Jumat, 25 Agustus 2017

PUISI ELEGI LEBARAN



Kemenangan Yang Pilu
Gemuruh takbir
memecah keheningan
Menuntun insan menggapai
Kemenangan

Haru pilu merekah dalam batinku
Menyibak kenangan fitri
    masa lalu
Kala peluk mengundang syahdu
Kala senyum terlantun merdu
Kala tangan tercium rindu
Kala bibir ini melukiskan kata maaf
    Untukmu....

Kakek....
Kau laksana lilin
   di hatiku
Bersinar menerangi lika-liku
   hidupku
Ribuan doa kau lantunkan untuk
   mawar kecilmu
Berjuta harapan terlukis indah
   di keabadianmu

Kakek...
Meski hanya bayangmu
yang menari dalam ingatan
Izinkanlah aku mengukir maaf
sedalam lautan
Karena ku tahu,
Terlalu pekat noda hitam yang ku goreskan
    di hatimu




Kembalikan Bulanku

Bulan suci laksana pelita
Penerang jiwa
Membangkitkan gairah takwa
Demi ridho  Sang Pencipta
Kini...
Bulan itu tlah berlalu
Setiap bulan yang kulalui
terasa hampa
Selalu sirna di depan mata
Tak ada rasa yang  mempesona
Mengukir keindahan di setiap asa
Rasa takut menghantui
Jalan hidupku
Mencekik setiap angan
di masa mendatang
Akankah aku bertemu
 denganmu lagi?
Akankah bibir ini mampu
Bertakbir kembali?
Hanya waktu yang menguak
tabir ini

Jika Waktu Terhenti

Tak ada tangis di setiap tawa
Tak ada sedih di setiap bahagia
Tak ada keabadian di setiap
Kehidupan
Tuhan....
Kau berikan aku
Bulan terindah
Kau beriku hadiah berlipat
di setiap amalan
Kau sejukkan jiwa ini
dalam lingkaran puasa
Air mata membanjiri pipiku
Sampai kapan waktu berjalan?
Dosa ini terlau berat kupikul
Rasa takut mencekik
dalam kegelapan
Kapankah waktuku terhenti?

Mohon Ampunan-Mu

Nikmat dunia
Tak senikmat akhirat
Tinta-tinta hitam
Begitu mudah tertorehkan
Kesadaran terselimuti
Keinginan semu
Akulah makhluk hina
Menumpuk dosa dengan tertawa
Menghianati-Mu
Di setiap langkah kehidupan
Tuhan....
Aku mohon ampunan
Di bulan suci
aku menangis
Mengharap pintu maaf dari-Mu



Pengemis di Idul Fitri

Tuhan...
Berjuta nikmat Kau berikan kepadaku
     Ku balas dengan maksiat
Berjuta cinta Kau berikan kepadaku
     Ku balas dengan dusta
Berjuta rahmat Kau berikan kepadaku
     Ku balas dengan dosa
Aku
Menangis
Merintih...
Memekik..
Memohon  ampunan-Mu...
Tuhan...
Di hari yang fitri
Aku mengemis kebaikanmu
Membukakan pintu maaf
    Untuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...