Aku untukmu
Kau
mempertaruhkan nyawamu
demi aku
Kau
gadaikan harga dirimu
demi aku
Rintihanku
kau sejukkan
dengan ciumanmu
Waktu
berjalan bagaikan kedipan mata
Kuncup
bungamu telah merekah
Kau rawat dia
tanpa celah, tanpa noda
Kau
tak inginkan emas berlian
Kau
tak inginkan limpahan harta
Hanya
satu yang kau harapkan
senyum
manis menghiasi hari-harinya
Cinta Sucinya
Ribuan
duri telah kutanamkan
di hatimu
Hujan
air mata telah kau tumpahkan
karena aku
Tajamnya
lidah telah menggoreskan luka
di kalbumu
Tapi
kau tetap tersenyum dan berkata
aku mencintaimu
Sadarkah
kau?
Aku
bagaikan ulat di hidupmu
Berlindung
di balik dahanmu
Menyerap
zat gizi di tubuhmu
Menendang
dinding daunmu
Hingga
kau lemah dan lemas
Tapi kau
tetap tesenyum dan berkata
aku mencintaimu
Tetesan
peluh kau tumpahkan
demi senyum ulatmu
Nyawa kau korbankan
demi hidup ulatmu
Tak
kau hiraukan luka di hatimu
Kau
terus tersenyum dan berkata
jadilah kupu-kupu terindah dalam hidupku
Racunku dan Madumu
Dia
berikan cahaya saat kau kegelapan
Dia
berikan tawa saat kau sedih
Dia
berikan embun saat kau marah
Dia
berikan kehangatan saat kau terluka
Kau
berapi-api saat dia tak sengaja
Menggoreskan
setitik noda di jiwamu
Kau
menyayat hatinya dengan lidahmu
Saat dia
tak sengaja menumpahkan
tinta
hitam di bajumu
Itukah
kau?
Dia
beri buah segar
Kau
balas buah busuk
Dia
beri setangkai mawar
Kau
balas sengenggam duri
Cinta
ibu seluas dunia
Meskipun
racun kau minumkan padanya
Dia akan
tetap tersenyum
dan
memberi madu termanis di hidupmu