Kamis, 24 Agustus 2017

Pengaruh Gender dalam Novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah



Pengaruh Gender terhadap Citra Wanita Desa dalam Novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah.

Karya sastra adalah salah satu hasil pemikiran seseorang yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis dan mengandung nilai keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihayati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membacanya. Pengarang itu sendiri merupakan anggota dari masyarakat yang memperoleh inspirasi-inspirasi dari lingkungannya. Sehingga karya-karya yang dihasilkan tidak lepas dari kehidupan lingkungan masyarakat. Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh dalam cerita merupakan gejala kejiwaan yang digambarkan pengarang melalui perilaku tokohnya dan melalui bahasa, sastra mendeskripsikan kehidupan manusia yang mencakup hubungan antarmasyarakat dan antarperistiwa, khususnya yang terjadi di dalam batin seseorang. Aspek yang menjadi bahan sastra ini merupakan ide yang mendasari pembentukan unsur-unsur yang menyusun suatu karya sastra menjadi kesatuan yang utuh.
Dalam memaknai karya sastra, pembaca tidak terbatasi oleh pemikiran pengarang. Mereka bebas mencari apa yang diungkapkan dalam karya sastra tersebut sesuai dengan pengetahuan dan sudut pandang mereka terhadap suatu fenomena kehidupan. Karya sastra bersifat multiinterpretasi, bebas tafsir, dan subjektif. Dengan demikian, perbedaan pemikiran antara pembaca dan pengarang menjadi hal yang tidak dapat dielakkan. Karya sastra dimanfaatkan oleh pembaca sebagai referensi untuk mengembangkan pola pikir dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Hal ini menunjukkan adanya keterikatan pemikiran antara pengarang dan pembaca dalam menyikapi suatu karya sastra.
Kesamaan cerita dalam karya sastra melahirkan kajian sastra bandingan. Kajian ini tidak terlepas dari mengungkap unsur yang sama dan atau yang bebeda antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya. Suharmono (2006: 51) mengatakan bahwa untuk membandingkan karya sastra di suatu negara dengan karya sastra negara lain atau seni dan disiplin ilmu yang lain dalam kajian sastra bandingan haruslah dimiliki dasar dan latar belakang yang jelas, agar kajian dapat dilakukan secara sistematis.
Dalam kritik ini akan membandingkan dua novel yang sama-sama mengangkat masalah gender. Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu sendiri yang menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa sosok perempuan itu emosional, penakut, tidak tegas, mudah sedih dan menangis membuat perempuan tidak bisa tampil memimpin. Hal itu, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Perbedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin telah melahirkan ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama perempuan. Dari dulu hingga sekarang perempuanlah yang menjadi korban konsep-konsep gender tersebut. Banyak laki-laki yang tidak menghargai perempuan, bahkan cenderung semena-mena.
Dalam Novel namaku Hiroko karya Nh. Dini dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Kedua tokoh dalam novel tersebut adalah sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, persahabatan, dan kebahagiaan yang mereka hadapi dan harus dipecahkan oleh tokoh Hiroko dalam novel namaku Hiroko dan Lasi dalam novel bekisar merah. Lasi dan Hiroko sama-sama merupakan seorang wanita desa miskin yang pindah ke kota dan memperoleh berbagai pengetahuan serta pengalaman baru dari pergaulannya di kota. Setelah hidup di kota, Lasi dan Hiroko sama-sama menjadi seorang wanita kaya yang tidak pernah mereka bayang kan sebelumnya.
