Jumat, 25 Agustus 2017

Semantik dalam secara,telmi,bete,jaim,dan PD



Secara Telmi Bikin Bete, Jaim Bikin Pede

Dewasa ini, banyak bahasa Indonesia yang menyimpang dari kaidah sebenarnya. Penyimpangan tersebut menyebar luas di kalangan masyarakat, terutama kalangan anak muda. Mereka menganggap bahasa yang mereka plesetkan merupakan bahasa anak gaul atau biasa disebut bahasa alay. Para anak muda yang memakai bahasa tersebut dapat dikategorikan sebagai anak gaul dan tidak ketinggalan zaman. Mereka merasa lebih hebat memakai bahasa tersebut. Jika ada teman yang tidak mengerti bahasa itu, mereka menganggap temannya jadul atau cupu. Bahkan diolok-diolok oleh mereka. Fenomena semacam itu sangat memprihatinkan. Karena rasa kecintaan anak muda terhadap bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia mulai terkikis. Buktinya mereka sangat bangga dengan bahasa ciptaan mereka yang dianggap bahasa gaul.
Bahasa gaul adalah sejumlah kata atau istilah yang mempunyai arti yang khusus, unik, menyimpang atau bahkan bertentangan dengan arti yang sebenarnya ketika digunakan oleh orang-orang dari subkultur tertentu. Berikut ini saya akan membahas contoh-contoh bahasa gaul yang sering digunakan di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Yang pertama adalah penggunaan kata secara. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, secara memiliki empat definisi diantaranya: (1)’sebagai’ atau ’selaku’, contohnya Kamu harus berpikir secara ilmuan; (2) ‘menurut’, dalam hal ini berhubungan dengan adat dan kebiasaan, contohnya Perkawinan Dika akan dilaksanakan secara adat di Minangkabau; (3) ‘dengan cara’, contohnya Persengketaan tanah itu diselesaikan secara kekeluargaan;(4) ‘dengan’, contohnya Trias mengerjakan soal matematika itu secara cepat. Di kalangan anak muda, penggunaan kata secara telah mengalami pergeseran makna dari makna sesungguhnya. Misalnya pada kalimat berikut, “Secara Rini cantik, nggak heranlah banyak cowok yang ngejar-ngejar dia”. Dalam kalimat tersebut kata secara maknanya bergeser menjadi kan. Lain halnya dengan kalimat berikut “Sasa dapat memenangkan lomba tari itu, secara tariannya sangat bagus”. Dalam kalimat tersebut kata secara bukan berarti kan melainkan karena. Dari kedua contoh tersebut sangat jelas penggunaan kata secara menyimpang dari tata bahasa baku Indonesia. Padahal kalimat tersebut sudah jelas maksudnya dan akan lebih efektif jika kata secara dihilangkan.
Pergeseran kata secara muncul tiba-tiba di kalangan masyarakat. Saya tidak mengetahui siapa yang pertama kali menciptakan dan sejak kapan kata itu menjadi tergeser maknanya. Sekilas kata itu terkesan seperti homonim. Jika kita cermati, kata secara bukan  termasuk golongan homonim. Memang benar tulisan dan pengucapannya sama, sedangkan artinya berbeda. Namun menurut saya, kata secara merupakan kata yang menyimpang dari kaidah bakunya. Kata tersebut hanya ada dalam kamus bahasa gaul dan belum disahkan sebagai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lain halnya dengan homonim, contohnya kata bisa yang berarti racun ular dan bisa yang berarti dapat. Kedua kata tersebut telah diakui oleh bangsa Indonesia sebagai bahasa yang benar. Karena dari asal katanya, bisa yang berarti racun ular berasal dari bahasa melayu, sedangkan bisa yang berarti dapat berasal dari bahasa Jawa. Dengan demikian, secara bukan tergolong homonim, namun tergolong bahasa gaul yang menyimpang dari kaidah sebenarnya.
Ketika teman kita asyik berbicara, kemudian kita tidak paham maksud dari ucapannya, mereka sering berkata “Kamu memang telmi”. Kata telmi telah menyebar luas dikalangan masyarakat. Mereka menganggap telmi merupakan bahasa gaul. Sebenarnya, telmi adalah singkatan dari telat mikir atau bisa juga diartikan sebagai bodoh. Berbeda dengan kata secara, telmi lebih aman digunakan dalam pembicaraan. Walaupun kedua-duanya merupakan kata yang mengalami pergeseran makna, namun telmi tidak mengalami penyimpangan makna dari kata sebenarnya. Telmi hanya sebuah singkatan untuk mempermudah masyarakat dalam berbicara dan menghemat waktu.
Penggunaan kata telmi mungkin dirasa lebih baik dari pada kata bodoh. Hal itu membuat telmi disamakan dengan konotasi positif dari kata bodoh. Namun sesungguhnya, telmi bukan termasuk konotasi. Hal itu dikarenakan telmi hanya sebuah singkatan dari telat mikir yang termasuk dalam bahasa gaul. Telmi bukan merupakan kata yang termasuk dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan konotasi positif merupakan makna tambahan yang berupa nilai rasa terhadap makna dasarnya dan mengandung nilai rasa tinggi atau halus. Contohnya konotasi negatif gelandangan dan konotasi positifnya adalah tuna karya. Jadi sangat jelas bahwa telmi tidak termasuk dalam konotasi positif, melainkan masuk ke dalam bahasa gaul.
Sama halnya dengan kata telmi, kata jaim juga merupakan sebuah singkatan dari jaga image. Kata itu pertama kali muncul ketika seoarang pejabat pemerintahan sering berkata kepada anak buahnya untuk jaga image di depan masyarakat. Kata itu dia singkat dengan jaim. Sejak saat itu penggunaan kata jaim menyebar luas dikalangan masyarakat. Kebanyakan orang di Indonesia menyuruh orang lain untuk menjaga kelakuannya atau menjaga kewibawaannya dengan menggunakan kata jaim. Mereka tidak perlu mengatakan kalimat “Rio, jaga kelakuan kamu!” tetapi hanya berkata “Jaim!” sudah cukup membuat orang yang disuruh melaksanakan perintahnya.
Telmi dan Jaim merupakan bahasa gaul yang disingkat. Penggunaan kedua kata itu memang menjadi trend di masyarakat. Kata-kata itu lebih praktis diucapkan dari pada mengucapkan makna aslinya. Selain itu dapat menghemat waktu bicara. Namun bukan berarti kita dapat menggunakan kata-kata tersebut sesuai kemauan kita, kapanpun, dan dimanapun. Walaupun lebih praktis, tetap saja kata-kata tersebut bukan termasuk bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata-kata tersebut hanya dapat diucapkan disituasi non formal. Selain itu, kata-kata tersebut bisa dijadikan penambah wawasan kosa kata bahasa gaul bagi kita.
Selain telmi dan jaim ada lagi bahasa gaul yang berupa singkatan, yiatu BT. Kita sering mendengar istilah BT diucapkan oleh para pemain sinetron remaja di televisi. Hal itu memicu remaja-remaja di Indonesia meniru ucapan tersebut. Mungkin kebanyakan orang belum mengetahui arti dari BT yang sebenarnya. Mereka hanya ikut-ikutan mengucapkan singkatan BT agar terkesan gaul. Sebenarnys, BT merupakan singkatan dari bahasa inggris boring time. Dalam bahasa Indonesia, boring time berarti membosankan. Istilah BT juga merupakan istilah yang sering digunakan masyarakat. Jika mereka sedang merasakan kebosanan dalam suatu aktivitas, mereka sering berkata “Aku lagi BT sekarang.” Kebanyakan kata BT sering diucapkan oleh para remaja, mengingat BT merupakan salah satu bahasa gaul.
Sama halnya dengan BT, PD juga merupakan bahasa gaul berupa singkatan. Namun penggunaan PD lebih luas dibandingkan BT. Jika BT kebanyakan digunakan para anak muda, PD digunakan seluruh kalangan. Baik anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Hampir sebagian masyarakat Indonesia mengenal istilah tersebut. PD merupakan singkatan dari percaya diri. Asal katanya pun berasal dari bahasa Indonesia. Maka tidak heran banyak orang yang menggunakan istilah tersebut untuk menyampaikan rasa percaya diri.
Berdasarkan asal katanya, BT memang merupakan singkatan dari boring time. Istilah tersebut diambil dari huruf depan kata boring dan time, sehingga terciptalah BT. Demikian halnya dengan istilah PD, huruf P merupakan singkatan dari huruf pertama kata percaya sedangkan huruf D diambil dari singkatan kata diri. Kita sering melihat di media cetak ataupun mading penulisan istilah BT ditulis bete dan PD ditulis pede. Jika kedua istilah tersebut merupakan singkatan, seharusnya penulisan yang benar adalah BT dan PD. Penulisan yang menggunakan huruf kecil disisipi huruf e seperti contoh tersebut merupakan cara penulisan yang tidak tepat. Kemungkinan penulis tersebut sengaja menuliskan seperti itu agar terkesan lebih gaul atau bisa jadi penulis itu tidak tahu bahwa BT dan PD merupakan singkatan.
Semua istilah-istilah gaul di atas menjadi bahasa komunikasi masyarakat Indonesia. Televisi sangat berperan menyebarkan istilah-istilah tersebut kepada masyarakat. Kebanyakan masyarakat terutama remaja mengenal istilah tersebut dari televisi, terutama dari tayangan sinetron anak remaja. Hal itu memicu remaja di Indonesia untuk mencontoh penggunaan kata tersebut di masyarakat, sehingga penggunaan kata-kata itu menjadi trend di kalangan masyarakat Indonesia. Mereka sangat bangga disebut anak gaul, bahkan lebih nyaman menggunakan pergeseran kata itu dari pada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita boleh saja menjadi anak gaul dan meniru istilah-istilah tersebut dalam berkomunikasi. Namun kita harus tahu situasi dan kondisi dimana istilah-istilah tersebut dapat dipakai. Istilah-istilah tersebut hanya dapat digunakan dalam situasi non formal seperti berkomunikasi dengan teman sebaya. Ketika berada di situasi yang formal hendaknya memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Istilah-istilah dalam bahasa gaul tersebut juga tidak sopan jika dipakai berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
Sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya kita dapat mencintai bahasa Indonesia dan melestarikannya. Cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar bahasa Indonesia terus berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun banyak istilah-istilah gaul yang berkembang di masyarakat, jangan sampai kita melupakan kaidah baku bahasa Indonesia. Kita harus melestarikan warisan bangsa berupa bahasa Indonesia. Jangan sampai istilah-istilah gaul yang banyak menyebabkan pergeseran makna membuat kita lupa arti yang sebenarnya dari istilah-istilah itu.  

1 komentar:

  1. The Star Gold Coast to open casino-style sportsbook, online
    The Star 김제 출장안마 Gold Coast, Australia's first casino, will operate 전라북도 출장샵 on a 의왕 출장안마 five-star scale, 밀양 출장안마 delivering a range of betting and gaming opportunities to 구리 출장안마 its guests and leisure

    BalasHapus

KRITIK DRAMA

Pencarian Jati Diri Sang Tokoh dalam drama Wanita yang Diselamatkan Karya Arthur S.Nalan : Suatu Pendekatan Objektif Drama “Wanita y...