Pengaruh Gender terhadap
Citra Wanita Desa dalam Novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah.
Karya sastra adalah salah satu hasil pemikiran seseorang yang
dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis dan mengandung nilai
keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihayati,
dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membacanya. Pengarang itu sendiri
merupakan anggota dari masyarakat yang memperoleh inspirasi-inspirasi dari
lingkungannya. Sehingga karya-karya yang dihasilkan tidak lepas dari kehidupan
lingkungan masyarakat. Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel
merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara
luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh dalam cerita
merupakan gejala kejiwaan yang digambarkan pengarang melalui perilaku tokohnya
dan melalui bahasa, sastra mendeskripsikan kehidupan manusia yang mencakup
hubungan antarmasyarakat dan antarperistiwa, khususnya yang terjadi di dalam
batin seseorang. Aspek yang menjadi bahan sastra ini merupakan ide yang
mendasari pembentukan unsur-unsur yang menyusun suatu karya sastra menjadi
kesatuan yang utuh.
Dalam memaknai
karya sastra, pembaca tidak terbatasi oleh pemikiran pengarang. Mereka bebas
mencari apa yang diungkapkan dalam karya sastra tersebut sesuai dengan
pengetahuan dan sudut pandang mereka terhadap suatu fenomena kehidupan. Karya
sastra bersifat multiinterpretasi, bebas tafsir, dan subjektif. Dengan
demikian, perbedaan pemikiran antara pembaca dan pengarang menjadi hal yang
tidak dapat dielakkan. Karya sastra dimanfaatkan oleh pembaca sebagai referensi
untuk mengembangkan pola pikir dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Hal ini
menunjukkan adanya keterikatan pemikiran antara pengarang dan pembaca dalam
menyikapi suatu karya sastra.
Kesamaan cerita dalam karya sastra melahirkan kajian sastra
bandingan. Kajian ini tidak terlepas dari mengungkap unsur yang sama dan atau
yang bebeda antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya.
Suharmono (2006: 51) mengatakan bahwa untuk membandingkan karya sastra di suatu
negara dengan karya sastra negara lain atau seni dan disiplin ilmu yang lain
dalam kajian sastra bandingan haruslah dimiliki dasar dan latar belakang yang
jelas, agar kajian dapat dilakukan secara sistematis.
Dalam kritik ini akan membandingkan dua novel yang sama-sama
mengangkat masalah gender. Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang
lemah. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu
sendiri yang menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa
sosok perempuan itu emosional,
penakut, tidak tegas, mudah sedih dan menangis membuat perempuan tidak
bisa tampil memimpin. Hal itu, berakibat munculnya sikap yang menempatkan
perempuan pada posisi yang tidak penting. Perbedaan yang jelas antara konsep
jenis kelamin telah melahirkan ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama
perempuan. Dari dulu hingga sekarang perempuanlah yang menjadi korban
konsep-konsep gender tersebut. Banyak laki-laki yang tidak menghargai perempuan,
bahkan cenderung semena-mena.
Dalam Novel namaku Hiroko karya Nh. Dini dan Bekisar Merah karya
Ahmad Tohari menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi
tokoh pria. Kedua tokoh dalam novel tersebut adalah sosok wanita yang penuh
dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga,
persahabatan, dan kebahagiaan yang mereka hadapi dan harus dipecahkan oleh
tokoh Hiroko dalam novel namaku Hiroko dan Lasi dalam novel bekisar merah. Lasi
dan Hiroko sama-sama merupakan seorang wanita desa miskin yang pindah ke kota dan memperoleh berbagai pengetahuan serta pengalaman
baru dari pergaulannya di kota.
Setelah hidup di kota, Lasi dan Hiroko sama-sama
menjadi seorang wanita kaya yang tidak pernah mereka bayang kan sebelumnya.
Tokoh utama
dalam kedua novel ini sama-sama wanita desa yang pergi merantau ke kota. Namun
bedanya, novel Namaku Hiroko bersetting di Jepang. Sedangkan Bekisar Merah
bersetting di Indonesia.