Tokoh utama dalam kedua novel ini sama-sama wanita desa yang pergi merantau ke kota. Namun bedanya, novel Namaku Hiroko bersetting di Jepang. Sedangkan Bekisar Merah bersetting di Indonesia. Kehidupan di kota dan di desa sangatlah berbeda. Adat istiadat di desa masih sangat kental, sedangkan di kota  adat istiadatnya telah terkikis dengan kehidupan yang bebas, glamor dan tidak menghiraukan lagi adat istiadat. Di kota, orang cenderung egois hanya memikirkan kebahagiannya sendiri. Meskipun demikian,  Kehidupan wanita di Jepang dan Indonesia itu sangatlah berbeda. Karena setiap negara memiliki kebudayaan dan ciri khasnya sendiri-sendiri. Di Jepang, ada perbedaan kedudukan perempuan sebagai istri di kota dan di desa. Di kota, seorang istri begitu melayani suaminya sedangkan di desa, hal tersebut biasa saja. Namun, dalam hal tunduk pada perintah suami, istri di kota dan di desa sama saja. Mereka cenderung melaksanakan perintah suaminya tanpa membantah. Hal ini juga berlaku kepada anak perempuan dari keluarga itu. Perintah orang tua, khususnya ayahnya, tidak pernah ia bantah. Di Indonesia, istri di kota maupun di desa sama-sama melayani suaminya. Seorang istri harus tunduk dengan suami. Namun, jika perintah itu menyimpang, istri boleh melawan. Sekarang, kedudukan wanita Indonesia jauh lebih baik dari pada dahulu. Dahulu wanita sangat tidak dihargai, mereka harus tunduk pada laki-laki, dan hanya bisa diam jika diperlakukan semena-mena. Sedangkan sekarang, wanita Indonesia memiliki hak yang sama dengan laki-laki dan mempereloh perlindungan hukum bagi mereka yang diperlakukan tidak baik.
Dalam bidang pekerjaan, di dalam novel Namaku Hiroko, terlihat jelas perbedaan kedudukan perempuan dan laki-laki. Di dalam novel tersebut hanya sedikit perempuan yang diceritakan mempunyai jabatan pekerjaan yang tinggi. Perempuan adalah ibu rumah tangga, istri yang hanya bekerja mengurus rumah, suami, dan anak, bahkan diceritakan kebanyakan perempuan desa di Jepang bekerja sebagai pembantu. Kalaupun ada, yang diceritakan adalah kesuksesan perempuan dengan pekerjaan yang tidak layak, seperti pemilik bar dan toko tetapi hal itu merupakan pemberian dari suami orang lain, ada juga diceritakan seorang perempuan yang sukses ketika menjadi penari telanjang sehingga mempunyai uang yang banyak. Sedangkan pada novel Bekisar marah, Perempuan juga bekerja sebagai ibu rumah tangga yang melayani suami. Menunggu suaminya pulang dari bekerja dan menyiapkan semua yang diperlukan oleh suami. Ada juga yang bekerja di warung atau sukses dengan menjual wanita kepada lelaki kaya.
Sebaliknya, di dalam novel Namaku Hiroko diceritakan kesuksesan laki-laki atau para suami yang mempunyai pekerjaan yang bagus dengan gaji yang besar. Memang ada satu bagian yang menceritakan kesuksesan seorang perempuan yang berhasil dalam pengelolaan toko tetapi rumah tangganya diceritakan hancur. Hal ini membuktikan bahwa peranan laki-laki di dalam rumah tangga lebih besar dibandingkan perempuan. Dengan kata lain, jika perempuan di Jepang ingin sukses, dia harus rela memiliki hubungan yang tidak baik di dalam rumah tangganya. Dalam novel bekisar merah diceritakan kehidupan laki-laki penyadap yang kekurangan dalam menghidupi rumah tangganya. Selain itu, ada para tengkulak dan pengusaha yang sukses dengan pekerjaannya. Kesuksesan perempuan diceritakan dengan menikahi laki-laki yang kaya. Dengan demikian, di dalam novel tersebut, jika wanita desa miskin ingin sukses bisa menikahi laki-laki kaya.
Dalam novel Namaku Hiroko, Nh. Dini menceritakan seorang gadis desa miskin yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Akibat kondisi ekonomi dan pertemuan dengan Tomiko itulah, keiinginan Hiroko untuk memiliki pekerjaan semakin besar. Pada kondisi inilah, pergolakan Hiroko mulai memiliki kebimbangan. Pada satu sisi, ia ingin membantu perekonomian keluarga, namun, pada satu sisi lain, ia merasa takut dan kuatir akan dirinya sendiri. Tapi, pada akhirnya, keinginan kuat untuk membantu ekonomi keluarga, mengalahkan rasa takutnya terhadap kehidupan dalam ranah pekerjaan. Hiroko telah berganti pekerjaan mulai dari pembantu, pegawai toko, sampai menjadi model sekaligus penari telanjang di kabaret, Hiroko mengenal pria dan hubungan intim orang dewasa. Bahkan gadis desa yang semula polos ini berubah menjadi wanita ambisius dan mementingkan penampilan.
Keinginan kuat untuk bekerja memberikan hasil yang sangat baik kepada Hiroko. Ia merasakan keberuntungan yang terus menurut. Itu tidak terlepas dari kerja keras dan keinginannya yang besar untuk bekerja. Dan pada posisi inilah, Hiroko terbentuk oleh sistem kerja yang beroreintasi hasil, yakni ingin mendapatkan gaji yang lebih besar. Meskipun, pada kondisi tertentu ia mencoba mengalihkan diri untuk lebih memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dari pada gaji yang berjumlah besar.
“Dan aku sendiri mengalami dua kali kebetulan: pekerjaan yang kudapat dua kali berturut-turut sebaggai pembantu rumah tangga yang bergaji kecil. Dan kebetulan lainnya: aku memperoleh pekerjaan yang sekarang. Meskipun kukatakan cukup puas, namun aku menghendaki kemewahan yang lebih tinggi. Aku akan berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Ada kepercayaan orang bahwa kita harus bersiul buat memanggil angin. Siapa tahu memang ada angin baik yang akan menghembus dari arah belakang parahu kehidupanku.” (Dini, 2002:124).

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa Hiroko kurang puas dengan apa yang telah didapatkannya, dia menginginkan gaji yang lebih besar dan dia akan melakukan segala cara demi mencapai keinginannya.
Meskipun dulunya Hiroko seorang gadis desa yang sederhana dan lugu, tetapi setelah dia pindah ke kota semua jalan pikirannya berubah. Hiroko mulai terbiasa dengan hal-hal yang dia anggap aneh dan tidak penting. Setelah di kota, dia mulai berpakaian seperti layaknya orang kaya dengan membeli baju-baju mahal dan berdandan untuk mempercantik diri. Hubungan dengan lawan jenis pun telah dia anggap sebagai hal yang wajar. Dulunya dia menghindar dari topik-topik tabu dalam pembicaraan antar pembantu, akhirnya dia mulai terbiasa, bahkan bercerita tentang kehidupan pribadinya. Seperti yang terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Di negeriku, waktu itu kedudukan wanita jauh di bawah laki-laki. Baik dalam tata cara adat maupun undang-undang. Sejauh ingatanku, selama di desa aku tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh atau menimpang dari kebiasaan. Aku menerimanya seperti juga aku menerima kebanyakan hal lainnya. Keluar dari rengkuhan keluarga, bekerja dari satu kota ke kota lain, bertambah luasnya lingkungan pergaulan, aku baru melihat kepincangan-kepincangan yang semula tidak kuperhatikan.” (Namaku Hiroko: 169)
Dari kutipan tersebut, jelaslah terlihat pemberontakan pemikiran oleh Hiroko. Pemikiran Hiroko mulai berkembang berdasarkan pengalamannya di kota besar. Dia dapat memikirkan hal tersebut karena tradisi di kota dan di desa sangat berbeda..
Persoalan tersebutlah yang kemudian memicu terjadinya gejolak gejiwaan yang lebih besar pada diri Hiroko, terlebih setelah menjadi simpanan Yukio Kishihara. Sebagai seorang simpanan, Hiroko sangat menginginkan materi. Apa yang Hiroko inginkan selalu dipenuhi oleh Yukio. Dan inilah yang menjadi persoalannya. Ketergantungannya kepada materi Yukio Kishihara menjadikan Hiroko merasa sulit untuk menentukan hubungan antara dirinya dan Yukio.
“Aku harus berani melepaskan diri dari laki-laki itu. Lebih-lebih dari cengkraman pengaruh materi yang dimilikinya. Sebagai laki-laki berpengalaman, dia mengetahui kelemahanku. Dengan kedermawanannya suatu kali dia berkata akan membuka nomor tabungannya di bank kota atas namaku. Ini merupakan tantangan yang berat bagiku. Di samping itu pula merupakan keinginnnya agar aku tetap melayani kemauannya, yang berarti aku harus menjadi sebagian miliknya.” (Namaku Hiroko:141).

Kutipan di atas merupakan gejolak jiwa Hiroko selama menjadi simpanan. Ia memiliki keinginan untuk lepas dari Yukio yang memberinya materi sekaligus tidak ingin melepaskannya karena jika demikian, ia tidak akan mendapatkan materi seperti apa yang diinginkannya.
Dalam novel ini, diceritakan bahwa Hiroko akhirnya bisa melepaskan diri dari Yukio Kishihara. Hal itu dikarenakan Hiroko telah mendapatkan pengganti yang jauh lebih tampan dan lebih kaya dari Yukio, yaitu Yoshida. Hiroko pun jatuh cinta kepada Yoshida. Apa yang diinginkan Hiroko selalu dipenuhi oleh Yoshida. Disini, terjadi gejolak jiwa pada Hiroko. Di satu sisi dia mencintai Yoshida dan segala kemewahan yang dimilikinya. Di sisi lain, dia merasa bersalah karena merebut suami sahabatnya sendiri. Namun, karena egonya yang tidak ingin kehilangan semua  yang telah dimiliki, dia pun tetap menjalin hubungan dengan Yoshida dan menjadi simpanannya. Dia tidak pernah mempedulikan perkataan masyarakat yang menyebut dirinya sebagai wanita simpanan. Dia dan Yoshida saling mencintai walaupun tidak ada ikatan pernikahan diantara mereka. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut;
” Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari mulut masyarakat.
Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan Yoshida saling
membutuhkan. Dia memberiku semua yang kuminta. Tetapi aku
tidak pernah mengganggu ketentraman orang lain, tidak merugikan
siapa pun.Ya. Aku puas dengan kehidupanku.” (Namaku Hiroko : 242)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa Hiroko telah puas bisa hidup dengan Yoshida  dan memiliki harta yang berlimpah. Meskipun menjadi simpanan dari suami sahabatnya sendiri dan dia tidak pernah menyesali perbuatannya.
Novel karya NH. Dini ini memiliki gaya penceritaan orang pertama yang berupa uraian kenangan masa lampaunya, sehingga kita mengenal benar watak dan kepribadian si pencerita ini. Tokoh wanita ini menceritakan riwayatnya sendiri, seluruh kejadian dia nilai berdasarkan nilai-nilai yang dia anut. Seperti hal yang menyangkut hubungan intimnya dengan lawan jenis secara bebas diceritakan dalam novel ini. Tema cerita  pada novel ini, adalah seorang wanita muda yang berada dalam kondisi sulit dan terdesak oleh lingkungannya tetapi selalu berjuang untuk lepas dan memperoleh kebahagiannya. Di sini, Hiroko diceritakan sebagai tokoh yang sabar, kuat dan berani menghadapi kepahitan hidup yang selalu menghadangnya. Karena kekuatannya, dia berhasil memperoleh kebahagian dan mewujudkan impiannya. Novel ini memiliki nilai-nilai gender yang digambarkan melalui tokoh Hiroko.
Selanjutnya, dalam novel Bekisar Merah Ahmad Tohari menceritakan kehidupan para penyadap nira dari pohon kelapa, yang miskin dan sengsara di desa Karangsoga. Tokoh utama yaitu Lasi digambarkan sebagai tokoh yang setia dan sabar. Ketika suaminya terjatuh dari pohon kelapa, Lasi merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sabar.
“Di kamar perawatan Darsa, Lasi berusaha menyembunyikan kebimbangannya. Sambil duduk di tepi dipan ia berusaha tersenyum, memijit-mijit lengan Darsa lalu bangkit untuk menukar kain sarung yang dikenakan suaminya itu. Bau sengak menyengat. Selesai menukar kain sarung Lasi membuka bungkusan makanan yang dibawanya dari rumah.” (Bekisar Merah :47)

Dari kutipan diatas tampak bahwa Lasi memiliki kesabaran dan keikhlasan. Dia tidak menampakkan kesedihannya dan tetap berusaha tersenyum meskipun dia sedih. Semua kebaikan dan kesetiaan Lasi sebagai istri ternyata berbuah pahit. Hal itu bermula ketika Darsa disembuhkan oleh Bunek. Kebaikan Bunek ada maksudnya. Dia berkeinginan mengawinkan Darsa dengan anak perempuannya yang pincang, yaitu Sipah.  Antara sadar dan tidak, Darsa terlanjur menanam benih di rahim Sipah. Sipah hamil dan minta dikawini. Lasi pun terpukul karenanya.
Hal tersebut membuat Lasi kabur dari rumah dan merantau ke Jakarta. Di Jakarta, kehidupan Lasi berubah. Dia bertemu bu Lanting yang hendak menjualnya pada laki-laki tua yang kaya raya. Di sana, Lasi di beri pakaian yang indah, barang-barang yang mewah. Dia pun juga dirias sehingga menjadi cantik. Hal ini memunculkan gejolak jiwa pada tokoh Lasi.
“Sekali lagi Lasi tercenung. Ia ingin menggelengkan kepala tetapi tiba-tiba Lasi sadar dirinya sudah mengenakan baju bagus pemberian Bu Lanting. Karena alam pikirannya yang sahaja, Lasi merasa wajib memberi sesuatu karena dia telah menerima sesuatu. Dan sesuatu itu setidaknya berupa kesediaan menerima tawaran  Bu Lanting.”(Bekisar Merah : 149)

Dalam kutipan di atas terlihat bahwa Lasi ingin menolak apa yang di berikan Bu Lanting. Namun, dia tidak sanggup karena dia merasa hutang budi terhadap Bu Lanting.
Kehidupan Lasi di Jakarta berubah. Dia berhasil menjadi orang kaya. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan semua kemewahan yang tidak pernah dia dapatkan di desa. Kehidupan Lasi berubah lantaran ia dikawini oleh sorang veteran perang yang kaya raya. Meskipun mendapat kemewahan, kehidupan rumah tangga kedua ini tidak lebih menyenangkan bagi Lasi. Ia hanyalah boneka pajangan dan terpaksa memungkiri kata hatinya sendiri.
Walaupun menderita batin dengan perkawinan semunya itu, Lasi sadar dan tergerak untuk menolong orang-orang Karangsoga yang tak bernasib baik itu, termasuk Darsa mantan suaminya sendiri yang telah mengkhianati cintanya yang suci.
Novel Ahmad Tohari ini menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Lasi yang tegar menjalani hidup dan tetap sabar meskipun telah disakiti oleh laki-laki yang dicintainya. Nuansa gender dalam novel ini menunjukkan bahwa seorang wanita itu tidaklah lemah. Meskipun cobaan hidup mendera, tapi tetap sabar dan tegar.
Novel ini, memiliki gaya penceritaan yang luar biasa. Ahmad Tohari berhasil merangkai kata-kata yang indah. Dia menggambarkan suasana desa dengan ilustrasi tentang burung-burung, aneka serangga serta pepohonan. Ahmad Tohari juga mahir bertutur tentang kehidupan rakyat kecil pedesaan dengan suasananya yang khas. Hal itu membuat pembaca merasa diajak dalam suasana desa Karangsogo yang terasa seperti nyata.
Walaupun gaya penceritaan novel ini menarik, namun alurnya sangat membosankan dan akhir cerita novel ini sangat menggantung, sehingga kepuasan dalam membaca kurang. Di akhir cerita, Ahmad Tohari menceritakan Darsa yang terpuruk lantaran 10 dari 12 pohon kelapanya harus tumbang sebagai bentuk kepasrahan atas pembangunan jaringan listrik. Sementara Lasi dan Kanjat meneruskan kehidupan mereka masing-masing.










Kesimpulan
Karya sastra adalah alat penyampaian ide-ide imajinatif pengarang yang berfungsi sebagai hiburan yang di dalamnya terdapat pesan-pesan khusus yang berguna menambah pengalaman batin pembacanya. Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena sosial yang saling melengkapi. Setiap karya sastra mengandung keterikatan yang kuat dengan kehidupan, karena pengarang  adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, religi dan sebagainya.
Sastrawan ketika menciptakan karyanya didorong oleh ide-ide untuk memunculkan kata-kata yang mengandung keindahan sehingga pembaca dapat menikmatinya. Karya sastra menjadi obyek bagi pengarang dalam mengungkapkan gejolak emosinya, misalnya perasaan sedih, kecewa, senang dan lain sebagainya. Melalui karyanya itu pembaca diajak masuk dalam pengalaman batin pengarangnya.
Kesan masyarakat desa yang melekat pada tokoh Hiroko dan Lasi mewarnai penceritaan dalam novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah.. Namun perbedaan kebudayaan dari kedua negara menimbulkan sikap yang berbeda dari dua tokoh tersebut.
Dalam novel Namaku Hiroko persoalan perempuan Jepang yang digambarkan masih dalam posisi yang kurang menguntungkan karena mereka masih terikat oleh adat dan pendidikan yang rendah. Dalam cerita ataupun kehidupan nyata, mereka muncul sebagai pembantu rumah tangga atau perempuan penggoda yang moralitasnya rendah. Dalam kedudukan sosial pun, masih terlihat adanya  ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menduduki posisi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan laki-laki. Di sini, kehidupan kota yang bebas membuat karakter seseorang berubah seperti yang terjadi dengan Hiroko. Awalnya Hiroko merupakan seorang gadis desa yang sederhana, setelah pindah ke kota, dia pun menjadi seorang yang modern, baik secara fisik maupun secara pemikiran.
 Berbeda Halnya dengan Lasi. Gadis desa ini degambarkan dengan sifat yang pasrah dan tabah menerima keadaan buruk yang menimpa dirinya. Hal itu dikarenakan kebanyakan wanita Indonesia khususnya di desa memiliki tradisi harus menerima dengan ikhlas apapun yang di berikan Tuhan kepadanya. Walaupun kehidupan kota telah mengubah nasibnya, namun hal itu tidak merubah sikapnya menjadi wanita yang egois. Dia tetap membantu desanya, bahkan membantu suaminya yang dulu pernah menyakiti hatinya.
Persamaan yang terdapat dalam novel Namaku Hiroko dan Bekisar merah, ialah berupa latar belakang tokoh, yang sama-sama dari keluarga miskin. Sedangkan perbedaan di antara keduanya ialah kehidupan kota mengubah jalan pikiran dan sikap Hiroko. Sedangkan Lasi, kehidupan kota hanya merubah nasibnya, namun tidak merubah sikapnya. Dia tetap menjunjung adat istiadat yang ada di desanya. Hiroko mendapatkan kekayaan dengan menjadi wanita penghibur dan simpanan laki-laki kaya yang beristri. Sedangkan Lasi menerima lamaran laki-laki kaya karena ingin membalas budi. Hiroko menikmati apa yang dia peroleh, sedangkan Lasi batinya menderita karena dia hanya menjadi pajangan laki-laki yang tidak dicintainya.
Dari kedua novel tersebut, kita dapat mengetahui bahwa wanita itu bukanlah makhluk yang lemah.Gender tidak menjadi patokan seseorang untuk meraih keinginannya. Hal itu tebukti dengan penggambaran tokoh dalam novel Namaku Hiroko dan Bekisar Merah. Walaupun cobaan hidup menimpa kedua tokoh tersebut, namun kesabaran, ketegaran dan kegigihan dapat mengalahkan semua rintangan yang ada, sehingga kesuksesan dapat mereka raih.


Daftar Rujukan :
Tohari, Ahmad. 2001. Bekisar Merah. Jakarta: Gramedia.
Dini, NH. 2001. Namaku Hiroko. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...