Tabir keikhlasan
Semilir
angin mengiringi
gema
yang mengalun
Bintang-bintang
tersenyum menyambutnya
Tibalah
pintu suci terbuka
Menuntut
tiap hati bercahaya
Daun-daun
kering berguguran
Pucuk-pucuk
hijau bersemi ria
Di balik
cermin itu
Tersingkaplah
tabir realita
Kedustaan
mewarnai ketulusan
Buah
kesabaran gagal tersemai
Hama
memakan puing-puing keimanan
Hanya
taubat pelebur segala dosa
Obat Luka Hati
Langit
semakin gelap
Segelap hatiku
Pisau
semakin tajam
Setajam lidahku
Aku
berjalan di dunia fana
Terjebak
kesenangan semu
dan
membutakan segala rasa
Beribu
duri ku tanam
di
hati mereka
Berjuta
caci lidah ini
menikam
mereka
Kini....
Hari
suci tiba di depan mata
Jabat
tangan penawar duka
Segala
luka terhapus oleh cinta
Cahaya hidupku
Indahnya
pelangi
Tak
seindah berbagi di hari suci
Terangnya
bulan
Tak
seterang hati yang beriman
Merdunya
seruling
Tak
semerdu dzikir yang terlantun
Kau
laksana embun
menyejukkan
segala keruh di hatiku
Kau
rangkul aku
dari
hitamnya dunia
Kau
ajari aku
mengenal
indahnya cinta
Gelap Dunia Kemilau Surga
Aku
berjalan
Mewarnai
hitam putihnya
Panggung
sandiwara
Kuikuti
lorong gelap
Hingga
kutemukan sinarnya
Sang
Sutradara
Sebulan,
jiwa ini diterangi puasa
Diiringi
tadarus sebagai pematri jiwa
Ombak
kesabaran telah menghapus
virus-virus dunia
Kesucian
mengantarkanku
pada
gerbang istana fana
Liku....
Kelok...
Kulalui
demi menggenggam
Istana
abadi
Terhimpit kegelapan
Sadarkah
Kau?
Kau
hanyalah boneka dunia
Terombang-ambing
dalam
Lautan
setan
Tak tau
arah
Tak tau
tujuan
Saat mata
terpejam
Saat
waktu terhenti
Tiada
penolong
Kecuali
iman
Wahai
para pemburu pendosa...
Ingatlah
waktumu
Harumkanlah
hidupmu dengan puasa
Lantunkan
dzikir sebagai penghias pilu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar