Jumat, 25 Agustus 2017

PUISI EPIGRAM ORANG TERSAYANG



Aku untukmu

Kau mempertaruhkan nyawamu
demi aku
Kau gadaikan harga dirimu
demi aku
Rintihanku kau sejukkan
dengan ciumanmu

Waktu berjalan bagaikan kedipan mata
Kuncup bungamu telah merekah
Kau  rawat dia
tanpa celah, tanpa noda

Kau tak inginkan emas berlian
Kau tak inginkan limpahan harta
Hanya satu yang kau harapkan
senyum manis menghiasi hari-harinya


Cinta Sucinya

Ribuan duri telah kutanamkan
       di hatimu
Hujan air mata telah kau tumpahkan
       karena aku
Tajamnya lidah  telah menggoreskan luka
      di kalbumu
Tapi kau tetap tersenyum dan berkata
      aku mencintaimu
Sadarkah kau?
Aku bagaikan ulat di hidupmu
Berlindung di balik dahanmu
Menyerap zat gizi di tubuhmu
Menendang dinding daunmu
Hingga kau lemah dan lemas
Tapi kau tetap tesenyum dan berkata
     aku mencintaimu
Tetesan peluh kau tumpahkan
     demi senyum ulatmu
 Nyawa kau korbankan
     demi hidup ulatmu
Tak kau hiraukan luka di hatimu
Kau terus tersenyum dan berkata
     jadilah kupu-kupu terindah dalam hidupku


Racunku dan Madumu

Dia berikan cahaya saat kau kegelapan
Dia berikan tawa saat kau sedih
Dia berikan embun saat kau marah
Dia berikan kehangatan saat kau terluka
Kau berapi-api saat dia tak sengaja
Menggoreskan setitik noda di jiwamu
Kau menyayat hatinya dengan lidahmu
Saat dia tak sengaja menumpahkan
tinta hitam di bajumu
Itukah kau?
Dia beri buah segar
Kau balas buah busuk
Dia beri setangkai mawar
Kau balas sengenggam duri
Cinta ibu seluas dunia
Meskipun racun kau minumkan padanya
Dia akan tetap tersenyum
dan memberi madu termanis di hidupmu

PUISI EPIGRAM UNTUK NEGERI



Rintihan Alam
Seluas mata memandang
Ku lihat hamparan keindahan
Sawah hijau menyejukkan ragawi
Burung-burung ikut bernyanyi
Menampakkan kebahagiaan di bumi
Kini......
Indahnya alam telah berganti
Lahan-lahan menjadi tempatnya gedung berdiri
Burung-burung  berlarian pergi
Bersembunyi dari tangan-tangan tak bernurani
Wahai  jiwa-jiwa sadis
Bukalah pintu hati
Dengarlah alam menangis
Satukan nyali
Sembuhkan ibu pertiwi





Duka Ibu Pertiwi
Tataplah...
Senyum-senyum awan
     yang semakin hilang
Pucuk-pucuk daun
     yang semakin berguguran
Tanah-tanah hijau
      yang semakin gersang
Ibu pertiwi menamparku berkali-kali
Memuntahkan isi perutnya bertubi-tubi
Negri ini tak indah lagi
tapi aku tetap berdiri di sini
       merajut cita,
       mengukir asa
Ku satukan pecahan-pecahan kaca
biar luka berganti potret bahagia
Ku rajut benang-benang kusut
Agar ibu pertiwiku kembali tersenyum



Lihatlah ke Bawah
 Wahai para penguasa,
Hidupmu serasa di surga
Kau duduk di singgasana dunia
Bertabur harta, bertahtakan mahkota
Kau koleksi perhiasan
Hingga mata ini bosan
Kau tumpuk jutaan uang
Hingga mencapai segudang
Pernahkah kau kelaparan
saat sepeser uang tak bisa kau dapatkan?
Pernahkah kau menangis
saat rezeki tak dapat kau kais?
Buka nuranimu!
Tengok mereka disekitarmu
Ulurkan jemari
Tuk menggapai firdaus abadi