Kehidupan di kota
dan di desa sangatlah berbeda. Adat istiadat di desa masih sangat kental,
sedangkan di kota adat istiadatnya telah terkikis dengan
kehidupan yang bebas, glamor dan tidak menghiraukan lagi adat istiadat. Di kota, orang cenderung
egois hanya memikirkan kebahagiannya sendiri. Meskipun demikian, Kehidupan wanita di Jepang dan Indonesia itu
sangatlah berbeda. Karena setiap negara memiliki kebudayaan dan ciri khasnya
sendiri-sendiri. Di Jepang, ada perbedaan kedudukan perempuan sebagai istri di
kota dan di desa. Di kota, seorang istri begitu melayani suaminya sedangkan di
desa, hal tersebut biasa saja. Namun, dalam hal tunduk pada perintah suami,
istri di kota dan di desa sama saja. Mereka cenderung melaksanakan perintah
suaminya tanpa membantah. Hal ini juga berlaku kepada anak perempuan dari
keluarga itu. Perintah orang tua, khususnya ayahnya, tidak pernah ia bantah. Di
Indonesia, istri di kota maupun di desa sama-sama melayani suaminya. Seorang
istri harus tunduk dengan suami. Namun, jika perintah itu menyimpang, istri
boleh melawan. Sekarang, kedudukan wanita Indonesia jauh lebih baik dari pada
dahulu. Dahulu wanita sangat tidak dihargai, mereka harus tunduk pada
laki-laki, dan hanya bisa diam jika diperlakukan semena-mena. Sedangkan
sekarang, wanita Indonesia memiliki hak yang sama dengan laki-laki dan
mempereloh perlindungan hukum bagi mereka yang diperlakukan tidak baik.
Dalam bidang
pekerjaan, di dalam novel Namaku Hiroko, terlihat jelas perbedaan
kedudukan perempuan dan laki-laki. Di dalam novel tersebut hanya sedikit
perempuan yang diceritakan mempunyai jabatan pekerjaan yang tinggi. Perempuan
adalah ibu rumah tangga, istri yang hanya bekerja mengurus rumah, suami, dan
anak, bahkan diceritakan kebanyakan perempuan desa di Jepang bekerja sebagai
pembantu. Kalaupun ada, yang diceritakan adalah kesuksesan perempuan dengan
pekerjaan yang tidak layak, seperti pemilik bar dan toko tetapi hal itu
merupakan pemberian dari suami orang lain, ada juga diceritakan seorang
perempuan yang sukses ketika menjadi penari telanjang sehingga mempunyai uang
yang banyak. Sedangkan pada novel Bekisar marah, Perempuan juga bekerja sebagai
ibu rumah tangga yang melayani suami. Menunggu suaminya pulang dari bekerja dan
menyiapkan semua yang diperlukan oleh suami. Ada juga yang bekerja di warung
atau sukses dengan menjual wanita kepada lelaki kaya.
Sebaliknya, di
dalam novel Namaku Hiroko diceritakan kesuksesan laki-laki atau para suami yang
mempunyai pekerjaan yang bagus dengan gaji yang besar. Memang ada satu bagian
yang menceritakan kesuksesan seorang perempuan yang berhasil dalam pengelolaan
toko tetapi rumah tangganya diceritakan hancur. Hal ini membuktikan bahwa
peranan laki-laki di dalam rumah tangga lebih besar dibandingkan perempuan.
Dengan kata lain, jika perempuan di Jepang ingin sukses, dia harus rela
memiliki hubungan yang tidak baik di dalam rumah tangganya. Dalam novel bekisar
merah diceritakan kehidupan laki-laki penyadap yang kekurangan dalam menghidupi
rumah tangganya. Selain itu, ada para tengkulak dan pengusaha yang sukses
dengan pekerjaannya. Kesuksesan perempuan diceritakan dengan menikahi laki-laki
yang kaya. Dengan demikian, di dalam novel tersebut, jika wanita desa miskin
ingin sukses bisa menikahi laki-laki kaya.
Dalam novel
Namaku Hiroko, Nh. Dini menceritakan seorang gadis desa miskin yang merantau ke
kota untuk mencari pekerjaan. Akibat kondisi ekonomi dan pertemuan dengan
Tomiko itulah, keiinginan Hiroko untuk memiliki pekerjaan semakin besar. Pada
kondisi inilah, pergolakan Hiroko mulai memiliki kebimbangan. Pada satu sisi,
ia ingin membantu perekonomian keluarga, namun, pada satu sisi lain, ia merasa
takut dan kuatir akan dirinya sendiri. Tapi, pada akhirnya, keinginan kuat
untuk membantu ekonomi keluarga, mengalahkan rasa takutnya terhadap kehidupan
dalam ranah pekerjaan. Hiroko telah berganti pekerjaan mulai dari pembantu,
pegawai toko, sampai menjadi model sekaligus penari telanjang di kabaret,
Hiroko mengenal pria dan hubungan intim orang dewasa. Bahkan gadis desa yang
semula polos ini berubah menjadi wanita ambisius dan mementingkan penampilan.
Keinginan kuat
untuk bekerja memberikan hasil yang sangat baik kepada Hiroko. Ia merasakan
keberuntungan yang terus menurut. Itu tidak terlepas dari kerja keras dan
keinginannya yang besar untuk bekerja. Dan pada posisi inilah, Hiroko terbentuk
oleh sistem kerja yang beroreintasi hasil, yakni ingin mendapatkan gaji yang
lebih besar. Meskipun, pada kondisi tertentu ia mencoba mengalihkan diri untuk
lebih memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dari pada gaji yang
berjumlah besar.
“Dan aku sendiri mengalami dua
kali kebetulan: pekerjaan yang kudapat dua kali berturut-turut sebaggai
pembantu rumah tangga yang bergaji kecil. Dan kebetulan lainnya: aku memperoleh
pekerjaan yang sekarang. Meskipun kukatakan cukup puas, namun aku menghendaki kemewahan
yang lebih tinggi. Aku akan berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Ada
kepercayaan orang bahwa kita harus bersiul buat memanggil angin. Siapa tahu
memang ada angin baik yang akan menghembus dari arah belakang parahu
kehidupanku.” (Dini, 2002:124).
Dari kutipan
tersebut dapat dilihat bahwa Hiroko kurang puas dengan apa yang telah
didapatkannya, dia menginginkan gaji yang lebih besar dan dia akan melakukan
segala cara demi mencapai keinginannya.
Meskipun dulunya
Hiroko seorang gadis desa yang sederhana dan lugu, tetapi setelah dia pindah ke
kota semua jalan pikirannya berubah. Hiroko mulai terbiasa dengan hal-hal yang
dia anggap aneh dan tidak penting. Setelah di kota, dia mulai berpakaian
seperti layaknya orang kaya dengan membeli baju-baju mahal dan berdandan untuk
mempercantik diri. Hubungan dengan lawan jenis pun telah dia anggap sebagai hal
yang wajar. Dulunya dia menghindar dari topik-topik tabu dalam pembicaraan
antar pembantu, akhirnya dia mulai terbiasa, bahkan bercerita tentang kehidupan
pribadinya. Seperti yang terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Di negeriku, waktu itu kedudukan
wanita jauh di bawah laki-laki. Baik dalam tata cara adat maupun undang-undang.
Sejauh ingatanku, selama di desa aku tidak memandang hal itu sebagai sesuatu
yang aneh atau menimpang dari kebiasaan. Aku menerimanya seperti juga aku
menerima kebanyakan hal lainnya. Keluar dari rengkuhan keluarga, bekerja dari
satu kota ke kota lain, bertambah luasnya lingkungan pergaulan, aku baru
melihat kepincangan-kepincangan yang semula tidak kuperhatikan.” (Namaku Hiroko:
169)
Dari kutipan
tersebut, jelaslah terlihat pemberontakan pemikiran oleh Hiroko. Pemikiran
Hiroko mulai berkembang berdasarkan pengalamannya di kota besar. Dia dapat
memikirkan hal tersebut karena tradisi di kota dan di desa sangat berbeda..
Persoalan
tersebutlah yang kemudian memicu terjadinya gejolak gejiwaan yang lebih besar
pada diri Hiroko, terlebih setelah menjadi simpanan Yukio Kishihara. Sebagai
seorang simpanan, Hiroko sangat menginginkan materi. Apa yang Hiroko inginkan
selalu dipenuhi oleh Yukio. Dan inilah yang menjadi persoalannya.
Ketergantungannya kepada materi Yukio Kishihara menjadikan Hiroko merasa sulit
untuk menentukan hubungan antara dirinya dan Yukio.
“Aku harus berani melepaskan
diri dari laki-laki itu. Lebih-lebih dari cengkraman pengaruh materi yang
dimilikinya. Sebagai laki-laki berpengalaman, dia mengetahui kelemahanku.
Dengan kedermawanannya suatu kali dia berkata akan membuka nomor tabungannya di
bank kota atas namaku. Ini merupakan tantangan yang berat bagiku. Di samping
itu pula merupakan keinginnnya agar aku tetap melayani kemauannya, yang berarti
aku harus menjadi sebagian miliknya.” (Namaku Hiroko:141).
Kutipan di
atas merupakan gejolak jiwa Hiroko selama menjadi simpanan. Ia memiliki
keinginan untuk lepas dari Yukio yang memberinya materi sekaligus tidak ingin
melepaskannya karena jika demikian, ia tidak akan mendapatkan materi seperti
apa yang diinginkannya.
Dalam novel ini, diceritakan bahwa Hiroko akhirnya bisa
melepaskan diri dari Yukio Kishihara. Hal itu dikarenakan Hiroko telah
mendapatkan pengganti yang jauh lebih tampan dan lebih kaya dari Yukio, yaitu
Yoshida. Hiroko pun jatuh cinta kepada Yoshida. Apa yang diinginkan Hiroko
selalu dipenuhi oleh Yoshida. Disini, terjadi gejolak jiwa pada Hiroko. Di satu
sisi dia mencintai Yoshida dan segala kemewahan yang dimilikinya. Di sisi lain,
dia merasa bersalah karena merebut suami sahabatnya sendiri. Namun, karena
egonya yang tidak ingin kehilangan semua
yang telah dimiliki, dia pun tetap menjalin hubungan dengan Yoshida dan menjadi simpanannya. Dia tidak
pernah mempedulikan perkataan masyarakat yang menyebut dirinya sebagai wanita
simpanan. Dia dan Yoshida saling mencintai walaupun tidak ada ikatan pernikahan
diantara mereka. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut;
” Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari
mulut masyarakat.
Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan
Yoshida saling
membutuhkan. Dia memberiku semua yang kuminta.
Tetapi aku
tidak pernah mengganggu ketentraman orang lain,
tidak merugikan
siapa pun.Ya. Aku puas dengan kehidupanku.”
(Namaku Hiroko : 242)
Kutipan diatas menjelaskan
bahwa Hiroko telah puas bisa hidup dengan Yoshida dan memiliki harta yang berlimpah. Meskipun
menjadi simpanan dari suami sahabatnya sendiri dan dia tidak pernah menyesali
perbuatannya.
Novel karya
NH. Dini ini memiliki gaya penceritaan orang pertama yang berupa uraian
kenangan masa lampaunya, sehingga kita mengenal benar watak dan kepribadian si
pencerita ini. Tokoh wanita ini menceritakan riwayatnya sendiri, seluruh
kejadian dia nilai berdasarkan nilai-nilai yang dia anut. Seperti hal yang
menyangkut hubungan intimnya dengan lawan jenis secara bebas diceritakan dalam
novel ini. Tema cerita pada novel ini, adalah seorang wanita muda yang
berada dalam kondisi sulit dan terdesak oleh lingkungannya tetapi selalu
berjuang untuk lepas dan memperoleh kebahagiannya. Di sini, Hiroko diceritakan
sebagai tokoh yang sabar, kuat dan berani menghadapi kepahitan hidup yang
selalu menghadangnya. Karena kekuatannya, dia berhasil memperoleh kebahagian
dan mewujudkan impiannya. Novel ini memiliki nilai-nilai gender yang
digambarkan melalui tokoh Hiroko.
Selanjutnya, dalam novel Bekisar
Merah Ahmad Tohari menceritakan kehidupan para penyadap nira dari pohon kelapa, yang miskin dan
sengsara di desa Karangsoga. Tokoh utama yaitu Lasi digambarkan sebagai tokoh
yang setia dan sabar. Ketika suaminya terjatuh dari pohon kelapa, Lasi
merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sabar.
