Jumat, 25 Agustus 2017

PUISI EPIGRAM LEBARAN



Tabir keikhlasan
Semilir angin mengiringi
gema yang mengalun
Bintang-bintang tersenyum menyambutnya
Tibalah pintu suci terbuka
Menuntut tiap hati bercahaya
Daun-daun kering berguguran
Pucuk-pucuk hijau bersemi ria
Di balik cermin itu
Tersingkaplah tabir realita
Kedustaan mewarnai ketulusan
Buah kesabaran gagal tersemai
Hama memakan puing-puing keimanan
Hanya taubat pelebur segala dosa

Obat Luka Hati
Langit semakin gelap
Segelap hatiku
Pisau semakin tajam
Setajam lidahku
Aku berjalan di dunia fana
Terjebak kesenangan semu
dan membutakan segala rasa
Beribu duri ku tanam
di hati mereka
Berjuta caci lidah ini
menikam mereka
Kini....
Hari suci tiba di depan mata
Jabat tangan penawar duka
Segala luka terhapus oleh cinta


Cahaya hidupku
Indahnya pelangi
Tak seindah berbagi di hari suci
Terangnya bulan
Tak seterang hati yang beriman
Merdunya seruling
Tak semerdu dzikir yang  terlantun
Kau laksana embun
menyejukkan segala keruh di hatiku
Kau rangkul aku
dari hitamnya dunia
Kau ajari aku
mengenal indahnya cinta




Gelap Dunia Kemilau Surga
Aku berjalan
Mewarnai hitam putihnya
Panggung sandiwara
Kuikuti lorong gelap
Hingga kutemukan sinarnya
Sang Sutradara
Sebulan,
 jiwa ini diterangi puasa
Diiringi tadarus sebagai pematri jiwa
Ombak kesabaran telah menghapus
 virus-virus dunia
Kesucian mengantarkanku
pada gerbang istana fana
Liku....
Kelok...
Kulalui demi menggenggam
Istana abadi


Terhimpit kegelapan
Sadarkah Kau?
Kau hanyalah boneka dunia
Terombang-ambing dalam
Lautan setan
Tak tau arah
Tak tau tujuan
Saat mata terpejam
Saat waktu terhenti
Tiada penolong
Kecuali iman
Wahai para pemburu pendosa...
Ingatlah waktumu
Harumkanlah hidupmu dengan puasa
Lantunkan dzikir sebagai penghias pilu







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...