Jumat, 25 Agustus 2017

PUISI ELEGI



Opera  luka untuknya
Mata-mata binar
Hingar bingar cahaya semu tersirat
Seolah ada hujan kembang api
Di malam dingin tak bertepi
Aku menerka...
Isyarat gegap gempita sang surya membawa petaka
Untukku...hanya untukku
Darinya yang melumpuhkan sendi hatiku
Hanya dengan satu kedipan mata, aku terjaga
 Dari mimpiku nan sempurna
Pandanglah  aku
Kesakitan dan meringkuk
Terpasung sedan tangis
Terpenjara bingkai sadis
Dan kau...tiada ada menjenguk luka
Sendiri aku tergolek
Membisu dalam kalbu
Hatiku hancur seperti debu


Haru nan Biru
Mata sayu hiaskan bulir air kesedihan
Gadis cantik duduk bersimpuh
Di depan tubuh kaku membiru
Mengharu biru

Seakan takjub....
Menggenggam tangan penuh tetesan air luka
Tiada percaya, relung hati terbujur kaku membatu haru

Saat itu langit abu-abu tak lagi biru
Saat itu nafas haru bersatu padu
Perempuan dan laki laki berjubah hitam
Menjejalkan doa penuh harapan

Kiamat kecil telah tiba
Mengiring jasad ke tempat semula
Seorang gadis terkulai menangis tanpa nada
Menjerit tanpa kuasa



Korban Perceraian
Kau anggap apa aku?
Kau suguhkan totonan menakutkan
   Kau saling caci,
     Kau saling maki,
       Kau saling tampar
          Lalu kau menghilang......
Kau anggap apa aku?
Kau jadikan istana sebagai zona perang
Butiran kenangan tersapu ombak keegoisan
menyayatkan trauma yang tak mampu ku bawa terbang
Kau anggap apa aku?
      Aku bukan peti
Yang bisa kau bawa kesana kemari
     Aku bukan benda mati
Yang tak punya hati
     Aku hanyalah sekuncup bunga
Yang ingin tumbuh bahagia
Bersama kedamaian keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...