“Di
kamar perawatan Darsa, Lasi berusaha menyembunyikan kebimbangannya. Sambil
duduk di tepi dipan ia berusaha tersenyum, memijit-mijit lengan Darsa lalu
bangkit untuk menukar kain sarung yang dikenakan suaminya itu. Bau sengak
menyengat. Selesai menukar kain sarung Lasi membuka bungkusan makanan yang
dibawanya dari rumah.” (Bekisar Merah :47)
Dari
kutipan diatas tampak bahwa Lasi memiliki kesabaran dan keikhlasan. Dia tidak
menampakkan kesedihannya dan tetap berusaha tersenyum meskipun dia sedih. Semua
kebaikan dan kesetiaan Lasi sebagai istri ternyata berbuah pahit. Hal itu
bermula ketika Darsa disembuhkan oleh Bunek. Kebaikan Bunek ada maksudnya. Dia
berkeinginan mengawinkan Darsa dengan anak perempuannya yang pincang, yaitu
Sipah. Antara
sadar dan tidak, Darsa terlanjur menanam benih di rahim Sipah. Sipah hamil dan
minta dikawini. Lasi pun terpukul karenanya.
Hal tersebut membuat Lasi kabur dari
rumah dan merantau ke Jakarta.
Di Jakarta, kehidupan Lasi berubah. Dia bertemu bu Lanting yang hendak
menjualnya pada laki-laki tua yang kaya raya. Di sana, Lasi di beri pakaian yang indah,
barang-barang yang mewah. Dia pun juga dirias sehingga menjadi cantik. Hal ini
memunculkan gejolak jiwa pada tokoh Lasi.
“Sekali lagi Lasi tercenung. Ia ingin
menggelengkan kepala tetapi tiba-tiba Lasi sadar dirinya sudah mengenakan baju
bagus pemberian Bu Lanting. Karena alam pikirannya yang sahaja, Lasi merasa
wajib memberi sesuatu karena dia telah menerima sesuatu. Dan sesuatu itu
setidaknya berupa kesediaan menerima tawaran
Bu Lanting.”(Bekisar Merah : 149)
Dalam kutipan di atas terlihat bahwa
Lasi ingin menolak apa yang di berikan Bu Lanting. Namun, dia tidak sanggup
karena dia merasa hutang budi terhadap Bu Lanting.
Kehidupan Lasi di Jakarta berubah.
Dia berhasil menjadi orang kaya. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan
semua kemewahan yang tidak pernah dia dapatkan di desa. Kehidupan Lasi berubah
lantaran ia dikawini oleh sorang veteran perang yang kaya raya. Meskipun
mendapat kemewahan, kehidupan rumah tangga kedua ini tidak lebih menyenangkan
bagi Lasi. Ia hanyalah boneka pajangan dan terpaksa memungkiri kata hatinya
sendiri.
Walaupun
menderita batin dengan perkawinan semunya itu, Lasi sadar dan tergerak untuk
menolong orang-orang Karangsoga yang tak bernasib baik itu, termasuk Darsa
mantan suaminya sendiri yang telah mengkhianati cintanya yang suci.
Novel
Ahmad Tohari ini menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Lasi yang
tegar menjalani hidup dan tetap sabar meskipun telah disakiti oleh laki-laki
yang dicintainya. Nuansa gender dalam novel ini menunjukkan bahwa seorang
wanita itu tidaklah lemah. Meskipun cobaan hidup mendera, tapi tetap sabar dan
tegar.
Novel ini, memiliki gaya penceritaan yang luar
biasa. Ahmad Tohari berhasil merangkai kata-kata yang indah. Dia menggambarkan
suasana desa dengan ilustrasi tentang burung-burung, aneka serangga serta
pepohonan. Ahmad Tohari juga mahir bertutur tentang kehidupan rakyat kecil
pedesaan dengan suasananya yang khas. Hal itu membuat pembaca merasa diajak
dalam suasana desa Karangsogo yang terasa seperti nyata.
Walaupun gaya penceritaan novel ini menarik, namun
alurnya sangat membosankan dan akhir cerita novel ini sangat menggantung,
sehingga kepuasan dalam membaca kurang. Di akhir cerita, Ahmad Tohari
menceritakan Darsa yang terpuruk lantaran 10 dari 12 pohon kelapanya harus
tumbang sebagai bentuk kepasrahan atas pembangunan jaringan listrik. Sementara
Lasi dan Kanjat meneruskan kehidupan mereka masing-masing.
Kesimpulan
Karya sastra adalah alat penyampaian ide-ide imajinatif
pengarang yang berfungsi sebagai hiburan yang di dalamnya terdapat pesan-pesan
khusus yang berguna menambah pengalaman batin pembacanya. Sastra dan tata nilai
kehidupan adalah dua fenomena sosial yang saling melengkapi. Setiap karya
sastra mengandung keterikatan yang kuat dengan kehidupan, karena pengarang adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.
Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, religi dan
sebagainya.
Sastrawan ketika menciptakan karyanya didorong oleh
ide-ide untuk memunculkan kata-kata yang mengandung keindahan sehingga pembaca
dapat menikmatinya. Karya sastra menjadi obyek bagi pengarang dalam
mengungkapkan gejolak emosinya, misalnya perasaan sedih, kecewa, senang dan
lain sebagainya. Melalui karyanya itu pembaca diajak masuk dalam pengalaman
batin pengarangnya.
Kesan masyarakat desa yang
melekat pada tokoh Hiroko dan Lasi mewarnai penceritaan dalam novel Namaku
Hiroko dan Bekisar Merah.. Namun perbedaan kebudayaan dari kedua negara
menimbulkan sikap yang berbeda dari dua tokoh tersebut.
Dalam novel
Namaku Hiroko persoalan perempuan Jepang yang digambarkan masih dalam posisi
yang kurang menguntungkan karena mereka masih terikat oleh adat dan pendidikan
yang rendah. Dalam cerita ataupun kehidupan nyata, mereka muncul sebagai
pembantu rumah tangga atau perempuan penggoda yang moralitasnya rendah. Dalam
kedudukan sosial pun, masih terlihat adanya ketidakseimbangan antara
laki-laki dan perempuan. Perempuan menduduki posisi yang lebih rendah bila
dibandingkan dengan laki-laki. Di sini, kehidupan kota yang bebas membuat
karakter seseorang berubah seperti yang terjadi dengan Hiroko. Awalnya Hiroko
merupakan seorang gadis desa yang sederhana, setelah pindah ke kota, dia pun
menjadi seorang yang modern, baik secara fisik maupun secara pemikiran.
Berbeda Halnya dengan Lasi. Gadis desa ini
degambarkan dengan sifat yang pasrah dan tabah menerima keadaan buruk yang
menimpa dirinya. Hal itu dikarenakan kebanyakan wanita Indonesia khususnya di
desa memiliki tradisi harus menerima dengan ikhlas apapun yang di berikan Tuhan
kepadanya. Walaupun kehidupan kota telah mengubah nasibnya, namun hal itu tidak
merubah sikapnya menjadi wanita yang egois. Dia tetap membantu desanya, bahkan
membantu suaminya yang dulu pernah menyakiti hatinya.
Persamaan yang terdapat dalam
novel Namaku Hiroko dan Bekisar merah, ialah berupa latar belakang tokoh, yang
sama-sama dari keluarga miskin. Sedangkan perbedaan di antara keduanya ialah
kehidupan kota mengubah jalan pikiran dan sikap Hiroko. Sedangkan Lasi, kehidupan
kota hanya merubah nasibnya, namun tidak merubah sikapnya. Dia tetap menjunjung
adat istiadat yang ada di desanya. Hiroko mendapatkan kekayaan dengan menjadi wanita
penghibur dan simpanan laki-laki kaya yang beristri. Sedangkan Lasi menerima
lamaran laki-laki kaya karena ingin membalas budi. Hiroko menikmati apa yang dia
peroleh, sedangkan Lasi batinya menderita karena dia hanya menjadi pajangan
laki-laki yang tidak dicintainya.
Dari kedua novel tersebut, kita
dapat mengetahui bahwa wanita itu bukanlah makhluk yang lemah.Gender tidak
menjadi patokan seseorang untuk meraih keinginannya. Hal itu tebukti dengan
penggambaran tokoh dalam novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah. Walaupun cobaan
hidup menimpa kedua tokoh tersebut, namun kesabaran, ketegaran dan kegigihan
dapat mengalahkan semua rintangan yang ada, sehingga kesuksesan dapat mereka
raih.
Daftar Rujukan :
Tohari,
Ahmad. 2001. Bekisar Merah. Jakarta:
Gramedia.
Dini,
NH. 2001. Namaku Hiroko. Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar