai laki-laki berpengalaman, dia mengetahui kelemahanku. Dengan kedermawanannya suatu kali dia berkata akan membuka nomor tabungannya di bank kota atas namaku. Ini merupakan tantangan yang berat bagiku. Di samping itu pula merupakan keinginnnya agar aku tetap melayani kemauannya, yang berarti aku harus menjadi sebagian miliknya.” (Namaku Hiroko:141).

Kutipan di atas merupakan gejolak jiwa Hiroko selama menjadi simpanan. Ia memiliki keinginan untuk lepas dari Yukio yang memberinya materi sekaligus tidak ingin melepaskannya karena jika demikian, ia tidak akan mendapatkan materi seperti apa yang diinginkannya.
Pada akhir cerita, pengarang menyajikan akhir yang bahagia pada tokoh Hiroko. Setelah mengalami berbagai kejadian dan permasalahan dalam hidupnya, Hiroko dapat meraih apa yang dia inginkan. Dia hidup bersama Yoshida orang yang dicintainya, walaupun sebagai simpanan dan memiliki dua orang anak. Dia tidak lagi bekerja sebagai penari kebaret. Yoshida membelikan sebuah rumah dan bar Mahattan untuk Hiroko. Akhirnya Hiroko berhasil menjadi seorang wanita yang sukses.
Tokoh Hiroko digambarkan sebagai wanita yang ambisius. Kehidupan kota membuat moralnya berubah menjadi buruk. Dia tidak menghiraukan adat-istiadat yang telah diajarkan kedua orang tuanya sejak kecil. Walaupun dapat dikatakan moral Hiroko sudah tidak baik, namun dia masih ingat terhadap keluarganya. Dia menyekolahkan adik-adiknya dan membantu ekonomi orang tuanya. Secara keseluruhan, dibalik moral Hiroko yang buruk, dia masih memiliki hati nurani. Di sini, Hiroko diceritakan sebagai tokoh yang sabar, kuat dan berani menghadapi kepahitan hidup yang selalu menghadangnya. Dia berani mencoba hal yang baru. Karena kekuatannya, dia berhasil memperoleh kebahagian dan mewujudkan impiannya sehingga menjadi sukses. Meskipun kesuksesan didapat Hiroko dengan cara yang tidak halal, tetapi tetap saja perjuangan Hiroko dikatakan telah berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...