Jumat, 25 Agustus 2017

Nilai Pendidikan Novel Atheis



Nilai Pendidikan Dalam Novel Atheis Karya Achdiat K. Mihardja

Pendidikan merupakan suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Setiap karya sastra selalu memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan cerminan pembaca untuk memaknai karya sastra. Di dalam nilai tersebut terdapat amanat yang disampaikan pengarang, agar pembaca memperoleh hikmah setelah membacanya. Karya sastra dapat dijadikan media pendidikan bagi para pembaca, karena di dalamnya terdapat nilai pendidikan yang bisa membuat pembaca merubah perilakunya.
Didalam novel Atheis menceritakan bahwa seorang Hasan yang dididik di lingkungan beragama islam dan tumbuh menjadi seorang yang alim dapat berubah menjadi seorang atheis. Kecintaanya terhadap seorang wanita atheis dan pengaruh dari temannya membuat imannya goyah sehingga dia mulai meninggalkan Tuhan. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut :
“Seperti lima-enam bulan yang lalu baku sangat rajin beribadat, melakukan sembahyang, puasa dan lain-lain, maka sekarang aku rajin membaca buku dan bertukar pikiran dengan Rusli atau kawan-kawan lain.”(Atheis:128)

Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa ketaatan atau kepercayaan seseorang yang kuat dapat berubah karena pengaruh dari lingkungan. Untuk itu, dalam memilih suatu kepercayaan diperlukan keyakinan dalam hati dan bersungguh-sungguh menahan diri dari godaan yang akan menjerumuskan dalam pilihan yang menyesatkan.
Orang yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan atau tidak menganut suatu agama, akan mempengaruhi kehidupannya. Orang yang beragama, hidupnya akan lebih tentram, bahagia, dan jauh dari pertengkaran. Hal itu dikarenakan kepercayaan bahwa tiap kesalahan yang diperbuat akan melahirkan dosa. Sehingga, mereka berusaha menjaukan diri dari perbuatan yang dilarang agam. Berbeda dengan atheis yang bertindak sesuka hati tanpa takut adanya dosa. Hal tersebut dialami oleh tokoh Hasan. Sebelum menjadi atheis, dia adalah orang yang sabar dan dapat mengontrol kemarahannya. Setiap tindakannya didasarkan ajaran agama. Namun setelah dirinya atheis, dia berubah menjadi kasar dan tidak suka menolong orang lain. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut :
“Dan kalau dulu aku sering memberi uang kepada fakir miskin, apalagi kalau hari jumat pulang dari masjid, maka sekarang aku tidak merasa segan-segan lagi mengusir orang-orang minta-minta.”(Atheis:128)

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa atheis membawa perubahan besar terhadap sikap orang yang dulunya beragama. Atheis memandang bersedekah itu suatu kesalahan yang harus ditinggalkan. Padahal dengan bersedekah kita bisa meringankan beban hidup orang yang kesusahan dan kita mendapat pahala dari perbuatan tersebut.
Selain hal-hal tersebut, sikap atheis melahirkan sifat yang arogan, kejam, tidak berperasaan dan mudah emosi. Sifat-sifat itu muncul dikarenakan tidak adanya pedoman yang mengatur tingkah laku manusia dalam bertindak seperti pada kitab-kitab suci orang yang beragama. Mereka hanya mengandalkan pikiran dan nafsunya tanpa menggunakan hati nurani.
“Tar! Tar! Ku tempeleng Kartini.
“Aduh!” pekiknya, sambil menutup pipinya yang kanan dengan tangannya. Kujambak rambutnya! Kurentakkan dia dengan sukuat tenaga, sehingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya berdentar kepada daun pintu. Menjerit-jerit minta ampun!(Atheis:173)

Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa tanpa adanya rasa takut terhadap Tuhan membuat orang bertindak sesuka hatinya hingga kehilangan kendali. Ketika Hasan percaya adanya Tuhan, dia sangat menjaga kelakuannya dan tidak berani bertindak sekejam itu.
Dari uraian-uraian tersebut, dapat diketahui bahwa novel Atheis memberikan pendidikan kepada pembaca agar meyakini suatu agama. Karena dengan adanya kapercayaan terhadap Tuhan, hidup kita akan lebih terarah. Atheis hanyalah sebuah tindakan yang akan merugikan kita dan meracuni pikiran kita dengan hal-hal negatif . Kita serta alam semesta ada karena ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, ajaran agama sangat penting untuk menuntun kita menuju kehidupan aman, tentram dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...