PUISI EPIGRAM LEBARAN



Tabir keikhlasan
Semilir angin mengiringi
gema yang mengalun
Bintang-bintang tersenyum menyambutnya
Tibalah pintu suci terbuka
Menuntut tiap hati bercahaya
Daun-daun kering berguguran
Pucuk-pucuk hijau bersemi ria
Di balik cermin itu
Tersingkaplah tabir realita
Kedustaan mewarnai ketulusan
Buah kesabaran gagal tersemai
Hama memakan puing-puing keimanan
Hanya taubat pelebur segala dosa

Obat Luka Hati
Langit semakin gelap
Segelap hatiku
Pisau semakin tajam
Setajam lidahku
Aku berjalan di dunia fana
Terjebak kesenangan semu
dan membutakan segala rasa
Beribu duri ku tanam
di hati mereka
Berjuta caci lidah ini
menikam mereka
Kini....
Hari suci tiba di depan mata
Jabat tangan penawar duka
Segala luka terhapus oleh cinta


Cahaya hidupku
Indahnya pelangi
Tak seindah berbagi di hari suci
Terangnya bulan
Tak seterang hati yang beriman
Merdunya seruling
Tak semerdu dzikir yang  terlantun
Kau laksana embun
menyejukkan segala keruh di hatiku
Kau rangkul aku
dari hitamnya dunia
Kau ajari aku
mengenal indahnya cinta




Gelap Dunia Kemilau Surga
Aku berjalan
Mewarnai hitam putihnya
Panggung sandiwara
Kuikuti lorong gelap
Hingga kutemukan sinarnya
Sang Sutradara
Sebulan,
 jiwa ini diterangi puasa
Diiringi tadarus sebagai pematri jiwa
Ombak kesabaran telah menghapus
 virus-virus dunia
Kesucian mengantarkanku
pada gerbang istana fana
Liku....
Kelok...
Kulalui demi menggenggam
Istana abadi


Terhimpit kegelapan
Sadarkah Kau?
Kau hanyalah boneka dunia
Terombang-ambing dalam
Lautan setan
Tak tau arah
Tak tau tujuan
Saat mata terpejam
Saat waktu terhenti
Tiada penolong
Kecuali iman
Wahai para pemburu pendosa...
Ingatlah waktumu
Harumkanlah hidupmu dengan puasa
Lantunkan dzikir sebagai penghias pilu







PUISI ELEGI



Opera  luka untuknya
Mata-mata binar
Hingar bingar cahaya semu tersirat
Seolah ada hujan kembang api
Di malam dingin tak bertepi
Aku menerka...
Isyarat gegap gempita sang surya membawa petaka
Untukku...hanya untukku
Darinya yang melumpuhkan sendi hatiku
Hanya dengan satu kedipan mata, aku terjaga
 Dari mimpiku nan sempurna
Pandanglah  aku
Kesakitan dan meringkuk
Terpasung sedan tangis
Terpenjara bingkai sadis
Dan kau...tiada ada menjenguk luka
Sendiri aku tergolek
Membisu dalam kalbu
Hatiku hancur seperti debu


Haru nan Biru
Mata sayu hiaskan bulir air kesedihan
Gadis cantik duduk bersimpuh
Di depan tubuh kaku membiru
Mengharu biru

Seakan takjub....
Menggenggam tangan penuh tetesan air luka
Tiada percaya, relung hati terbujur kaku membatu haru

Saat itu langit abu-abu tak lagi biru
Saat itu nafas haru bersatu padu
Perempuan dan laki laki berjubah hitam
Menjejalkan doa penuh harapan

Kiamat kecil telah tiba
Mengiring jasad ke tempat semula
Seorang gadis terkulai menangis tanpa nada
Menjerit tanpa kuasa



Korban Perceraian
Kau anggap apa aku?
Kau suguhkan totonan menakutkan
   Kau saling caci,
     Kau saling maki,
       Kau saling tampar
          Lalu kau menghilang......
Kau anggap apa aku?
Kau jadikan istana sebagai zona perang
Butiran kenangan tersapu ombak keegoisan
menyayatkan trauma yang tak mampu ku bawa terbang
Kau anggap apa aku?
      Aku bukan peti
Yang bisa kau bawa kesana kemari
     Aku bukan benda mati
Yang tak punya hati
     Aku hanyalah sekuncup bunga
Yang ingin tumbuh bahagia
Bersama kedamaian keluarga

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...