Secara Telmi Bikin Bete, Jaim Bikin Pede
Dewasa ini, banyak bahasa
Indonesia yang menyimpang dari kaidah sebenarnya. Penyimpangan tersebut
menyebar luas di kalangan masyarakat, terutama kalangan anak muda. Mereka
menganggap bahasa yang mereka plesetkan merupakan bahasa anak gaul atau biasa
disebut bahasa alay. Para anak muda yang memakai bahasa tersebut dapat
dikategorikan sebagai anak gaul dan tidak ketinggalan zaman. Mereka merasa
lebih hebat memakai bahasa tersebut. Jika ada teman yang tidak mengerti bahasa
itu, mereka menganggap temannya jadul atau cupu. Bahkan diolok-diolok oleh
mereka. Fenomena semacam itu sangat memprihatinkan. Karena rasa kecintaan anak
muda terhadap bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia mulai terkikis. Buktinya
mereka sangat bangga dengan bahasa ciptaan mereka yang dianggap bahasa gaul.
Bahasa gaul adalah sejumlah
kata atau istilah yang mempunyai arti yang khusus, unik, menyimpang atau bahkan
bertentangan dengan arti yang sebenarnya ketika digunakan oleh orang-orang dari
subkultur tertentu. Berikut ini saya akan membahas contoh-contoh bahasa gaul
yang sering digunakan di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Yang
pertama adalah penggunaan kata secara. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia,
secara memiliki empat definisi diantaranya: (1)’sebagai’ atau ’selaku’,
contohnya Kamu harus berpikir secara ilmuan; (2) ‘menurut’, dalam hal ini
berhubungan dengan adat dan kebiasaan, contohnya Perkawinan Dika akan
dilaksanakan secara adat di Minangkabau; (3) ‘dengan cara’, contohnya Persengketaan
tanah itu diselesaikan secara kekeluargaan;(4) ‘dengan’, contohnya Trias
mengerjakan soal matematika itu secara cepat. Di kalangan anak muda, penggunaan
kata secara telah mengalami pergeseran makna dari makna sesungguhnya. Misalnya
pada kalimat berikut, “Secara Rini cantik, nggak heranlah banyak cowok yang
ngejar-ngejar dia”. Dalam kalimat tersebut kata secara maknanya bergeser menjadi kan.
Lain halnya dengan kalimat berikut “Sasa dapat memenangkan lomba tari itu,
secara tariannya sangat bagus”. Dalam kalimat tersebut kata secara bukan berarti kan
melainkan karena. Dari kedua contoh
tersebut sangat jelas penggunaan kata secara menyimpang dari tata bahasa baku Indonesia.
Padahal kalimat tersebut sudah jelas maksudnya dan akan lebih efektif jika kata
secara dihilangkan.
Pergeseran kata secara muncul tiba-tiba di kalangan
masyarakat. Saya tidak mengetahui siapa yang pertama kali menciptakan dan sejak
kapan kata itu menjadi tergeser maknanya. Sekilas kata itu terkesan seperti
homonim. Jika kita cermati, kata secara bukan
termasuk golongan homonim. Memang benar tulisan dan pengucapannya sama,
sedangkan artinya berbeda. Namun menurut saya, kata secara merupakan kata yang
menyimpang dari kaidah bakunya. Kata tersebut hanya ada dalam kamus bahasa gaul
dan belum disahkan sebagai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lain halnya
dengan homonim, contohnya kata bisa
yang berarti racun ular dan bisa yang
berarti dapat. Kedua kata tersebut telah diakui oleh bangsa Indonesia
sebagai bahasa yang benar. Karena dari asal katanya, bisa yang berarti racun ular berasal dari bahasa melayu, sedangkan bisa yang berarti dapat berasal dari
bahasa Jawa. Dengan demikian, secara bukan tergolong homonim, namun tergolong
bahasa gaul yang menyimpang dari kaidah sebenarnya.
Ketika teman kita asyik
berbicara, kemudian kita tidak paham maksud dari ucapannya, mereka sering
berkata “Kamu memang telmi”. Kata telmi telah menyebar luas dikalangan
masyarakat. Mereka menganggap telmi merupakan bahasa gaul. Sebenarnya, telmi adalah singkatan dari telat mikir
atau bisa juga diartikan sebagai bodoh.
Berbeda dengan kata secara, telmi lebih aman digunakan dalam pembicaraan.
Walaupun kedua-duanya merupakan kata yang mengalami pergeseran makna, namun
telmi tidak mengalami penyimpangan makna dari kata sebenarnya. Telmi hanya
sebuah singkatan untuk mempermudah masyarakat dalam berbicara dan menghemat
waktu.
Penggunaan kata telmi mungkin
dirasa lebih baik dari pada kata bodoh.
Hal itu membuat telmi disamakan
dengan konotasi positif dari kata bodoh.
Namun sesungguhnya, telmi bukan
termasuk konotasi. Hal itu dikarenakan telmi
hanya sebuah singkatan dari telat mikir yang termasuk dalam bahasa gaul. Telmi bukan merupakan kata yang termasuk
dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan konotasi positif
merupakan makna tambahan yang berupa nilai rasa terhadap makna dasarnya dan
mengandung nilai rasa tinggi atau halus. Contohnya konotasi negatif gelandangan dan konotasi positifnya
adalah tuna karya. Jadi sangat jelas
bahwa telmi tidak termasuk dalam konotasi
positif, melainkan masuk ke dalam bahasa gaul.
Sama halnya dengan kata telmi, kata jaim juga merupakan sebuah singkatan dari jaga image. Kata itu
pertama kali muncul ketika seoarang pejabat pemerintahan sering berkata kepada
anak buahnya untuk jaga image di depan masyarakat. Kata itu dia singkat dengan
jaim. Sejak saat itu penggunaan kata jaim menyebar luas dikalangan masyarakat.
Kebanyakan orang di Indonesia
menyuruh orang lain untuk menjaga kelakuannya atau menjaga kewibawaannya dengan
menggunakan kata jaim. Mereka tidak
perlu mengatakan kalimat “Rio, jaga kelakuan
kamu!” tetapi hanya berkata “Jaim!” sudah cukup membuat orang yang disuruh
melaksanakan perintahnya.
Telmi dan Jaim merupakan
bahasa gaul yang disingkat. Penggunaan kedua kata itu memang menjadi trend di
masyarakat. Kata-kata itu lebih praktis diucapkan dari pada mengucapkan makna
aslinya. Selain itu dapat menghemat waktu bicara. Namun bukan berarti kita
dapat menggunakan kata-kata tersebut sesuai kemauan kita, kapanpun, dan
dimanapun. Walaupun lebih praktis, tetap saja kata-kata tersebut bukan termasuk
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata-kata tersebut hanya dapat diucapkan
disituasi non formal. Selain itu, kata-kata tersebut bisa dijadikan penambah
wawasan kosa kata bahasa gaul bagi kita.
Selain telmi dan jaim ada lagi
bahasa gaul yang berupa singkatan, yiatu BT.
Kita sering mendengar istilah BT
diucapkan oleh para pemain sinetron remaja di televisi. Hal itu memicu
remaja-remaja di Indonesia meniru ucapan tersebut. Mungkin kebanyakan orang
belum mengetahui arti dari BT yang
sebenarnya. Mereka hanya ikut-ikutan mengucapkan singkatan BT agar terkesan gaul. Sebenarnys, BT merupakan singkatan dari bahasa inggris boring time. Dalam bahasa Indonesia, boring time berarti membosankan.
Istilah BT juga merupakan istilah
yang sering digunakan masyarakat. Jika mereka sedang merasakan kebosanan dalam
suatu aktivitas, mereka sering berkata “Aku lagi BT sekarang.” Kebanyakan kata BT sering diucapkan oleh para remaja,
mengingat BT merupakan salah satu bahasa
gaul.
Sama halnya dengan BT, PD
juga merupakan bahasa gaul berupa singkatan. Namun penggunaan PD lebih luas dibandingkan BT. Jika BT kebanyakan digunakan para anak muda, PD digunakan seluruh kalangan. Baik anak-anak, remaja, dewasa,
bahkan orang tua. Hampir sebagian masyarakat Indonesia mengenal istilah
tersebut. PD merupakan singkatan dari
percaya diri. Asal katanya pun berasal dari bahasa Indonesia. Maka tidak heran banyak
orang yang menggunakan istilah tersebut untuk menyampaikan rasa percaya diri.
Berdasarkan asal katanya, BT memang merupakan singkatan dari
boring time. Istilah tersebut diambil dari huruf depan kata boring dan time,
sehingga terciptalah BT. Demikian
halnya dengan istilah PD, huruf P merupakan singkatan dari huruf pertama
kata percaya sedangkan huruf D
diambil dari singkatan kata diri. Kita sering melihat di media cetak ataupun
mading penulisan istilah BT ditulis
bete dan PD ditulis pede. Jika kedua
istilah tersebut merupakan singkatan, seharusnya penulisan yang benar adalah BT dan PD. Penulisan yang menggunakan huruf kecil disisipi huruf e seperti
contoh tersebut merupakan cara penulisan yang tidak tepat. Kemungkinan penulis
tersebut sengaja menuliskan seperti itu agar terkesan lebih gaul atau bisa jadi
penulis itu tidak tahu bahwa BT dan PD merupakan singkatan.
Semua istilah-istilah gaul di
atas menjadi bahasa komunikasi masyarakat Indonesia. Televisi sangat berperan
menyebarkan istilah-istilah tersebut kepada masyarakat. Kebanyakan masyarakat
terutama remaja mengenal istilah tersebut dari televisi, terutama dari tayangan
sinetron anak remaja. Hal itu memicu remaja di Indonesia
untuk mencontoh penggunaan kata tersebut di masyarakat, sehingga penggunaan
kata-kata itu menjadi trend di kalangan masyarakat Indonesia. Mereka sangat bangga disebut
anak gaul, bahkan lebih nyaman menggunakan pergeseran kata itu dari pada
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita boleh saja menjadi anak
gaul dan meniru istilah-istilah tersebut dalam berkomunikasi. Namun kita harus
tahu situasi dan kondisi dimana istilah-istilah tersebut dapat dipakai.
Istilah-istilah tersebut hanya dapat digunakan dalam situasi non formal seperti
berkomunikasi dengan teman sebaya. Ketika berada di situasi yang formal
hendaknya memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Istilah-istilah dalam
bahasa gaul tersebut juga tidak sopan jika dipakai berkomunikasi dengan orang
yang lebih tua.
Sebagai generasi penerus
bangsa, seharusnya kita dapat mencintai bahasa Indonesia dan melestarikannya.
Cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan
benar agar bahasa Indonesia terus berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan
dan teknologi. Meskipun banyak istilah-istilah gaul yang berkembang di
masyarakat, jangan sampai kita melupakan kaidah baku
bahasa Indonesia.
Kita harus melestarikan warisan bangsa berupa bahasa Indonesia. Jangan sampai
istilah-istilah gaul yang banyak menyebabkan pergeseran makna membuat kita lupa
arti yang sebenarnya dari istilah-istilah itu.
The Star Gold Coast to open casino-style sportsbook, online
BalasHapusThe Star 김제 출장안마 Gold Coast, Australia's first casino, will operate 전라북도 출장샵 on a 의왕 출장안마 five-star scale, 밀양 출장안마 delivering a range of betting and gaming opportunities to 구리 출장안마 its guests and leisure